Manusia Jatuh Cinta 4 Kali Sepanjang Hidupnya, Mantan Terindah yang Mana?

Hasil penelitian Siemens ini juga mengungkap, satu dari tujuh partisipan mengaku bahwa pasangannya yang sekarang bukan cinta sejatinya.
Ilustrasi (ist)

Jakarta, (Tagar 2/3/2018) - Menurut penelitian Opera North, rata-rata manusia jatuh cinta empat kali sepanjang hidupnya. Penelitian tersebut melibatkan 2000 responden.

Hasil penelitian Opera juga menyebutkan 61 persen orang menyesal karena membiarkan hubungan dengan cinta pertamanya pergi.

Penelitian serupa dengan jumlah responden sama dilakukan Siemens Festival Nights. Berbeda dari hasil Opera, dalam penelitian ini terungkap rata-rata orang jatuh cinta dua kali seumur hidupnya.

Hasil penelitian Siemens ini juga mengungkap, satu dari tujuh partisipan mengaku bahwa pasangannya yang sekarang bukan cinta sejatinya.

Artinya nyaris semua orang mengalami peristiwa jatuh cinta lebih dari sekali, dan bisa jadi ada yang mematri nama mantan terindah di dasar hatinya, mantan terindah yang bukan pasangannya.

Mantan Terindah

Orang datang dan pergi dalam hidup kita, tapi hanya satu yang menetap di dalam hati. Bisa jadi ia bukan pasangan kita, karena ia bukan jodoh kita. Begitu banyak kecocokan, saling mengerti dan menerima apa adanya, tapi selalu ada alasan kenapa ujungnya jadi sang mantan.

Ia menjadi mantan terindah. Kehadirannya sangat berarti. Setelah putus hubungan, haruskah pura-pura tidak saling kenal atau bermusuhan? Atau justru menjadikannya teman?

Setelah masa emosional berlalu, dada telah menjadi lapang, sangat mungkin menjalin hubungan pertemanan yang normal dengan sang mantan.

Karena kalau dipikir, sungguh tidak masuk akal si dia yang begitu baik, begitu berarti bagi kita, pernah jadi bagian kita, kalau kemudian seperti orang yang tidak saling kenal.

Dengan berteman dengan sang mantan, masing-masing bisa kasih support untuk hal-hal yang positif terkait karier dan hobi misalnya.

Mampu berteman dengan sang mantan terindah adalah wujud kedewasaan, karena artinya pertimbangan rasional lebih dominan dibanding sisi emosional. (sa)

Berita terkait