TAGAR.id, Jakarta - Untuk pertama kalinya, jumlah inovasi diagnostik dan terapi farmakologis untuk penyakit Alzheimer dan jenis demensia lainnya yang sedang dikembangkan bertambah dengan pesat.

Namun, kemajuan ini berisiko terhenti kecuali lebih banyak orang ikut serta dalam uji klinis dan kriteria kelayakan yang membatasi ditinjau ulang, demikian peringatan Alzheimer’s Disease International (ADI) dan Alzheimer Indonesia (ALZI).

Untuk memperingati Alzheimer’s Disease International (ADI), Alzheimer Indonesia (ALZI) melangsungkan acara diskusi pada hari Rabu, 30/9/2026, pukul 14.00-16.30 WIB di Unika Atma Jaya, Gedung Yustinus Lt. 15, Jl. Jenderal Sudirman Kav 51, Jakarta Selatan.

Laporan Alzheimer Dunia (World Alzheimer Report) terbaru dari ADI bertajuk “A new era in dementia clinical trials” atau Era Baru Uji Klinis Demensia menunjukkan bahwa pada 2026, lebih dari 158 calon terapi sedang dievaluasi dalam lebih dari 192 uji klinis di seluruh dunia, dengan kebutuhan sekitar

Sebanyak 55.000 peserta untuk menjalankan seluruh studi yang saat ini aktif. Kriteria penyaringan yang ketat membuat banyak calon peserta tidak pernah lolos ke tahap uji klinis, sehingga diperkirakan dibutuhkan 350.000 relawan di seluruh dunia untuk memenuhi kebutuhan rekrutmen.

“Ini adalah momen penuh harapan bagi penelitian demensia. Setelah puluhan tahun diwarnai kekecewaan, uji klinis untuk pertama kalinya membuktikan bahwa terapi farmakologis baru dapat memperlambat perkembangan penyakit Alzheimer, dan semakin banyaknya uji klinis yang sedang berjalan membawa harapan nyata,” ujar Chris Lynch, Plt Chief Executive Alzheimer’s Disease International.

“Kita berada di ambang revolusi dalam diagnostik dan terapi farmakologis demensia, namun hambatan besar dalam merekrut peserta uji klinis berisiko memperlambat kemajuan.”

“Setiap calon alat diagnostik atau terapi farmakologis baru bergantung pada kesediaan orang untuk menjadi relawan penelitian. Namun, rendahnya kesadaran akan uji klinis dan proses rujukan dari dokter maupun spesialis yang belum berjalan baik tidak hanya berisiko memperlambat kemajuan, tetapi juga dapat menghilangkan hak seseorang untuk ikut serta dalam uji klinis.”

Lebih dari 60 juta orang hidup dengan demensia di seluruh dunia, dan jumlahnya diproyeksikan melampaui 139 juta pada 2050. Lebih dari 60 persen di antaranya tinggal di negara berpenghasilan rendah dan menengah, dan porsinya diperkirakan naik melampaui 70 persen pada 2050.

Meski begitu, laporan ini menyoroti bahwa hampir separuh dari 6.763 lokasi uji klinis obat Alzheimer aktif yang tercatat di dunia berada di Amerika Utara dan negara berpenghasilan tinggi. Laporan ini jug

mendorong lebih banyak pemerintah untuk berinvestasi dan membangun infrastruktur uji klinis di negara mereka, agar karakteristik nasional, regional, budaya, dan genetik yang penting dapat terwakili seiring bergeraknya dunia menuju terapi farmakologis yang lebih presisi.

Hambatan akses di Indonesia

Hambatan untuk ikut serta dalam uji klinis sering kali muncul jauh sebelum seseorang tiba di pusat penelitian. Diagnosis yang terlambat, terbatasnya akses ke pemeriksaan spesialis, biaya perjalanan, kendala bahasa, serta kemungkinan perlunya kehadiran pendamping perawatan (care partner) dapat membuat seseorang tidak dipertimbangkan untuk mengikuti uji klinis.

Tantangan ini menjadi semakin rumit ketika merekrut relawan pada tahap prasimtomatik atau tahap berisiko penyakit Alzheimer dan jenis demensia lainnya. Bahkan ketika seseorang berminat, riwayat medis atau terapi yang pernah diberikan bisa membuatnya tidak memenuhi syarat.

Menanggapi hal tersebut, Imelda Theresia, Plt Direktur Eksekutif Alzheimer Indonesia (ALZI), mengatakan: “Di Indonesia, sebagian besar perawatan demensia dijalankan oleh keluarga.”

Namun, banyak yang masih menganggap hilangnya daya ingat atau pikun sebagai bagian normal dari penuaan. Hal ini membuat keluarga merasa malu mengakui ada anggota keluarga yang mengalami demensia, atau memandang uji klinis sebagai sesuatu yang jauh, rumit, atau mahal.

Akibatnya, diagnosis datang terlambat dan skrining tidak selalu berlanjut ke jalur rujukan yang jelas. Biaya transportasi, waktu kerja yang hilang, dan perjalanan berulang ke pusat layanan yang jauh juga dapat menyingkirkan keluarga berpenghasilan rendah serta mereka yang tinggal di luar kota besar

Maka, “Diagnosis dini, informasi yang jelas dalam bahasa daerah, dan desain uji klinis yang terjangkau sangat penting agar stigma dan kondisi finansial tidak membatasi partisipasi,” kata Imelda.

Potensi uji klinis

Mengikuti uji klinis dapat memberikan harapan dan pengalaman yang bermakna secara pribadi, namun juga bisa melelahkan secara fisik maupun emosional karena menuntut waktu, perjalanan, dan komitmen besar dari peserta, dan sering kali juga dari pendampingnya.

Selain itu, peserta mungkin harus menjalani tes, pemindaian, dan kunjungan klinis berulang, mengalami perubahan rutinitas, serta menghadapi ketidakpastian apakah mereka akan menerima atau merasakan manfaat dari terapi farmakologis yang diuji.

Di balik tantangan tersebut terdapat sebuah potensi uji klinis, di mana terapi farmakologis yang dihasilkan mungkin dapat membantu jutaan orang lainnya di dunia agar tidak terkena risiko demensia Alzheimer.

“Meskipun potensi terapi farmakologi ada di depan mata, pola hidup yang sehat dan mengurangi faktor risiko adalah tetap harus dilakukan sehingga para lansia dapat terus sehat jasmani dan rohani,” tutup Imelda.

Data terkait uji klinis Alzheimer:

  • 158 calon terapi sedang dievaluasi dalam 192 uji klinis di seluruh dunia.

  • Delapan uji klinis Fase III dijadwalkan mencapai tanggal penyelesaian primer pada 2026.

  • Diperkirakan 350.000 relawan dibutuhkan untuk ikut serta dalam uji klinis demensia agar kebutuhan rekrutmen saat ini dapat terpenuhi.

  • Perkembangan uji klinis cukup menggembirakan, namun Alzheimer’s Disease International dan Alzheimer Indonesia (ALZI) mengingatkan bahwa kemajuan ini berisiko terhenti karena kurangnya peserta yang dapat masuk ke dalam uji klinis. []