story 3 · episode 1
Suara dari Jok Belakang
04 menit membaca

Sepuluh menit pertama setelah papan nama Kalipandan, jalan itu masih bersahabat.
Tanahnya padat, bukan lumpur. Pohon-pohon karet berdiri di kanan dan kiri dengan jarak yang teratur, dan di antara batang-batangnya, hujan tinggal gerimis yang malas. Raka bisa mendengar suara ban motornya sendiri lagi. Suara mesin. Suara napasnya.
Ia menarik napas panjang dan mencoba tersenyum.
"Mbak, rumahnya di Kalipandan bagian mana? Dekat pasar, atau lebih ke arah utara?"
Tidak ada jawaban.
"Kalau lewat pasar, jalannya lebih bagus. Tapi muternya jauh. Saya ikut GPS aja ya."
Hening.
"Mbak?"
Yang menjawab hanya gerimis di dedaunan. Raka menoleh ke spion.
Perempuan itu masih di sana. Duduk tegak. Tangan terlipat di pangkuan. Baju putihnya bersih, bahkan di jalan tanah yang basah ini, dan itu membuat sesuatu di dalam dada Raka mengetat pelan.
Ia mengalihkan pandangan ke depan.
"Ya sudah, kalau capek, tidur aja," katanya, lebih untuk dirinya sendiri daripada untuk penumpangnya. "Nanti saya bangunin kalau sudah sampai."
Sepuluh menit berikutnya, jalan itu mulai menanjak. Perlahan. Hampir tidak terasa. Tapi Raka merasakannya di lutut, di pergelangan tangan, di cara mesin motornya bekerja lebih keras dari seharusnya.
Ia mencoba bicara lagi. Soal tarif. Soal cuaca. Soal aplikasi yang error.
Sepatah pun tidak dibalas.
Lalu, tepat ketika Raka mulai terbiasa dengan sunyi itu, sesuatu bicara.
"Jangan lewat jembatan itu."
Suaranya datang dari dalam helmnya.
Bukan dari jok belakang. Bukan dari luar. Dari dalam helm yang menempel di kepalanya sendiri, seperti ada orang lain yang ikut memakai helm itu, menempelkan mulutnya ke telinganya, dan berbisik tepat di gendang telinganya.
Raka mengerem.
Motor itu berhenti di tengah jalan tanah, rodanya masih berputar pelan, dan hujan menetes dari ujung helmnya satu per satu.
Ia menoleh ke spion.
Perempuan itu masih duduk di posisi yang sama.
Tapi kali ini kepalanya tertunduk.
Bukan menatapnya. Bukan menatap ke depan. Tertunduk, seperti orang yang sedang berdoa, atau seperti orang yang sedang menahan sesuatu di dalam tenggorokannya. Rambut panjangnya jatuh menutupi wajahnya sepenuhnya. Kedua tangannya masih terlipat rapi di pangkuan.
Tidak bergerak.
Raka menelan ludah. Tenggorokannya kering seperti kertas.
"Mbak tadi ngomong apa?"
Tidak ada jawaban.
"Mbak. Saya dengar sesuatu. Tadi."
Hening.
Hanya gerimis. Hanya mesin. Hanya jantung Raka yang berdebar terlalu keras di dalam dadanya.
Ia menunggu. Satu detik. Dua detik. Lima detik.
Tidak ada apa-apa.
Raka menghela napas. Mungkin memang angin. Mungkin memang dirinya yang terlalu lelah. Delapan jam di jalan, kopi yang salah, dan malam yang terlalu panjang — otak bisa mengarang apa saja.
Ia memutar gas pelan.
Dan suara itu kembali.
Kali ini bukan dari dalam helm.
Kali ini tepat di samping telinganya.
Dekat. Sangat dekat. Seperti ada seseorang yang berjalan di samping motornya, menempelkan wajahnya ke pipi Raka, dan berbisik dengan napas yang dingin dan basah.
"Mas... jangan lewat jembatan itu. Aku mati di sana."
Setang motor itu bergetar di tangan Raka. Bukan karena jalan. Karena tangannya sendiri.
Ia menoleh ke kiri.
Kosong.
Hanya pohon karet. Hanya batang-batang putih yang berdiri seperti barisan orang yang menunduk, hujan menetes dari daun-daunnya seperti jari-jari yang menunjuk ke bawah.
Ia menoleh ke kanan.
Kosong juga.
Ia menoleh ke spion.
Perempuan itu masih di sana. Masih tertunduk. Masih terlipat. Tapi sekarang, di bawah ujung gaun putihnya yang tadi kecokelatan, ada sesuatu yang menetes.
Air. Atau bukan air.
Menetes pelan ke tanah, satu, dua, tiga kali, membentuk bercak gelap di jalan yang sudah basah.
Raka mengalihkan pandangan ke depan.
Dan di kejauhan, di antara pohon-pohon karet yang mulai menipis, ia melihatnya.
Sebuah jembatan.
Bukan jembatan yang tadi mereka lewati. Yang tadi sudah jauh di belakang, sudah ditelan kabut, sudah tidak mungkin kembali. Ini jembatan lain. Atau jembatan yang sama.
Ia tidak tahu. Ia tidak ingin tahu.
Yang ia tahu, jembatan itu tidak ada di GPS-nya.
Layar ponsel di dashboard masih menyala. Peta masih terbuka. Tapi rutenya hilang. Jalan di depannya kosong, putih, seperti kertas yang belum ditulisi. Hanya satu titik biru yang berdenyut di tengahnya — titik yang menandai posisinya — dan di atas titik itu, sebuah tulisan kecil muncul, huruf demi huruf, seperti ada yang mengetiknya dari dalam.
Jangan lewat.
Raka menggenggam setang sampai buku-buku jarinya memutih.
Di belakangnya, perempuan itu akhirnya mengangkat kepalanya.
Pelan. Sangat pelan.
Dan lewat pantulan kaca spion, Raka melihat matanya — mata yang tadi tenang, mata yang tadi ramah, sekarang terbuka lebar, putih, dan tidak berkedip.
"Mas," katanya.
Suaranya tidak lagi datar. Suaranya bergetar.
"Kalau Mas lewat jembatan itu, Mas akan lihat apa yang saya lihat."
Ia berhenti. Menelan. Dan bisikan terakhirnya keluar seperti napas terakhir seseorang yang sudah lama mati.
"Tolong. Jangan."
Jam digital di dashboard motornya berkedip.
00.17.
Masih 00.17.
Dan di depan sana, di ujung jalan tanah yang basah, jembatan itu menunggu — dengan pagar besi berkarat, beton yang retak, dan sesuatu yang berdiri di tengahnya, tidak bergerak, menghadap ke arah mereka.