Kenapa Seseorang Bisa Berubah Jadi Teroris? Ini Jawaban Ulama NU

Semua orang lahir suci, netral, tapi kenapa kemudian ada yang menjelma teroris, seperti di Katedral Makassar dan Mabes Polri. Ini jawaban Ulama NU.
Polisi berjaga di depan Gereja Katedral, Jakarta, Kamis, 1 April 2021, menjaga gereja dari ancaman serangan teroris. (Foto: Tagar/Antara/Rivan Awal Lingga)

Jakarta - Semua orang dilahirkan dalam keadaan suci, netral. Tidak ada orang dilahirkan sebagai teroris, tapi kenyataannya ada teroris di sekitar kita, tampilan fisik religius tapi mampu membawa bom untuk membunuh diri sendiri dan orang lain. Terbaru bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu, 28 Maret 2021. Tiga hari kemudian teroris lone wolf, sendirian membawa senjata api menyerang Mabes Polri. 

Karena pemahaman yang keliru.


Persamaan dua kasus tersebut, dalam peristiwa Katedral Makassar, dua pelaku berinisial L dan YSR, pasangan suami-istri muda, laki-laki menutupi kepalanya dengan sorban motif kotak-kotak warna hitam putih, YSR berpakaian tertutup dan berjilbab dengan cadar. Lone wolf, pelaku tunggal teror di Mabes Polri juga berjilbab, bercadar. Simbol pakaian religius, agamis, lambang ketaatan seseorang pada perintah agama.

Tapi, bagaimana mungkin orang-orang yang taat beragama bisa menjadi pelaku teror. 

Ketua Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Robikin Emhas mengatakan kepada wartawan, Kamis, 1 April 2021, seseorang bisa berubah menjadi teroris karena salah dalam memahami agama.

"Karena pemahaman yang keliru," ujar Robikin Emhas.


Teror Mabes PolriInfografis Teror Mabes Polri. (Sumber: LKBN Antara)


Tidak ada agama yang membenarkan perilaku sadis terorisme, kata Robikin. Kalau seseorang melakukan teror dengan mengatasnamakan agama, itu karena kesalahan dalam memahami agama. "Agama apa pun tidak ada yang mengajarkan teror."

Sebelumnya, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Kiai Said Aqil Siradj mengatakan kalau semua pihak berwenang sungguh-sungguh ingin membasmi terorisme sampai akar-akarnya, harus melarang ajaran Wahabi dan Salafi.

"Kalau kita benar-benar sepakat, satu barisan ingin menghadapi, menghabiskan atau menghabisi jaringan terorisme dan radikalisme, benihnya dong yang harus dihadapi. Benihnya, pintu masuk yang harus kita habisi. Apa? Wahabi. Ajaran Wahabi itu pintu masuk terorisme di Indonesia," ujar Said Aqil.

Kalau Wahabi sudah bilang ini musyrik, ini bid'ah, ini enggak boleh, ini sesat, ini dholal, ini kafir, kata Said Aqil, "Itu langsung satu langkah lagi, satu step lagi, sudah halal darahnya boleh dibunuh. Jadi benih pintu masuk terorisme adalah Wahabi dan Salafi. Wahabi dan Salafi adalah ajaran ekstrem."

Berita sebelumnya dalam Fokus: Teror Mabes Polri




Berita terkait
Polisi Temukan Surat Wasiat Pelaku Teror di Mabes Polri
Aparat kepolisian berhasil menemukan surat wasiat dari pelaku penyerangan Mabes Polri yang melancarkan aksinya pada Rabu sore, 31 Maret 2021.
Kapolri Ungkap Kronologi Penyerangan ZA di Mabes Polri
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengungkapkan kronologi penyerangan yang dilakukan seorang gadis berinisial ZA di Mabes Polri.
Infografis: Profil ZA, Gadis Milenial Teror Lone Wolf di Mabes Polri
Perempuan berinisial ZA itu milenial, mahasiswi, lajang. Ia seorang lone wolf, secara sendirian melakukan teror di Mabes Polri. Ini profilnya.
0
Sempat Diterpa Badai Seroja, Mensos Targetkan Pemulihan NTT Juni 2021
Menteri Sosial Tri Rismaharini, menargetkan dana bantuan sosial untuk pemulihan NTT yang terkena Badai Seroja dapat disalurkan Juni ini.