Jakarta, (Tagar 9/7/2018) - Teriakan-teriakan pemberi semangat bergemuruh di lapangan bulu tangkis Istora Senayan, Jakarta, Minggu petang (8/7), saat "pahlawan" tuan rumah di nomor ganda campuran Liliyana Natsir dan pasangannya Tontowi Ahmad memasuki arena pertandingan.

"Indonesia..... Indonesia..... Owi-Butet..... Owi-Butet.....," teriakan para penggemar yang bergemuruh di Istora petang itu mendukung pasangan penuh prestasi Indonesia tersebut.

Hingar-bingar teriakan penyemangat itu memang terasa makin kencang bergemuruh, kala Liliyana-Tontowi memasuki arena pertandingan turnamen bulu tangkis Blibli Indonesia Open 2018 yang didukung oleh Bakti Olahraga Djarum Foundation ini.

Pasalnya, ini bisa jadi adalah partai final terakhir bagi Liliyana yang memutuskan pensiun tahun 2018 ini.

Kecemasan luar biasa menyelimuti para penggemar Indonesia petang itu yang hadir menjadi saksi penampilan terakhir sang calon legenda bulu tangkis Indonesia di Istora dengan beberapa kali terlihat menahan napasnya ketika keadaan sedang genting.

Maklum saja pada final terakhirnya ini, Liliyana yang saat ini berusia 32 tahun berusaha mematahkan "kutukan" selalu gagal dalam final Indonesia Terbuka jika bermain di Istora.

Namun, Liliyana berlaga dalam final ini bukan tanpa modal, dia dan Tontowi, merupakan juara bertahan turnamen edisi 2017 yang kala itu berlangsung di arena Jakarta Convention Centre (JCC), selain itu mereka meraih hasil bagus dengan menjuarai Indonesia Masters 2018 yang dimainkan di Istora.

Tapi ini adalah Indonesia Terbuka, turnamen level Super 1.000 atau tertinggi dibanding turnamen lainnya yang tentu memiliki tekanan dan tantangan berbeda pula dibanding Indonesia Masters yang merupakan turnamen tingkat ketiga (Super 500) meski dilangsungkan di lokasi yang sama.

Liliyana NatsirGanda Campuran Indonesia Tontowi Ahmad (kanan) dan Liliyana Natsir (kiri) melakukan selebrasi usai menang atas ganda campuran Malaysia Chan Peng Soon/Goh Liu Ying dalam partai final Blibli Indonesia Open 2018 di Jakarta, Minggu (8/7/2018). Tontowi/Liliyana berhasil menjadi juara setelah menang 21-17 dan 21-8. (Foto: Antara/Muhammad Adimaja)

Akhiri Kutukan 

Dalam partai final Blibli Indonesia Open 2018 yang didukung oleh Bakti Olahraga Djarum Foundation, Tontowi-Liliyana menjalani partai ulangan final Olimpiade 2016 Rio de Janeiro menghadapi wakil Malaysia Chan Peng Soon-Goh Liu Ying.

Bagaikan de javu, laga kedua pasangan seperti ulangan di Olimpiade 2016 yang memiliki raihan skor ketat sejak awal gim pertama, dimana kejar mengejar angka terjadi. Namun Tontowi/Liliyana yang didukung ribuan penonton Istora, mampu menyudahi gim pembuka ini dengan skor cukup ketat 21-17.

Ulangan kenangan di Rio tersebut semakin terlihat saat di gim kedua Tontowi-Liliyana bermain sangat lepas tanpa berhasil dikejar oleh duet Malaysia dan akhirnya memastikan juara Indonesia Terbuka 2018 menjadi milik mereka dengan skor akhir 21-17, 21-8.

Dengan hasil di final Blibli Indonesia Open 2018 yang didukung oleh Bakti Olahraga Djarum Foundation ini, dipastikan akan menjadi kenangan indah bagi Liliyana sebelum pensiun dengan menjuarai Indonesia Terbuka di Istora yang memang belum pernah dicicipinya selama ini.

"Kemenangan ini berarti banget buat kami khususnya saya yang sejujurnya walau gak mau mikirin tapi saya kepikiran kenapa sekian kalinya saya final di Istora tapi gak pernah tembus akhirnya di kesempatan ini saya bisa mengakhiri 'kutukan' itu dengan dibayar lunas," ujar Liliyana, dilansir Antara.

Akhir cerita yang manis memang bagi Liliyana yang memutuskan untuk pensiun di akhir tahun 2018 dengan kemenangan Indonesia Open pertamanya kala kejuaraan dihelat di Istora dan mungkin yang terakhir baginya.

Liliyana NatsirGanda Cempuran Indonesia Tontowi Ahmad (kiri) dan Liliyana Natsir (kanan) melakukan selebrasi usai menang atas ganda Malaysia Chan Peng Soon/Goh Liu Ying dalam partai final Blibli Indonesia Open 2018 di Jakarta, Minggu (8/7/2018). Tontowi/Liliyana berhasil menjadi juara setelah menang 21-17 dan 21-8. (Foto: Antara/Akbar Nugroho Gumay)

Kendati telah "melunasi dengan tunai" rasa penasaran menang Indonesia Open di Istora, Liliyana masih berharap bisa memberikan yang terbaik bagi Indonesia di sisa waktu jelang pensiunnya. Satu gelar Asian Games yang juga akan dihelat di Istora juga diharapkannya dia bisa menjadi kado bagi Indonesia selanjutnya.

"Saya sangat berterima kasih dengan berbagai dukungannya, pastinya saya akan terus merindukan momen-momen di sini, teriakan-teriakan 'Owi' 'Butet' itu yang kemungkinan saya tidak akan rasakan lagi, tapi apa pun itu, cepat atau lambat saya akan putuskan pensiun itu karena hampir semua gelar penting sudah saya dapatkan," ucapnya.

"Saya menghargai keputusan Liliyana untuk pensiun dan mengharapkan yang terbaik untuknya ke depan. Memang ada perasaan tidak rela, tapi jika ada awal pasti akan ada akhir, dan kenangan dengan Liliyana ini akan terus menjadi warna dalam karier saya," kata Tontowi yang mengungkapkan perasaannya mengenai keputusan pensiun Liliyana pada akhir 2018.

Dengan berbagai prestasinya Indonesia patut bersyukur dan bangga pernah memiliki dan dibela pebulu tangkis asal Manado ini, dengan torehan prestasinya di tingkat dunia.

Walau berat, Indonesia dan semua pihak harus merelakan wanita 32 tahun ini, tidak lagi membela Indonesia mulai tahun 2019 mendatang jika pensiun dan memberikan penghargaan sebagai salah satu legenda yang dimiliki tanah air.

Liliyana NatsirGanda Cempuran Indonesia Tontowi Ahmad (kiri) dan Liliyana Natsir (kanan) melakukan selebrasi usai menang atas ganda Malaysia Chan Peng Soon/Goh Liu Ying dalam partai final Blibli Indonesia Open 2018 di Jakarta, Minggu (8/7/2018). Tontowi/Liliyana berhasil menjadi juara setelah menang 21-17 dan 21-8. (Foto: Antara/Akbar Nugroho Gumay)

Biografi singkat: Liliyana yang lahir di Manado, Sulawesi Utara, 9 September 1985 adalah anak bungsu dari pasangan Beno Natsir dan Olly Maramis (Auw Jin Chen) dengan kakak bernama Calista Natsir.

Liliyana mencintai dunia bulu tangkis sejak masih duduk di sekolah dasar dan bergabung di klub bulu tangkis Pisok Manado. Ia sekolah di SD Eben Heazer 2 Manado, karena tekadnya untuk dunia bulutangkis ini, ia rela tidak meneruskan sekolahnya ke SMP dan ke jenjang yang lebih tinggi. Sementara kakaknya memilih jalur pendidikan hingga kini menjadi seorang dokter.

Pilihan Liliyana bukan main-main. Ia harus membuktikan keiginannya tersebut. Setelah lulus SD, Liliyaa memilih untuk pergi ke Jakarta, dan masuk klub Bimantara Tangkas dan sekarang PB Djarum.

Dalam hal latihan, ia selalu menambah porsi latihannya. Hasilnya semua kejuaraan di nasional hampir semua dia rajai tanpa ada yang bisa mengalahkannya.

Awal karier profesionalnya, Liliyana mulanya berpasangan dengan Vita Marisa untuk di nomor ganda putri. Tapi kemudian PBSI memutuskan Liliyana berpasangan dengan Nova Widianto di ganda campuran sejak tahun 2004.

Ternyata, keputusan itu terbukti berhasil. Sejak saat itu pasangan Nova Widianto-Liliyana berhasil meraih banyak gelar mulai tahun 2004 hingga 2009. Karena alasan usia Nova yang waktu itu berumur 35 tahun sedangkan Liliyanan 8 tahun lebih muda PBSI memutuskan memasangkan Liliyana dengan Tontowi Ahmad dan bertahan hingga sekarang dengan berbagai prestasi yang dimilikinya hingga bisa meraih emas Olimpiade 2016.

Keluarga: Beno Natsir (ayah), Olly Maramis (ibu), Calista Natsir (kakak) Pendidikan: Sekolah Dasar Eben Heazer 2 Manado Karier: Atlet Bulutangkis Profesional 2001 - Sekarang.

Liliyana NatsirGanda Cempuran Indonesia Tontowi Ahmad (kanan) dan Liliyana Natsir (kiri) menggigit medali usai menang atas ganda Malaysia Chan Peng Soon/Goh Liu Ying dalam partai final Blibli Indonesia Open 2018 di Jakarta, Minggu (8/7/2018). Tontowi/Liliyana berhasil menjadi juara setelah menang 21-17 dan 21-8. (Foto: Antara/Akbar Nugroho Gumay)

Prestasi: Juara Yonex Sunrise India Open Super Series 2011, Juara Singapura Open Super Series 2011, Runner-up Djarum Indonesia Open Super Series Premier 2011, Juara SEA GAMES 2011, Juara Yonex All England Badminton Championships 2012, Juara India Open Super Series 2012, Runner-Up Djarum Indonesia Open Super Series 2012.

Runner-up Denmark Open Premiere Super Series 2012, Juara Yonex All England Badminton Championships 2013, Juara Yonex Sunrise India Open Super Series 2013, Juara Li-Ning Singapore Open Super Series 2013, Juara BWF World Championship 2013, Runner-Up Yonex Denmark Open Super Series Premier 2013, Juara Victor China Open Super Series Premier 2013.

Juara Yonex All England Badminton Championships 2014, Juara French Open Super Series 2014, Runner-Up Yonex All England Badminton Championships 2015, Juara Badminton Asia Championships 2015, Runner up Korea Open Super Series 2015, Juara Malaysia Open Superseries Premier 2016, Juara Olimpiade Rio de Janeiro Brasil 2016.

Juara China Open Super Series Premier 2016, Runner-up Badminton Asia Championships 2016, Juara Hong Kong Open Super Series 2016, Juara BWF World Championship 2017, Juara Indonesia Open Super Series Premier 2017, Juara French Open Super Series 2017, Runner-up Daihatsu Indonesia Masters 2018, Runner-up Badminton Asia Championships 2018, Juara Blibli Indonesia Open 2018. (af)