Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan di Tahanan Myanmar

Dipukuli, ditendang di selangkangan atau diancam diperkosa, ini kisah seorang remaja perempuan Myanmar di tahanan militer
Petugas lembaga permasyarakatan Insein di Yangon, Myanmar, 17 April 2020 (Foto: dw.com/id)

Jakarta - Dipukuli, ditendang di selangkangan atau diancam diperkosa: seorang remaja perempuan Myanmar menggambarkan situasi penahanan oleh serdadu junta militer Myanmar, dan mengabarkan penyiksaan terhadap kaum perempuan di balik penjara.

Ma Chaw, 17 tahun, ditangkap saat bersama ibunya di Yangon, 14 April 2021 lalu. Saat itu keduanya baru pulang dari aksi demonstrasi pagi hari, ketika kendaraan yang ditumpanginya dihentikan dua truk militer. "Mereka memaksa kami tengkurap di atas jalan," katanya kepada AFP.

Murid sekolah menengah atas itu akhirnya dibui selama enam hari, bersama perempuan yang meratapi penyiksaan oleh petugas penjara. Ma sendiri mengaku harus mengalami pelecehan seksual selama pemeriksaan. Dia seorang diri ketika dibebaskan pada 20 April 2021. Ibunya dipindahkan ke penjara lain di Yangon.

dalam fotoDalam foto dari tangkapan layar AFPTV dan siaran Myitkyina News Journal tampak polisi membidik demonstrasi antikudeta dengan senjatanya saat menindak demonstran di Myitkyina di negara bagian Kachin, Myanmar, Sabtu, 27 Maret 2021. (Foto: voaindonesia.com - AFP dan sumber lain)

"Ibuku ada satu-satunya keluargaku," kata dia. "Saya sangat mengkhawatirkan keselamatannya."

1. Tidak Bisa Makan dan Berbicara

Untuk membebaskan sang ibu, Ma mengaku diminta menandatangani surat pernyataan yang mengklaim dia "tidak mengalami penyiksaan," selama ditahan. "Kenyataannya sangat berbeda," tukasnya. "Hal ini sangat tidak adil."

Junta militer berkuasa sejak melakukan kudeta terhadap pemimpin sipil de facto, Aung San Suu Kyi, 1 Februari 2021 dengan alasan pemilu November 2020 curang, tapi kemudian tuduhan ke Suu Kyi melebar tanpa bisa membuktikan pemilu curang.

Ibunya termasuk 3.800 warga sipil yang masih mendekam di balik penjara sejak Kudeta 1 Februari, menurut organisasi HAM, Asosiasi Bantuan Hukum bagi Tahanan Politik. Hingga kini tidak banyak yang tahu mengenai kondisi mereka karena mantan tapol memilih diam.

"Saya dipegang-pegang oleh seorang polisi, yang bilang dia bisa membunuh atau menghilangkan saya," kisahnya. "Jika saya tidak menepis tangannya, saya yakin dia akan terus melakukannya."

Suatu hari, Ma bercerita dia berpapasan dengan seorang perempuan dengan luka lebam di sekujur tubuhnya. Dia tidak lagi bisa makan atau berbicara dengan lancar. "Kami memberinya telur ceplok dan nasi putih," kata dia. "Dia bilang tidak bisa buang air kecil karena ditendang di bagian selangkangan dalam proses interogasi."

2. Kejahatan Seksual oleh Tatmadaw

Pemerintahan Persatuan Nasional yang dibentuk di bawah tanah sebagai perlawanan terhadap junta, mengumumkan investigasi terhadap "kekerasan seksual dan berbasis gender terhadap perempuan dan remaja perempuan dalam penahanan ilegal" oleh Tatmadaw.

"Kasus-kasus ini mengindikasikan pola yang lebih luas terkait kekekerasan seksual oleh militer Myanmar yang dibiarkan bertahun-tahun dengan impunitas, terutama terhadap perempuan dari etnis minoritas atau area konflik," tulis pemerintah sipil Myanmar.

Perempuan lain, Ngwe Thanzin, mengatakan dia dan empat lainnya ditangkap saat berdemonstrasi di Yangon. "Saya ditendang di muka karena punya topeng hitam di tas saya," kisahnya, sembari menceritakan bagaimana aparat keamanan mencerca mereka dengan perkataan misoginik.

bentrok antaraBentrok antara demonstran dan pihak keamanan di Yangon, Myanmar (Foto: dw.com/id)

Mereka dibawa ke lapas yang sama seperti Ma Chaw. "Mereka mengancam akan membunuh kami atau menghilangkan paksa kami," kata dia. Selama tiga hari di bui, dia mengaku melihat gadis berusia 19 tahun yang babak belur sampai tidak mampu berdiri.

"Mereka tidak memukuli kami di depan tahanan lain, melainkan satu per satu di ruang interogasi."

Lantaran keterbatasan akses, kesaksian kedua korban tidak bisa diverifikasi kebenarannya. Kantor Berita AFP berulangkali mencoba menghubungi juru bicara junta, namun tanpa hasil.

Ngwe mengatakan setidaknya junta bisa menyediakan petugas wanita untuk memeriksa perempuan. "Semua hak dan martabat kami dilukai," kata dia. "Kami tidak punya hak. Saya merasa kami seperti air di tangan mereka." [rzn/hp (afp, rtr)]/dw.com/id. []

Berita terkait
Istri dan Anak Petinggi Militer di Pusaran Bisnis Myanmar
Tentara Myanmar mengontrol sebagian besar ekonomi melalui dua konglomerasi. Sejumlah perwira tinggi, termasuk panglima Min Aung Hlaing
Amerika Berlakukan Sanksi Terhadap Industri Permata Myanmar
Depkeu AS mengatakan melalui rilis berita bahwa pihaknya memberlakukan sanksi terhadap salah satu industri yang terbesar di Myanmar, batu permata
Biksu di Myanmar Beda Pendapat Tentang Gerakan Antikudeta
Biksu di Myanmar memimpin perjuangan awal melawan pemerintahan militer, tetapi terpecah pendapat mengenai kudeta yang mengakhiri demokrasi
0
Malaysia Kerahkan Jet Tempur Cegat Pesawat Militer China
Malaysia mengerahkan jet-jet tempur untuk mencegat 16 pesawat militer China di lepas pantai Laut China Selatan