TAGAR MISTERI

jangan dibaca sendirian

story 2 · episode 1

Perempuan yang Tidak Kehujanan

05 menit membaca

Perempuan yang Tidak Kehujanan

Hujan turun lagi.

Bukan gerimis. Bukan rintik pelan yang menyentuh aspal seperti kapas. Hujan yang turun tiba-tiba, deras, seperti tumpahan dari langit yang pecah. Raka merasakan air menembus jaketnya dalam hitungan detik, menetes dari ujung helm, membasahi sarung tangannya.

Dan perempuan di jok belakang tetap kering.

Ia tidak bergerak. Tidak merapatkan tubuh. Tidak menunduk. Tidak mengangkat tangan untuk melindungi wajahnya. Ia hanya duduk di sana, tegak, sementara hujan menyapu mereka seperti sapu raksasa yang tidak menyentuhnya sama sekali.

Raka menoleh ke spion.

Baju putihnya. Utuh. Tidak ada satu pun titik air. Rambutnya panjang, terurai di punggung, dan setiap helainya jatuh sempurna, tidak lengket, tidak basah, tidak menempel di kulit.

Tapi ada yang aneh.

Ujung gaunnya.

Putih itu tidak sepenuhnya putih lagi. Di bagian bawah, tepat di atas mata kaki, ada warna kecokelatan. Samar. Seperti kain yang pernah terseret di tanah basah, lalu mengering. Atau seperti sesuatu yang pernah merembes dari bawah, naik pelan-pelan, dan berhenti sebelum sampai ke lutut.

Raka mengalihkan pandangan.

Jalan di depannya gelap. Lampu motor hanya menjangkau beberapa meter, dan sisanya adalah dinding hujan yang bergerak.

Di belakangnya, suara itu lagi.

Bisikan.

Pelan. Terlalu pelan. Seperti napas yang dibentuk menjadi kata, tapi tidak cukup untuk didengar.

Raka menegakkan punggung. Jari-jarinya mengetat di setang.

"Mbak?"

Tidak ada jawaban.

Di spion, perempuan itu masih di posisi yang sama. Tangan terlipat. Mulut tertutup. Mata menatap lurus — ke arah Raka, ke arah punggung kepalanya, ke arah sesuatu yang tidak bisa ia lihat.

Raka menggigit bibir dalam-dalam.

Ia sudah pernah mendengar cerita. Dari sesama pengemudi, dari grup chat yang selalu ramai tengah malam. Tentang penumpang yang tidak boleh ditanya. Tentang perjalanan yang tidak boleh dihentikan. Tentang perempuan berbaju putih yang muncul di halte-halte tua, di tikungan-tikungan sepi, di jembatan yang tidak ada di peta.

Dulu ia tertawa. Sekarang ia menggenggam setang seperti menggenggam nyawanya sendiri.

* * *

Jalan berbelok. Raka mengikuti peta yang terus berubah, mengikuti rute yang tidak ia kenal, melewati pohon-pohon yang berdiri terlalu rapat, melewati rumah-rumah yang gelap tanpa satu pun lampu menyala.

Lalu ia melihatnya.

Sebuah jembatan.

Bukan jembatan besar. Hanya jembatan beton sempit, selebar satu motor, dengan pagar besi berkarat di kedua sisinya. Di bawahnya, sungai yang tidak terlihat. Hanya suara air yang mengalir, tapi terlalu dalam, terlalu gelap, seperti mulut yang terbuka lebar dan menunggu.

Raka memperlambat motornya.

Di GPS, tidak ada jembatan. Peta itu menunjukkan jalan lurus, tanpa belokan, tanpa persimpangan. Tapi di depannya, jembatan itu nyata. Betonnya retak. Pagarnya miring. Dan di ujung sana, jalan itu menghilang ke dalam kabut yang tidak seharusnya ada di malam yang basah ini.

Perempuan di belakangnya bergerak.

Untuk pertama kalinya, ia bergerak.

Raka merasakannya — bukan dari suara, bukan dari goyangan, tapi dari sesuatu yang merayap di tengkuknya, dingin, seperti jari yang belum menyentuh tapi sudah terasa.

"Lurus terus," katanya.

Suaranya pelan. Datar. Tidak ada desakan, tidak ada ketakutan. Hanya perintah yang sudah pasti.

"Jangan berhenti di jembatan."

Raka menelan ludah. Tenggorokannya kering. Ia ingin bertanya, kenapa? Kenapa tidak boleh berhenti? Apa yang ada di jembatan itu? Tapi kata-kata itu tidak keluar. Mati di pangkal lidah, seperti serangga yang terjepit di kerongkongan.

Ia memutar gas. Motor itu melaju pelan, memasuki jembatan.

Beton di bawahnya bergetar. Tidak seperti beton yang menahan beban. Lebih seperti sesuatu yang bergerak di dalamnya, menggeliat, bangun dari tidur panjang.

Raka menahan napas.

Di tengah jembatan, ia melihat sesuatu di pagar besi.

Sebuah helm.

Helm ojek. Warna hijau pudar, dengan logo aplikasi yang sudah luntur. Tergantung di pagar berkarat, tali pengikatnya terurai seperti lidah yang menjulur.

Raka tidak berhenti.

Ia terus melaju. Melewati helm itu. Melewati jembatan. Sampai roda motornya kembali menyentuh aspal, dan kabut di depannya menelan mereka seperti tirai yang jatuh.

Di belakangnya, perempuan itu menghela napas.

Pelan. Puas. Seperti seseorang yang baru saja melewati ujian.

"Bagus," bisiknya. Hampir tidak terdengar. "Kamu tidak berhenti."

* * *

Jalan setelah jembatan tidak seperti jalan.

Raka tidak ingat kapan terakhir kali ia melihat pohon di kanan dan kiri. Tidak ingat kapan rumah-rumah itu hilang. Tidak ingat kapan suara mesin motornya mulai terdengar aneh — lebih pelan, lebih dalam, seperti mengaum dari dalam gua.

Yang ia ingat hanya hujan. Dan perempuan di belakangnya.

Lalu ia melihat papan nama desa.

Kayu. Lapuk. Tulisan putih yang sudah memudar.

DESA KALIPANDAN.

Raka mengerutkan dahi.

Kalipandan?

Ia menoleh ke GPS. Peta itu masih menunjuk ke Sumbergeni. Jarum penunjuk arah masih berputar pelan, mencari sinyal yang tidak pernah datang. Tapi papan nama di depannya jelas. Kalipandan. Bukan Sumbergeni.

Ia memperlambat motor. Menoleh ke spion.

Perempuan itu menatapnya. Kali ini bukan ke punggung kepalanya. Kali ini ke matanya. Lewat pantulan kaca spion, mata itu bertemu matanya, dan Raka merasakan sesuatu yang dingin merayap dari ujung jari kakinya, naik ke betis, ke paha, ke perut.

"Ke Desa Kalipandan, Mas," katanya pelan.

Suaranya berbeda. Lebih jelas. Lebih dekat. Seperti ia berbicara tepat di telinga Raka, bukan dari jok belakang.

Raka membuka mulut.

"Tapi di aplikasi—"

"Ke Desa Kalipandan," ulangnya. Tidak keras. Tidak marah. Hanya lebih pasti.

Raka menelan ludah. Ia tahu desa itu. Semua pengemudi tahu. Kalipandan adalah nama yang selalu disebut dengan suara pelan di grup-grup malam. Desa yang jaraknya jauh. Desa yang jalannya melewati kawasan yang sudah lama dihindari — hutan karet yang tidak pernah tidur, jalan tanah yang tidak pernah kering, dan sebuah tikungan yang katanya tidak boleh dilewati setelah tengah malam.

Tapi ia sudah di sini. Sudah terlalu jauh untuk berbalik. Sudah terlalu dalam untuk menolak.

Ia mengangguk.

Motor itu melaju lagi, melewati papan nama lapuk, memasuki jalan tanah yang basah, dan di belakangnya, perempuan berbaju putih itu kembali diam.

Tapi sebelum diam, ia bertanya.

Satu pertanyaan. Pelan. Hampir seperti bisikan yang tidak sengaja terdengar.

"Mas yakin masih bisa pulang setelah mengantar saya?"

Raka tidak menjawab.

Jam digital di dashboard motornya berkedip.

00.17.

Masih 00.17.

Dan jauh di depan, di antara pohon-pohon karet yang berdiri seperti barisan orang yang menunduk, sesuatu menunggu.

kembali ke daftar story episode 1