story 4 · episode 1
Jembatan yang Tidak Ada di GPS
07 menit membaca

GPS itu berbicara lagi.
Bukan dengan suara — Raka sudah mematikan panduan suaranya sejak lama — tapi dengan panah biru yang berputar di layar. Panah itu menunjuk ke kanan. Ke sebuah jalan sempit yang bahkan tidak terlihat dari tempat Raka berhenti.
Jalan itu tidak ada di peta yang ia hafal. Bukan jalan tanah. Bukan jalan aspal. Hanya celah di antara dua batang karet, selebar satu bahu, dengan rumput yang tumbuh liar di tepinya.
"Ini bukan jalannya," gumam Raka.
Layar itu berkedip.
Panah biru itu tetap menunjuk ke kanan. Tidak bergerak. Tidak berubah. Seperti jari yang menunjuk tanpa sabar.
Raka menoleh ke spion.
Perempuan itu masih di jok belakang. Masih tertunduk. Rambutnya masih menutupi wajahnya. Tapi air yang menetes dari ujung gaunnya sudah berhenti.
Ia menunggu.
Tidak ada jawaban.
Tidak ada perintah. Tidak ada bisikan. Tidak ada apa pun.
Raka menghela napas panjang. Ia sudah terlalu jauh untuk tersesat. Ia sudah terlalu dalam untuk berbalik. Dan di depan sana, jembatan tua itu masih berdiri — beton retak, pagar berkarat, dan sesuatu yang tadi berdiri di tengahnya kini sudah tidak terlihat.
Mungkin jalan sempit itu memang jalan pintas. Mungkin GPS ini tahu sesuatu yang tidak ia tahu.
Ia memutar gas.
Motor itu menyusup ke celah di antara pohon-pohon karet, dan jalan sempit itu menelannya seperti mulut yang menutup rapat.
* * *
Jalan itu bukan jalan.
Ia hanya tanah yang dipadatkan oleh sesuatu yang lewat berulang kali, bertahun-tahun lalu, dan sejak itu tidak pernah disentuh lagi. Rumput tumbuh di tengahnya. Akar-akar melintang. Cabang-cabang rendah menyapu helm Raka seperti jari-jari yang ingin menahan.
Lampu motor hanya menjangkau tiga meter. Sisanya gelap.
Dan di ujung jalan itu, jembatan tua itu muncul lagi.
Jembatan yang sama.
Beton retak. Pagar besi berkarat. Atap yang miring. Persis seperti yang tadi ia lihat dari kejauhan, persis seperti yang perempuan itu larang untuk dilewati. Tapi sekarang ia berdiri tepat di depannya, dan tidak ada jalan lain. Jalan sempit ini berakhir di sini. Di mulut jembatan.
Raka mengerem.
Motor itu berhenti.
Di bawahnya, suara air mengalir. Dalam. Gelap. Seperti napas yang tidak pernah berhenti.
Ia menatap jembatan itu lama. Pagarnya miring ke kanan. Betonnya retak membentuk garis-garis yang menyerupai tulang. Dan di tengah jembatan, tidak ada apa-apa. Tidak ada sosok. Tidak ada helm. Hanya kabut tipis yang bergerak pelan, seperti asap dari sesuatu yang baru saja padam.
Raka membuka ponselnya.
"Cari jalur lain," katanya pada layar.
Ia menekan tombol rute alternatif. Layar itu berputar. Berputar. Berputar.
Lalu berhenti.
Tidak ada jalur alternatif.
Hanya satu rute. Satu arah. Lurus melewati jembatan.
Raka menggigit bibir. Ia menoleh ke spion, hendak bertanya — untuk pertama kalinya, benar-benar bertanya — apakah perempuan itu masih ingin ke Kalipandan, apakah ada jalan lain, apakah ia boleh berbalik.
Tapi sebelum kata pertama keluar dari mulutnya, perempuan itu mengangkat kepala.
Pelan. Sangat pelan. Rambutnya terbelah, jatuh ke kanan dan kiri, dan wajahnya muncul dari baliknya — pucat, tenang, mata yang tidak lagi terbuka lebar, tapi menatap lurus ke arah Raka lewat kaca spion.
"Sebentar lagi," katanya.
Suaranya pelan. Datar. Tapi ada sesuatu di dalamnya yang membuat bulu tengkuk Raka berdiri.
"Ada mobil hitam lewat."
Raka mengerutkan dahi.
"Mobil?"
"Jangan lihat pengemudinya."
Hening.
Raka menoleh ke depan. Jembatan itu kosong. Jalan di seberangnya kosong. Tidak ada lampu. Tidak ada suara mesin. Tidak ada apa pun selain kabut yang bergerak pelan di antara pagar-pagar berkarat.
Lalu ia melihatnya.
Dari kejauhan — dari arah seberang jembatan, dari dalam kabut yang tidak seharusnya ada di sini — dua titik cahaya muncul. Putih. Bulat. Bergerak pelan. Dua lampu kendaraan.
Raka menahan napas.
Mobil itu muncul dari kabut tanpa suara. Bukan suara mesin yang pelan — benar-benar tanpa suara. Ban-nya tidak berdesir di atas beton. Tidak ada gemuruh. Tidak ada angin yang tersibak. Hanya bodi hitam panjang yang meluncur di atas jembatan, pelan, seperti kapal yang bergerak di atas air mati.
Raka menundukkan kepala.
Ia tidak tahu kenapa. Ia hanya tahu bahwa ia tidak boleh melihat. Bahwa ada sesuatu di balik kaca mobil itu yang tidak boleh ia lihat. Bahwa perempuan di jok belakangnya tidak sedang bercanda.
Mobil itu melintas.
Raka merasakan dingin menyapu wajahnya. Bukan angin. Bukan hawa. Sesuatu yang lebih tua dari keduanya. Sesuatu yang menempel di kulitnya sebentar, lalu pergi.
Lalu sunyi.
Raka mengangkat kepalanya.
Mobil hitam itu sudah tidak ada. Jembatan itu kosong lagi. Kabut kembali mengambang di antara pagar-pagar berkarat, dan di seberang sana, jalan itu menghilang ke dalam gelap seperti sebelumnya.
Raka menghela napas. Pelan. Panjang.
Ia menoleh ke spion.
Jok belakang kosong.
Perempuan berbaju putih itu sudah tidak ada.
Raka membeku. Matanya menatap kaca spion itu lama, menunggu sosok itu muncul kembali, menunggu rambut panjang itu jatuh di bahunya, menunggu suara itu berbisik lagi dari dalam helmnya.
Tidak ada.
Hanya jok belakang yang kosong. Hanya jalan tanah yang basah. Hanya dirinya sendiri, duduk di atas motor, di mulut jembatan yang tidak ada di GPS-nya.
Ia berbalik cepat.
Jok belakang. Kosong.
Ia menoleh ke kiri. Ke kanan. Ke belakang. Tidak ada siapa-siapa. Tidak ada jejak kaki. Tidak ada suara langkah. Tidak ada apa pun.
Raka menelan ludah. Tenggorokannya kering.
"Mbak?"
Suaranya sendiri terdengar asing di telinganya. Terlalu kecil. Terlalu sendu.
Tidak ada jawaban.
Ia menunggu. Satu detik. Dua detik. Sepuluh detik. Ia menunggu perempuan itu muncul dari balik pohon, menunggu suaranya datang dari suatu arah, menunggu apa saja — apa saja — yang menjelaskan bahwa ia tidak sedang duduk sendirian di tengah hutan karet pada pukul setengah satu pagi.
Tidak ada.
Raka menghela napas. Mungkin memang sudah sampai. Mungkin perempuan itu turun diam-diam ketika ia menunduk, ketika mobil hitam itu lewat. Mungkin itu memang tujuannya — turun di sini, di jembatan ini, di tempat yang tidak ada di peta, dan menghilang sebelum ia sempat bertanya.
Mungkin.
Ia menundukkan kepala. Menatap setang motornya. Menatap tangan-tangannya yang masih menggenggam erat, buku-buku jarinya memutih.
Lalu ponsel di dashboard itu berbunyi.
Satu nada. Bersih. Terlalu bersih untuk malam yang seperti ini.
Raka mendongak.
Layar itu menyala. Peta masih terbuka. Tapi ada tulisan baru di bawahnya, huruf-huruf kecil yang muncul satu per satu, seperti ada yang mengetiknya dari dalam.
Perjalanan belum selesai.
Raka mengerutkan dahi.
Ia menatap tulisan itu. Membacanya dua kali. Tiga kali.
Belum selesai?
Ia menoleh ke jok belakang. Kosong. Ia menoleh ke jalan di depannya. Kosong. Ia menoleh ke jembatan. Kosong.
Lalu tulisan berikutnya muncul.
Sisa waktu menuju tujuan: 11 menit.
Raka menahan napas.
Sebelas menit.
Motornya masih berhenti. Roda-rodanya masih menyentuh tanah. Mesinnya masih menyala pelan, berdebar di antara kakinya seperti jantung yang tidak tenang. Ia belum bergerak satu sentimeter pun dari tempat ia mengerem.
Tapi di layar, titik tujuan itu bergerak.
Pelan. Menjauh. Menyusuri jalan yang tidak ada di peta, melewati jembatan, menembus kabut, dan menghilang ke dalam gelap di seberang sana.
Bergerak sendiri.
Raka menatap layar itu tanpa berkedip. Titik biru kecil itu terus melaju, meninggalkan dirinya, meninggalkan motornya yang masih diam, dan di bawahnya, angka itu mulai menghitung mundur.
10:59.
10:58.
Dan jauh di seberang jembatan, di dalam kabut yang tidak seharusnya ada, sesuatu menyalakan lampu.
Sebuah rumah.
Lampu kuning pucat menyala di balik jendela, samar, berkedip sekali, lalu tetap menyala.
Menunggu.