Makassar, (Tagar 10/1/2019) - Pemerintah kota Makassar, melakukan penertiban terhadap sejumlah lapak pedagang kaki lima di kota Makassar, Kamis (10/1).

Salah satu yang ditertibkan adalah di jalan Masjid Raya, Kelurahan Barraya Kecamatan Bontoala kota Makassar.

Ratusan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) membongkar lapak yang sudah ditempati bertahun-tahun tersebut, bahkan ada beberapa pedagang yang menolak lapaknya  untuk dibongkar.

Ita Permatasari (28) yang merupakan salah seorang pedagang dilapak tersebut mengeluh terkait pembongkaran tersebut. Seharusnya menurut dia, pemkot harusnya memberikan kesempatan mereka untuk membongkar sendiri. Karena baru dua hari lalu, rapat terkait pembongkaran lapak tersebut.

Satpol PPKesedihan dua anak saat pembongkaran lapak. (Foto: Tagar/Rio Anthony)

"Memang kami sudah melakukan rapat terkait pembongkaran lapak, tapi kami minta waktu untuk bongkar sendiri, tapi ternyata hari ini malah dibongkar," keluh Ita kepada Tagar News, Kamis (10/1).

Ita menuturkan, kalau dibongkar paksa seperti itu, seng dan tiang-tiang kayunya akan rusak karena di bongkar secara paksa.

"Itu seng kami beli, jangan dibongkar seperti itu. Biarkan kami bongkar sendiri, agar kayu dan sengnya masih bisa kami pakai kembali," kata Ita.

Sementara itu, Susanti (24) mengaku lapak yang dia tempati berjual adalah milik orang lain yang dia sewa 5 juta per bulan.

"Ini lapak milik orang lain pak, saya hanya sewa," ujarnya.

Terkait pembongkaran, bulan Desember 2018 lalu sempat diadakan rapat untuk pembongkaran lapak-lapak. Tapi setiap rapat, sang pemilik selalu mengutus orang lain untuk menghadiri rapat.

"Pernah disosialisasi bulan Desember tahun lalu, itu yang sosialisasi dari pemkot. Jadi saat rapat yang punya lapak ini menyuruh orang lain yang hadir, kami hanya kontrak, ada undangannya tapi kami tidak pernah melihatnya, pemiliknya juga tidak pernah perlihatkan kepada kami," ujarnya sedih

Susanti juga berujar, kalau hampir semua pedagang kaki lima di jalan tersebut kebanyakan sewa dari orang lain.

"Semua pedagang disini kebanyakan menyewa, dan itu sudah bertahun-tahun, lapak yang saya sewa ini pemiliknya orang lain, tapi saya juga tidak pernah melihat orangnya," terangnya kepada Tagar News.

Sementara itu, Camat Bontoala Makassar Arman Nurdin mengatakan, sebenarnya ini bukan penertiban. Akan tetapi pedagang tersebut akan di relokasi ke lapak Kanrerong di sebelah lapangan Karebosi. Di situ sudah disiapkan lapak oleh Pemkot Makassar untuk para pedagang yang dibongkar lapaknya.

"Mereka ini dipindahkan ke tempat yang lebih layak, tidak kumuh seperti ini. Kemudian, mereka pindah itu gratis, tempat yang Pemkot siapkan tidak di sewa," ujar Arman

Arman menyebutkan, untuk kecamatan Bontoala ada 87 pedagang kaki lima yang siap direlokasi ke Kanrerong. Dia juga membantah pernyataan beberapa pedagang yang mengatakan pembongkaran tersebut tidak melalui sosialisasi dan pemberitahuan.

"Minggu lalu mereka tanda tangan pernyataan, didalam pernyataan tersebut mereka menandatangani persetujuan untuk ditertibkan. Bahkan didalam pernyataan itu juga sudah disampaikan bahwa tangga 10 Januari itu mereka harus pindah, jadi tidak benar kalau mereka bilang tidak ada sosialisasi," terang Arman.

Selain sudah dilakukan sosialisasi, Pihaknya juga sudah membagi ID Card nomor lapak di Kanrerong yang akan ditempati mereka berjualan di Kanrerong.

"Kami ingin merubah polanya, dari PK 5 yang kumuh ke PK 5 yang smart," pungkasnya. []