Jakarta, (Tagar 31/12/2018) - Kemiskinan bisa melemahkan, bisa juga menguatkan. Presiden Joko Widodo memilih yang kedua. Dalam buku Menuju Cahaya ia mengatakan bahwa kemiskinan tidak berhasil menjatuhkan dirinya. 

Berikut ini sebagian catatan Jokowi dalam buku tersebut, bahwa ia pernah berada di posisi itu. Sangat miskin.

"Saya tidak mungkin mengenyahkan episode hidup di masa lalu sebagai bagian penting dalam hidup saya. Tidak mungkin saya menjadi seperti hari ini tanpa serangkaian kisah hidup yang akan terdengar merana bagi orang lain, tapi luar biasa bagi kami sekeluarga. 

Ya, kami pernah sangat miskin. Tapi hebatnya, Allah memberi kekuatan sehingga kemiskinan tak berhasil menjatuhkan kami. Sebaliknya, kami justru termotivasi untuk bangkit.

Kemiskinan mendidik saya dengan baik. Kemiskinan yang pekat. Namun, dari lingkungan serba kekurangan itulah saya mempelajari sesuatu yang luar biasa dari orang-orang terpinggirkan. Sikap tegar yang mengagumkan, nrimo, ikhlas, sekaligus penuh syukur, sambil terus berjuang karena hidup terus berjalan. 

Awalnya saya tidak tahu apa itu kemiskinan. Sejak mata saya bisa mencerna dunia dan saya mulai tumbuh, pemandangan sederhana itu telah menjadi dunia saya. 

Ibu melahirkan saya di Rumah Sakit Brayat Minulyo, di kamar termurah, Juni 1961. 

Saya terlahir dengan nama Mulyono. Tapi, nama itu tak terlalu lama saya miliki karena orangtua saya segera mencarikan nama baru ketika saya berulang kali sakit. Ada kepercayaan dalam masyarakat Jawa, anak yang sakit-sakitan perlu berganti nama. 

Maka nama Mulyono kemudian diganti dengan Joko Widodo. 

Boleh tidak percaya, saya kemudian tumbuh sehat. Itu misteri.

Saya menghabiskan masa kecil di sebuah rumah bilik di pinggir kali, tepatnya di daerah Srambatan, pinggiran Solo.

Mungkin karena permukiman di kawasan kumuh seperti itu biaya kontraknya paling murah dan mampu dibayar Bapak. Suara air sungai yang mengalir deras menjadi pewarna hari kami. Namun, kami tidak lama berada di sana. Sebab, kami kemudian berpindah rumah lagi.

Tidak satu dua kali, tapi berkali-kali, dan selalu di pinggir sungai. 

Belakangan saya tahu, memang begitulah nasib keluarga-keluarga yang mengontrak rumah di bantaran sungai. Si pemilik rumah akan dengan ringan menyuruh sebuah keluarga pindah jika ada pengontrak rumah yang sudi membayar lebih mahal. 

Yang diusir tidak bisa protes, sebab tak ada yang mampu membayar kontrakan di akhir bulan. Jadi, jika kami dipaksa pindah, kami harus pindah. 

Saya masih terlalu kecil untuk paham situasi saat itu. Yang saya ingat, kami berulang kali keluar rumah, mengangkut barang-barang, masuk lagi ke rumah baru yang sama kumuhnya, dan menata barang-barang lagi.

Saya selalu lega ketika tahu rumah kami tetap di pinggir sungai. Saya belum mengerti saat itu bahwa rumah di bantaran adalah cerminan kehidupan yang sangat susah. Wajah kemiskinan. 

Yang saya pikirkan hanyalah suara air sungai itu sangat menghibur. Bunyi riaknya menyejukkan perasaan. 

Ya, saya tak merasa miskin sama sekali.

Hingga ketika saya makin besar saya menyadari bahwa ada banyak orang di luar sana yang memiliki rumah dengan kondisi lingkungan lebih baik. Banyak rumah berdinding tembok. Bukan bilik bambu yang berlubang.

Orang lain memiliki toilet atau kamar mandi yang layak, bukan menceburkan diri di kali ketika hendak mandi. Saya mulai paham siapa diri saya. Anak miskin. Walau begitu, saya tak berkecil hati.

Permukiman kumuh di bantaran kali itu mengajarkan saya kekuatan yang begitu dahsyat. Kaum marginal begitu tegar dan hidup penuh keberanian. Ketangguhan jiwa rakyat terbawah menjadi inspirasi besar saya." []