UNTUK INDONESIA
Jokowi, Kunjungan Ketujuh ke Ponpes Al Baghdadi Rengasdengklok
Presiden mengajak jamaah zikir akbar untuk merawat, menjaga, dan memelihara persaudaraan, kerukunan, dan persatuan bangsa.
Presiden Joko Widodo (tengah) didampingi Menteri PUPR Basuki Hdimuljono (kedua kiri), Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita dan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (kanan) meninjau Situ Bagendit di Garut, Jawa Barat, Sabtu (19/1/2019). Pemerintah berencana mengembangkan kawasan wisata Situ Bagendit. (Foto: Antara/Puspa Perwitasari)

Rengosdengklok, Karawang, (Tagar 20/1/2019) - Presiden Joko Widodo menyampaikan pesan persatuan kepada jamaah dalam zikir akbar yang digelar di Pondok Pesantren Al Baghdadi, Rengasdengklok, Karawang, Jawa Barat.

Presiden Jokowi hadir dalam acara itu dalam rangka Maulid Nabi Muhammad SAW dan Khaul Syekh Abdul Qodir Al Jaelani RA di Pondok Pesantren Al Baghdadi, Rengasdengklok, Karawang, Sabtu malam sekitar pukul 22.15 WIB menempuh perjalanan darat dari Garut.

Presiden Jokowi kemudian menyampaikan pidato di hadapan ribuan jamaah yang antusias dan telah menantinya sejak sore hari.

"Saya sangat berbahagia Alhamdulillah bisa hadir. Seperti yang tadi disampaikan oleh Abah bahwa ini adalah kunjungan saya yang ketujuh," kata Presiden dilansir kantor berita Antara.

Oleh sebab itu ia mengaku sangat bahagia bisa hadir dan menyapa jamaah di Pondok Pesantren asuhan Abah Kiai Haji Junaidi Al Baghdadi.

"Dan pada kesempatan yang baik ini saya ingin mengingatkan pada kita semua ya, menyadarkan pada kita semuanya bahwa bangsa ini adalah bangsa besar, Indonesia adalah negara besar, negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara besar, penduduk kita sekarang sudah 260 juta, yang hidup di 17 ribu pulau, yang hidup di 514 kota dan kabupaten, yang hidup di 34 provinsi," katanya.

Ia menambahkan bahwa Indonesia dianugerahi oleh Allah SWT sebagai negeri yang berbeda-beda, beragam, majemuk, berbeda suku, berbeda agama, berbeda adat, berbeda tradisi, berbeda bahasa daerah, dan lain-lain.

"Beda-beda semuanya, sudah menjadi sunatullah, sudah menjadi hukum Allah SWT kalau memang bangsa Indonesia ini berbeda beda," katanya.

Oleh sebab itu Presiden ingin mengajak semua yang hadir untuk merawat, menjaga, dan memelihara persaudaraan, kerukunan, dan persatuan bangsa.

Ia menegaskan agar jangan sampai perbedaan-perbedaan menjadikan bangsa Indonesia tidak seperti bersaudara lagi.

"Saya kadang-kadang sedih kalau mendengar, ini biasanya dimulai gara-gara biasanya ini dari pilihan bupati, urusan politik, dimulai dari pilihan wali kota, dimulai dari pilihan gubernur, dimulai dari urusan presiden," katanya.

Perbedaan pilihan politik kata dia kadang membuat antarsesama tidak saling menyapa bahkan bermusuhan.

Ia ingin agar hal itu jangan sampai terjadi, namun ia meyakini jamaah Abah Junaedi Al Baghdadi tidak akan terpengaruh hal-hal negatif karena sudah paham apa yang diperbolehkan dan apa yang tidak.

"Saya titip, jangan sampai tidak saling omong dengan tetangga, tidak saling sapa. Tidak saling menyapa antarkampung. Itu harus kita hindarkan," katanya.

Soal pilihan politik, Presiden Jokowi menyarankan para jamaah untuk menggunakan hati nurani dan pikiran secara jernih.

"Kalau ada pilihan bupati, dilihat ada A, B, C, ya dilihat saja pengalaman punya enggak, prestasinya ada enggak, rekam jejaknya ada enggak, programnya bagus enggak, idenya bagus enggak. Gagasan gagasannya bagus enggak, dilihat itu saja," katanya.

Ia berpesan agar jamaah jangan mendengarkan fitnah-fitnah dari sumber yang tidak jelas arahnya dan menyesatkan.

Setelah menyampaikan pesannya, Presiden Jokowi menyempatkan untuk turun panggung menyapa jamaah dan bersalaman dengan beberapa di antara mereka.

Tak sampai satu jam kemudian, Presiden meninggalkan Pondok Pesantren yang pernah didatanginya pada 2014 itu.

Saat Hujan Deras

Sebelumnya dalam kesempatan di Garut Jawa Barat, Presiden Joko Widodo membagikan sertifikat tanah kepada masyarakat setempat.

Hujan deras yang diawali gerimis mengguyur lokasi penyerahan sertifikat di Lapangan sepak bola Cibodas, Desa Banjarsari, Garut, hingga tempat acara juga sempat digenangi air.

Jokowi di Garut Jawa BaratPresiden Joko Widodo (ketiga kiri) berdialog dengan penerima Sertifikat Tanah untuk Rakyat di Banjarsari, Garut, Jawa Barat, Sabtu (19/1/2019). Presiden membagikan sebanyak enam ribu sertifikat untuk wilayah Kabupaten Garut. (Foto: Antara/Puspa Perwitasari)

Presiden Jokowi tiba di lokasi acara pembagian sertifikat ketika hujan deras turun dan lokasi acara tergenang air.

Meski tergenang air, masyarakat tak beranjak dari lokasi acara dan tetap setia mengikuti acara.

Dalam sambutannya, Presiden menyatakan tekadnya untuk mempercepat program sertifikasi tanah demi meminimalisasi kasus sengketa tanah.

"Hari ini telah diserahkan 6.000 kepada bapak/ibu sekalian penerima sertifikat di Kabupaten Garut. Tahun ini, tadi Pak Menteri ATR sudah menyampaikan akan diserahkan lagi 60.900 sertifikat di Kabupaten Garut," kata Presiden di Garut, Sabtu (19/1).

Ia mengatakan program sertifikasi tanah rakyat perlu dipercepat karena setiap ke daerah ia selalu menerima keluhan sengketa lahan.

"Karena setiap saya ke daerah, ke desa, ke kampung, suara yang masuk ke telinga saya banyak sengketa lahan di mana-mana. Tidak hanya di Pulau Jawa, di Sumatera, di Kalimantan, di Sulawesi, di Bali, di NTT, NTB, sampai Papua banyak sekali sengketa. Karena apa? Masih 80 juta bidang tanah yang belum bersertifikat," katanya.

Ia mengatakan, tahun lalu telah berhasil tersertifikasi 7 juta di mana tahun sebelumnya 5,1 juta lahan.

Tahun ini ditargetkan angkanya bertambah menjadi 9 juta lahan (bersertifikat), namun Presiden memperkirakan jumlahnya akan melampaui dari target.

"Tahun depan tambah lagi, tahun depan tambah lagi. Karena kita ingin rakyat memegang sertifikat semuanya. Ini adalah tanda bukti hak hukum atas tanah yang kita miliki," katanya.

Dengan kepemilikan sertifikat lahan, maka kecil kemungkinan ada pihak-pihak yang mengklaim sebagai pemilik lahan.

Pada kesempatan itu, Presiden berpesan agar masyarakat yang telah menerima sertifikat untuk menjaganya dengan baik.

"Saya titip, setelah dapat sertifikat tolong masukkan plastik. Nanti kalau hujan biar sertifikat tidak rusak. Yang kedua besok tolong ini difotokopi. Yang asli simpan lemari satu, yang fotokopi simpan lemari dua. Supaya kalau yang asli hilang fotokopinya masih," katanya.

Presiden juga berpesan agar masyarakat yang ingin menjaminkan sertifikatnya ke bank untuk memperoleh pinjaman agar memperhitungkan dengan baik kemampuan membayarnya.

"Sertifikat ini adalah tanda bukti hak hukum atas tanah yang kita miliki. Jadi betul-betul manfaatkan. Ini untuk kesejahteraan kita, karena ini bisa diwariskan," katanya. []

Berita terkait
0
Vidi Aldiano dan Lima Artis Muda Divonis Kanker
Penyakit kanker bisa muncul pada usia berapa pun. Seperti yang dialami beberapa selebritas muda Tanah Air termasuk penyanyi Vidi Aldiano.