Mengapa Sulit Berhenti Berjudi, Bahkan Saat Hidup Mulai Hancur?
Banyak orang bertanya, mengapa penjudi tak sekadar berhenti? Ilmu perilaku menunjukkan jawabannya bukan sekadar soal kemauan: ada pola belajar otak, dorongan emosional, dan jebakan mengejar kerugian yang membuat perilaku itu berulang.
UZ
Sabtu, 10 Oktober 2026

Bayangkan seseorang yang awalnya berjudi hanya karena ingin mendapat uang tambahan. Ia memakai sedikit uang, sekadar mencoba peruntungan. Ketika menang, muncul keyakinan bahwa keberuntungan bisa terulang. Ketika kalah, ia berpikir masih ada kesempatan untuk mengembalikan uangnya.
Perlahan, keadaan berubah. Uang kebutuhan sehari-hari mulai terpakai. Utang menumpuk. Hubungan dengan keluarga merenggang. Ia berbohong untuk menutupi kebiasaannya, lalu berjanji berkali-kali bahwa hari ini adalah terakhir kalinya. Anehnya, meski tahu semua risikonya, keinginan berjudi bisa kembali muncul.
Bagi orang yang melihat dari luar, persoalannya tampak sederhana: mengapa tidak berhenti saja? Padahal, penelitian tentang perilaku manusia menunjukkan masalah perjudian tidak selalu sesederhana kurangnya pengetahuan atau lemahnya kemauan. Ada proses psikologis, pola pembelajaran, dorongan emosional, dan faktor lingkungan yang membuat seseorang terus mengulangi perilaku yang merugikan dirinya sendiri.
Memahami proses itu bukan berarti membenarkan perjudian. Sebaliknya, pemahaman ilmiah dapat membantu kita mengenali masalah lebih dini dan menemukan cara yang lebih efektif untuk mengatasinya.
Bukan Sekadar Kehilangan Uang
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam lembar fakta yang diterbitkan 2 Desember 2024 menyebutkan estimasi global sekitar 1,2 persen populasi orang dewasa mengalami gangguan perjudian (gambling disorder). WHO juga menjelaskan dampak perjudian bisa meluas ke orang-orang di sekitar pelakunya. Untuk setiap orang yang berjudi pada tingkat berisiko tinggi, rata-rata sekitar enam orang lain ikut terdampak.
Dampaknya meliputi tekanan finansial, keretakan hubungan, gangguan kesehatan mental, kekerasan dalam keluarga, hingga peningkatan risiko bunuh diri.
Angka itu perlu dipahami secara tepat. Enam orang adalah estimasi rata-rata dampak sosial, bukan berarti setiap kasus pasti memengaruhi jumlah orang yang sama. Sementara estimasi 1,2 persen merujuk pada gangguan perjudian, bukan seluruh orang yang pernah berjudi.
Temuan ini menunjukkan satu hal penting: perjudian bermasalah bukan hanya persoalan uang milik seseorang. Ketika uang untuk kebutuhan keluarga dipakai bertaruh, konsekuensinya dirasakan pasangan, anak, orang tua, dan orang lain yang bergantung kepadanya. Kita juga tidak perlu menunggu seseorang kehilangan seluruh hartanya untuk menyadari perilakunya sudah berbahaya. WHO menegaskan dampak perjudian bisa muncul bahkan sebelum seseorang memenuhi kriteria diagnosis gangguan perjudian.
Jebakan Mengejar Kerugian
Salah satu perilaku yang banyak dipelajari peneliti adalah loss-chasing, yaitu terus berjudi karena ingin mendapatkan kembali uang yang telah hilang. Pada 2023, Nilosmita Banerjee dan rekan-rekannya menerbitkan tinjauan ilmiah sistematis dalam jurnal Neuroscience & Biobehavioral Reviews. Penelitian itu mengidentifikasi 74 artikel yang membahas berbagai bentuk perilaku mengejar kerugian.
Para peneliti menemukan dua pola utama:
- Terus bermain atau meningkatkan risiko dalam sesi yang sama setelah mengalami kekalahan.
- Kembali berjudi pada waktu berikutnya karena berharap dapat menutup kerugian sebelumnya.
Perhatikan contoh berikut. Seseorang kehilangan Rp500 ribu. Alih-alih berhenti, ia berpikir kemenangan berikutnya bisa mengembalikan uang itu. Setelah kehilangan Rp1 juta, ia merasa harus terus mencoba karena berhenti berarti menerima kerugian itu secara permanen. Akhirnya, uang yang seharusnya diselamatkan justru kembali dipertaruhkan.
Inilah jebakannya: keinginan memperbaiki kerugian masa lalu mendorong seseorang mengambil keputusan yang memperbesar kerugian di masa depan. Secara matematis, uang yang sudah hilang tidak membuat kemenangan berikutnya lebih pasti. Dalam permainan dengan hasil acak, kekalahan sebelumnya tidak otomatis meningkatkan peluang menang pada putaran selanjutnya.
Perasaan bahwa seseorang harus terus bermain sampai uangnya kembali adalah dorongan psikologis, bukan jaminan strategi itu berhasil. Pertanyaan yang layak direnungkan: jika tujuan awal berjudi adalah memperbaiki kondisi keuangan, apakah mempertaruhkan lebih banyak uang setelah kalah benar-benar mendekatkan seseorang kepada tujuan itu?
Bagaimana Otak Belajar dari Menang dan Kalah
Untuk memahami mengapa perilaku berjudi bisa terus berulang, kita perlu memahami cara manusia belajar dari hadiah dan pengalaman. Otak memiliki sistem yang berperan dalam pembelajaran, motivasi, dan penilaian terhadap hasil suatu tindakan. Ketika sebuah tindakan sesekali menghasilkan sesuatu yang menyenangkan, pengalaman itu dapat memperkuat keinginan untuk mengulanginya.
Dalam perjudian, hasil yang tidak pasti membuat proses ini lebih rumit. Seseorang bisa mengalami kekalahan berkali-kali, tetapi satu kemenangan besar terasa sangat berkesan. Ia terus mengingat momen ketika berhasil mendapatkan uang, sementara kerugian yang lebih banyak perlahan dianggap bagian dari perjalanan menuju kemenangan berikutnya.
Bukan berarti otaknya rusak. Yang terjadi adalah sistem pembelajaran alami otak "terpelintir" oleh pola hadiah yang tidak terduga. Ketidakpastian itulah yang membuat perjudian begitu kuat mencengkeram, jauh lebih kuat daripada aktivitas yang hasilnya bisa diprediksi.
Pemicu Emosional dan Faktor Lingkungan
Keinginan berjudi tidak muncul di ruang hampa. Sering kali ia dipicu oleh kondisi emosional seperti stres, kesepian, kebosanan, kecemasan, atau tekanan ekonomi, serta lingkungan yang memudahkan akses, misalnya aplikasi dan situs judi online yang bisa dibuka kapan saja dari ponsel.
Karena itu, berhenti berjudi bukan sekadar soal menahan diri. Seseorang perlu mengenali pemicu pribadinya, mengelola tekanan yang mendorongnya bermain, dan mengubah lingkungan agar akses ke perjudian bisa dibatasi.
Jalan Pemulihan yang Terbukti Membantu
Kabar baiknya, kecanduan judi bisa ditangani. Pemulihan umumnya bertumpu pada beberapa langkah yang saling menguatkan:
- Terapi dan dukungan sosial. Pendampingan psikologis profesional serta dukungan keluarga dan komunitas membantu seseorang bertahan melewati proses pemulihan.
- Kelola keuangan. Mengatur akses ke uang dan membuat anggaran dapat mengurangi peluang kembali bertaruh.
- Kenali pemicu. Mengidentifikasi situasi, emosi, atau kebiasaan yang memicu dorongan berjudi agar bisa diantisipasi.
- Cari bantuan. Tidak menanggung sendiri; melibatkan tenaga kesehatan mental dan orang terpercaya.
- Bangun kebiasaan baru. Mengisi waktu dengan aktivitas bermakna yang memberi rasa pencapaian tanpa risiko.
Berhenti berjudi bukan berarti menyerah, melainkan mulai mengambil kembali kendali atas hidup. Dan bagi keluarga serta orang terdekat, memahami bahwa kecanduan judi adalah persoalan psikologis, bukan sekadar kelemahan karakter, adalah langkah pertama untuk memberi dukungan yang tepat, bukan menghakimi.
Sumber: WHO — Gambling (lembar fakta, 2 Desember 2024); Banerjee et al. (2023), "Behavioural expressions of loss-chasing in gambling," Neuroscience & Biobehavioral Reviews.
Berita Terkait

Menapak Syukur di Jalur Lembang: Ketika Langkah Kaki Alfa Penyintas Stroke Lumpuh Melampaui Batas Bersama Komunitas Mlampah Ziarah Chapter Bandung
Mila Yefriza · 30 Sep 2026

Terapi Farmakologis Demensia di Depan Mata Namun Masih Terdapat Tantangan
Syaiful W Harahap · 28 Sep 2026

Menyemai Optimisme Pemulihan Pasien Stroke: Langkah Nyata Alfa Penyintas stroke Lumpuh dan Komunitas Kawan Stroke Indonesia
Mila Yefriza · 22 Sep 2026

Guardian Indonesia Gelar “Wellness Journey Goes to Campus” Ajak Generasi Muda Bangun Gaya Hidup Cantik dan Sehat Secara Holistik
Syaiful W Harahap · 22 Sep 2026


