TAGAR.id – Para peneliti migrasi telah mendesak pemerintah-pemerintah Eropa untuk mengkaji ulang kebijakan-kebijakan isolasionis. Namun, banyak politisi tidak mengindahkan seruan mereka. Marcel Fürstenau melaporkannya untuk Deutsche Welle (DW. 3 Juni 2026).
Laporan bertajuk Global Refuge Crisis 2026 yang dipublikasikan di Berlin pada Senin 1 Juni 2026 lalu ditujukan sebagai ‘alarm peringatan', demikian kata Petra Bendel dari Universitas Erlangen Nürnberg, salah satu editor laporan tersebut.
Dalam presentasinya, ia mengungkapkan kekhawatirannya akan dampak dari Sistem Suaka Eropa Bersama (CEAS) yang diadopsi pada tahun 2024 dan akan mulai berlaku secara mengikat di seluruh negara anggota Uni Eropa per 12 Juni mendatang. "Kami khawatir akan adanya perluasan akomodasi yang menyerupai ruang penahanan selama proses suaka di perbatasan bagian luar,” ujar Bendel.
Menteri Dalam Negeri Jerman sebut Return Hubs inovatif
Bendel mengkritik keras rencana untuk menempatkan para pengungsi yang tidak memiliki prospek untuk mendapatkan suaka di Return Hubs atau pusat-pusat repatriasi yang terletak di luar Uni Eropa (UE). Return Hubs adalah inti dari pengetatan kebijakan migrasi. Menteri Dalam Negeri Jerman Alexander Dobrint menyebut Return Hubs sebagai hal yang inovatif. Para negosiator di Parlemen Eropa dan negara-negara anggota UE pada Senin 1 Juni lalu telah menyepakati sebuah peraturan yang memungkinkan berdirinya pusat-pusat repatriasi tersebut.