UNTUK INDONESIA
Kenapa Danau Toba Harus Jadi Unesco Global Geopark
Sejak tahun 2011 Danau Toba telah diusulkan menjadi taman bumi global (global geopark) ke Unesco.
Pemadangan Danau Toba dari Meat, Tobasa. (Foto: Tagar/Tonggo Simangunsong)

Medan - Sejak tahun 2011 Danau Toba telah diusulkan menjadi taman bumi global (global geopark) ke Unesco. Namun usulan untuk menjadikan danau hasil letusan Gunung Toba 74.000 tahun silam, itu dinyatakan belum layak sebagai warisan dunia.

Manager Geopark Kaldera Toba Wan Hidayati mengatakan, tujuan manjadikan Danau Toba sebagai warisan dunia agar terpromosi ke dunia, melalui kekayaan biodiversity, geodiversity, dan culural diversity. Semuanya menjadi geosite yang saling terkait dan menjadi satu bagian cerita.

Namun kendala yang dihadapi ialah manajemen yang kurang dan sumber daya manusia, termasuk kesadaran masyarakat.

"Kesadaran masyarakat yang masih kurang. Misalnya, ada grafiti di batu geosite. Memang itu adalah ekspresi kecintaan kepada Danau Toba, tapi dalam bentuk yang salah," katanya kepada Tagar di Medan, belum lama ini.

Karena itulah pihaknya telah melakukan berbagai upaya. Antara lain, penguatan manajemen ke dalam dan ke luar. Partnership dengan gereja, petani, dan membangun networking ke luar.

Dilakukan juga upaya pengendalian, semisal pagar perlindungan di Batu Hoda yang sering dicoreti, pagar pengaman, pemberdayaan masyarakat (community empowerment) seperti kepada pengrajin, petani, monitoring dan evaluasi untuk semua kegiatan.

"Saat ini ada 16 penanggung jawab di kawasan geosite untuk mengawasi semua yang telah kita kerjakan," ujar perempuan yang juga Kepala Dinas Pariwisata Sumut itu.

Beberapa penunjang yang dibuat antara lain, panel di Hutaginjang, penunjuk arah, pusat informasi, narasi tentang geosite, seperti Sipinsur.

"Perlu membangun visilibilty, gapura, buku panduan, leaflet, sosialisasi ke sekolah di kawasan geosite, di Sigullati, ini semua bagian dari edukasi dan pemberdayaan," katanya.

Pihaknya juga pernah membuat lomba lukis bersama untuk mempelajari kearifan lokal di sekitar Danau Toba.

Setelah semua itu dilakukan, kata Hidayati, pihak Unesco menyatakan pihaknya sudah melakukan gebrakan untuk Danau Toba.

"Akhirnya kita diterima dan akan dibicarakan di Rinjani pada Oktober 2019, apakah kita masuk atau tidak. Katanya, differ bukan rejected, differ itu bukan ditolak, lalu akan diberikan kesempatan untuk memperbaiki, dikasih waktu. Nanti akan kita lihat bulan Oktober ini hasilnya," katanya.

Lebih lanjut Hidayati mengatakan, saat ini orang melihat Danau Toba hanya melihat keindahannya saja. Tapi sebenarnya bukan hanya itu. 

"Kalau hanya pemandangan, satu jam sudah bosan, tidak ada yang dipelajari. Namun, dengan geodiversity, biodiversity dan cultural diversity, maka akan ada yang dipelajari dari situ," katanya.

Menjadikan Danau Toba Sebagai Kebanggaan

Sementara itu, Wakil Manager Geopark Kaldera Toba Gagarin Sembiring mengatakan, dengan dijadikannya Danau Toba sebagai Unesco Global Geopark, maka Danau Toba akan terpromosi ke negara-negara, setidaknya negara anggota PBB.

"Promosi, tapi tidak konteks marketing, bahwa di sini ada warisan dunia yang melahirkan sebuah kebanggaan pride untuk negara. Danau Toba adalah keajaiban yang diberikan, bukan diciptakan oleh manusia," katanya.

Karena itu, untuk mencapai pengakuan itu, sejauh ini telah dilakukan berbagai upaya, mulai dari inventarisasi kelayakan menjadi warisan dunia, nasional (geopark nasional), nilai penting dari sisi geologi.

Sebelum sampai secara internasional, jelasnya, keanekaraman biologi (biodiversity), perlu dikarakterisasi sehingga bernilai internasional, jadilah geoheritage.

"Ada 16 geosite setelah geoheritage dikaitakan dengan cultural diversity dan biodiversity-nya. Kapan geoheritage menjadi geosite? Setelah dilihat keterkaitan geo, bio, dan culture," jelasnya.

Kumpulan geosite yang saling terkait ini, paparnya, menjadi satu bagian cerita yang menceritakan sesuatu luar biasa itulah supervolcano. Tinggalannya ialah kaldera atau kawah raksasa, yang sekarang berupa danau, itulah Danau Toba. Sisa energi itu mengangkat dasar menjadi Samosir. Itulah kenapa akhirnya mengakukan diri menjadi global geopark.

"Harus ada outstanding value," katanya.

Dulu, katanya, kurangnya pengelolaan menjadi hambatan. Pilar manajemennya, konservasi, pendidikan dan pemberdayaan masyarakat setempat masih lemah. "Itu yang belum dilakukan. Itulah kenapa kemudian dilakukan berbagai upaya itu," katanya. []

Baca juga:

Berita terkait
0
Klasemen Liga 1 Indonesia Setelah Usai 32 Laga
Turnamen sepak bola Indonesia, Liga 1, sudah menyelesaikan 32 laga yang dipuncaki klub Bali United, disusul Persipura Jayapura dan Borneo FC