story 1 · episode 1
Pesanan Tanpa Nama
05 menit membaca

Hujan baru saja berhenti ketika ponsel di dashboard menyala.
Raka menoleh sekilas. Layar itu menyala biru di dalam gelap kabin, memantulkan cahaya ke kaca spion, ke wajahnya yang lelah. Jam digital di motornya menunjukkan 00.17.
Ia sudah delapan jam di jalan. Punggungnya pegal, jaket ojeknya lembap, dan kopi terakhir yang diminumnya dua jam lalu sudah lama berhenti bekerja.
Pesanan masuk.
Jemput di Halte Cempaka Lama. Tujuan: Desa Sumbergeni. Jarak empat puluh menit.
Raka mengerutkan dahi. Halte Cempaka Lama sudah bertahun-tahun tidak dipakai. Ia lewat situ setiap malam, dan yang ia ingat hanya bangku beton retak, tiang berkarat, dan lampu yang sudah mati sejak lama.
Ia membuka detail pesanan.
Foto pelanggan kosong.
Nama: .
Satu titik. Hanya satu titik.
Raka menekan nomor teleponnya. Suara sambungan tidak pernah datang. Bukan nada sibuk, bukan nada mati. Hanya sunyi, seperti menelepon ke ruang kosong.
"Aplikasi error," gumamnya.
Jempolnya melayang di atas tombol batal.
Lalu ia melihat tarifnya.
Hampir tiga kali lipat dari tarif normal. Untuk jarak empat puluh menit. Untuk malam yang sepi dan dompet yang makin tipis.
Raka menarik napas panjang.
"Sekali ini saja."
Ia menekan terima.
* * *
Jalan menuju Halte Cempaka Lama kosong. Lampu jalan di sepanjang rute mati separuh, menyisakan gelap yang bergantian dengan cahaya oranye pucat.
Angin malam menembus jaketnya. Bau aspal basah, bau tanah, bau sesuatu yang lebih tua dari keduanya.
Raka memperlambat motornya saat halte itu muncul di kejauhan.
Bangku beton. Tiang berkarat. Atap yang miring ke kiri.
Dan seseorang berdiri di bawahnya.
Perempuan. Baju putih. Rambut panjang terurai.
Raka menghentikan motornya lima meter dari halte. Ia tidak langsung turun. Ada sesuatu yang membuatnya ragu — bukan takut, hanya semacam ganjalan di tenggorokan yang tidak bisa ia jelaskan.
Ia menoleh ke layar ponselnya, hendak menekan tombol sudah sampai.
Belum sempat jarinya menyentuh layar, ponsel itu bergetar.
Sebuah pesan muncul di atas peta.
Jangan biarkan penumpang menunggu terlalu lama.
Raka membeku.
Ia belum menekan apa pun. Aplikasi itu belum tahu ia sudah sampai. Belum tahu ia bahkan sudah berhenti.
Pesan itu tidak seharusnya ada.
Ia menatap layar beberapa detik, menunggu pesan berikutnya datang, menunggu notifikasi lain yang menjelaskan semuanya — sistem error, bug, apa saja.
Tidak ada.
Hanya peta yang tenang, dan satu titik biru yang berdenyut pelan di lokasinya.
Raka mendongak.
Perempuan itu belum bergerak. Masih berdiri di tempat yang sama, menghadap ke arahnya, tangan tergantung lurus di sisi tubuh.
Wajahnya tidak jelas. Terlalu gelap di bawah atap halte, dan lampu motornya tidak cukup jauh menjangkau.
Raka menelan ludah.
"Sudah, ini cuma malam yang aneh," katanya pada dirinya sendiri. "Kerja. Selesai. Pulang."
Ia memutar gas pelan dan berhenti tepat di samping halte.
"Mbak?"
Perempuan itu menoleh. Pelan. Terlalu pelan, seperti leher yang tidak terburu-buru.
Wajahnya muda. Mungkin dua puluhan. Kulitnya pucat, tapi tidak aneh. Matanya tenang, tapi tidak ramah.
Yang membuat Raka diam sejenak adalah bajunya.
Putih. Rapi. Kering.
Padahal hujan baru berhenti lima menit lalu. Padahal aspal di sepanjang jalan masih mengkilap oleh air. Padahal atap halte itu miring ke kiri, dan air pasti menetes tepat di tempat ia berdiri.
Tidak ada satu pun titik basah di kainnya.
"Sumbergeni," katanya.
Suaranya pelan. Datar. Seperti suara yang sudah lama tidak dipakai.
Raka mengangguk. Ia menyodorkan helm cadangan yang selalu ia bawa di bagasi.
Perempuan itu tidak menerimanya.
"Tidak perlu."
Raka membuka mulut, hendak berdebat — peraturan, keselamatan, apa pun — tapi kata-kata itu mati di tenggorokannya.
Ia mengangguk lagi.
Perempuan itu naik ke jok belakang. Tidak ada suara. Tidak ada goyangan. Seperti tidak ada yang naik sama sekali.
Raka menoleh ke spion.
Perempuan itu duduk tegak, tangan terlipat di pangkuan, menatap lurus ke depan.
Ia menatap lurus ke depan.
Ke arah Raka.
Padahal seharusnya ia menatap ke belakang, ke jalan yang akan mereka lalui.
Raka mengalihkan pandangan. Menyalakan mesin. Memutar gas.
Motor itu melaju, meninggalkan halte tua yang kembali tenggelam dalam gelap.
* * *
Lima menit pertama, tidak ada yang bicara.
Hanya suara mesin, suara angin, dan suara air yang tersibak ban di aspal basah.
Raka sesekali melirik spion.
Perempuan itu masih di posisi yang sama. Tegak. Diam. Tangan terlipat.
Ia tidak bergerak sedikit pun. Tidak menggeser kaki. Tidak menoleh. Tidak menghela napas.
Seperti patung yang ditempel di jok belakang.
Raka mengalihkan pandangan ke GPS.
Rute yang muncul di layar tidak seperti yang ia kenal. Ia hafal jalan menuju Sumbergeni — lurus terus, belok kiri di pertigaan, lewati pasar, sampai. Tapi peta itu menunjuk arah lain. Belok kanan di tikungan yang bahkan tidak ada.
"Aplikasi lagi," gumamnya.
Ia tetap mengikuti peta. Mungkin ada jalan pintas baru.
Di belakangnya, sesuatu berbisik.
Pelan. Hampir tidak terdengar di balik angin.
Raka menegakkan punggungnya.
"Mbak?"
Tidak ada jawaban.
Ia menoleh ke spion.
Perempuan itu masih di posisi yang sama. Tangan terlipat. Mulut tertutup. Mata menatap lurus ke depan — ke arah Raka.
Tidak bergerak.
Tapi bisikan itu tadi jelas. Dekat. Terlalu dekat, seperti datang dari dalam helmnya sendiri.
Raka menggenggam setang lebih kuat.
Jam digital di dashboard motornya berkedip.
00.17.
Ia mengerutkan dahi. Ia sudah berkendara lebih dari lima menit.
Jam itu tidak berubah.
00.17.
Dan di belakangnya, perempuan berbaju putih itu akhirnya mengeluarkan suara lagi.
"Lurus terus," katanya. "Jangan berhenti di jembatan."
Raka menelan ludah.
Jembatan?
Di rute ini tidak ada jembatan.
Ia menoleh ke spion sekali lagi, dan kali ini — kali ini ia melihat sesuatu yang membuat darahnya berhenti mengalir.
Perempuan itu tersenyum.
Dan dari balik rambutnya yang menutupi wajah, ia berbisik, hampir tidak terdengar:
"Akhirnya kamu datang."