Indonesia
Kemarau di Yogyakarta Masih Lama, Ini Penjelasannya
Musim kemarau di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) masih tiga bulan lagi. Masyarakat diminta hemat air.
PMI DIY melakukan droping air bersih di Dusun Guyangan, Desa Mertelu, Kecamatan Gedangsari, Gunungkidul. Sejak awal Juli sampai 17 Juli sudah mendroping air bersih sebanyak 280.000 liter untuk 180 KK. (Foto: Tagar/Ridwan Anshori)

Yogyakarta - Musim kemarau di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) masih tiga bulan lagi. Puncak musim kemarau belum tiba. Sampai saat ini, wilayah Yogyakarta sudah lebih dari 60 hari tanpa hujan.

Kepala Kelompok Data dan Informasi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Mlati Yogyakarta Etik Setyaningrum, mengatakan, mayoritas wilayah di DIY sudah tidak ada hujan secara berturut-turut selama lebih dari 60 hari.

Kondisi ini menunjukkan indikasi adanya kekeringan secara meteorologis.

"Yakni berkurangnya curah hujan dari keadaan normalnya, dalam jangka waktu yang panjang," kata Etik di Yogyakarta, Kamis 18 Juli 2019.

Menurut dia, diperkirakan musim kemarau masih akan berlanjut sampai 2-3 bulan ke depan. Artinya ada peluang di DIY selama 120 hari tanpa hujan. "Puncak musim kemarau diprediksi akan terjadi di bulan Agustus 2019," katanya.

Baca juga: Jokowi Ingatkan Dampak Kekeringan di Daerah

Etik mengatakan, hal lain yang perlu diwaspadai perihal cuaca adalah suhu udara dingin. Suhu dingin khususnya di malam hingga pagi hari. "Suhu udara rata-rata minimum saat ini berkisar 18-20 derajat celcius," kata dia.

Dia menambahkan, saat musim kemarau memang biasa terjadi suhu dingin merupakan normal terjadi. Penyebabnya karena ada aliran masa udara dingin dari Australia yang memasuki  wilayah Yogyakarta.

Hal ini juga didukung adanya pembentukan tutupan awan yang sangat kecil. Saat musim kemarau biasanya langit cerah. "Kondisi ini menyebabkan radiasi balik bumi ke atmosfer dengan cepat akan keluar. Sehingga suhu udara di bumi menjadi cepat dingin," ungkapnya.

BMKG Yogyakarta mengimbau dalam menghadapi puncak musim kemarau nanti, masyarakat mulai mempersiapkan diri seperti menghemat air dan menjaga kesehatan.

Warga perlu menjaga kesehatan, terutama siang hari yang terik dengan mengurangi aktivitas di luar ruangan. "Demikian juga pada malam hingga menjelang pagi karena suhu udara dingin," kata dia.

Baca juga: 45 Desa di Pacitan Terancam Dilanda Kekeringan

Kemarau panjang ini, kata dia, membuat ketersediaan air untuk pertanian dan waduk sangat berkurang. Petani sebaiknya mempersiapkan pola tanam sesuai iklim kemarau agar tidak mengalami gagal panen.

Sementara itu, Humas Palang Merah Indonesia (PMI) DIY Warjiyani mengatakan, sampai saat ini droping air bersih paling banyak dilakukan di Kabupaten Gunungkidul.

"Sejak 1 sampai Rabu 17 Juli 2019, droping air bersih yang sudah dilakukan sebanyak 280.000 liter dengan penerima manfaat 180 kepala keluarga atau 827 jiwa," katanya.

Di Gunungkidul, droping air bersih dilakukan di lima kecamatan yakni Gedangsari, Ngawen, Paliyan, Patuk dan Nglipar. []

Berita terkait
0
Tewas Sebelum Skripsi, Orang Tua Gantikan Anaknya Wisuda di UNS Solo
Dwi Yan Merbaningrum tak kuasa menahan tangis saat menerima ijazah anaknya Irza Laila Nur Trisna saat upacara wisuda UNS Solo.