UNTUK INDONESIA
Idopu, Dompet Pendeteksi Nominal Uang untuk Tuna Netra
Dompet Idopu mampu menyebut nominal lembaran uang yang masuk secara benar.
Rizky Ajie Aprilianto memperlihatkan Idopu, dompet pintar pendeteksi nominal uang untuk kalangan tuna netra. (Foto: Tagar/Agus Joko Mulyono)

Semarang, (Tagar 14/9/2018) – Bermula dari rasa trenyuh mendengar kisah seorang tuna netra, tiga mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes) membuat barang yang unik dan inspiratif. Mereka membuat dompet pendeteksi nominal uang yang diberi nama Idopu.

Idopu merupakan kepanjangan dari Inovasi Dompet Pendeteksi Uang. Sesuai namanya, dompet ini mampu menyebut nominal lembaran uang yang masuk secara benar.

Adalah Rizky Ajie Aprilianto, Oky Putra Pamungkas dan Nur Anita, sang kreator dan pencipta Idopu. Rizky dan Oky kuliah di Fakultas Teknik sedangkan Nur Anita mengambil program studi Pendidikan Ekonomi.

Rizky menceritakan ide Idopu berawal dari cerita Amin, seorang tuna netra yang berjualan alat listrik di Pasar Mijen, Semarang, beberapa waktu lalu.  Saat itu Amin mengaku tertipu oleh seorang pembelinya yang mengaku menyerahkan uang Rp 100 ribu saat bertransaksi.

“Pembeli itu membeli barang seharga Rp 10 ribu tapi mengaku memberi uang Rp 100 ribu. Sehingga Pak Amin memberi pengembalian Rp 90 ribu, kasihan beliau kena tipu,” ujar Rizky saat ditemui diacara wisudanya di kampus Unnes di Gunungpati, Rabu (12/9).

Dari situlah, Rizky dan dua rekannya terbersit membuat alat yang bisa membantu kalangan tuna netra mudah mendeteksi lembaran uang. Termasuk mendeteksi uang palsu.

Ketika disampaikan ke pihak kampus, rencana tersebut diamini, malah proposalnya diajukan ke Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi untuk diikutkan dalam ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) 31 di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), 28 Agustus – 1 September lalu.

Mulai lah ketiganya merancang Idopu selama 3 bulan, mulai April hingga Juli. Dengan bekal pengetahuan teknik elektro yang didapatnya di Unnes, Rizky cs tidak kesulitan dalam membuat Idopu. Dasar kerja dari dompet ajaib ini adalah sensor warna untuk mendeteksi warna dari kertas uang.

“Jadi saat uang kertas dimasukkan, sensor akan membaca warna dari kertas uang itu,” ujar dia.
Idopu juga dilengkapi audio, Mp3 player, yang dihubungkan dengan sensor warna. Juga terkonek dengan mikro kontroler, baterai hingga perangkat semacam powerbank. Sehingga ketika selembar uang masuk, dompet akan merespons dengan mengeluarkan suara sesuai nilai nominal uangnya.

“Termasuk ketika yang dimasukkan adalah uang palsu maka akan terdengar peringatan ‘awas, uang palsu’,” lanjut dia.

Dari sisi akurasi deteksi warna, Rizky menjamin hampir 100 %. “93 persen, yang 7 persen dipengaruhi cahaya dari luar,” sebutnya.

Dengan demikian, bagi mereka yang punya batasan pandangan tidak akan lagi tertipu oleh pengakuan dari orang lain. “Sebenarnya di lembaran uang itu sudah dilengkapi kode tertentu.

Tapi kalau uang yang sudah lama beredar tentu akan membuat kesulitan rekan tuna netra untuk meraba dan mendeteksi,” beber Rizky.

Di ajang Pimnas 31 di UNY, kreasi Rizky dkk mendapat apresiasi yang luar biasa. Idopu membawa tim Unnes meraih perak. “Ini hadiah buat ibu saya yang tengah sakit stroke,” imbuh dia.

Rektor Unnes Prof Fathur Rokhman sangat mengapresiasi karya dari Rizky, Oky dan Nur Anita. Terlebih secara akademis, Rizky pada kelulusan tahun 2018 ini, diwisuda pada Rabu (13/8), meraih indeks prestasi komulatif (IPK) 3,64.

Fathur berharap karya tersebut bisa menjadi inspirasi bagi mahasiswa-mahasiswa Unnes lainnya untuk terus berinovasi dan berprestasi. “Kami akan mencoba hilirisasi agar alat ini bisa bermanfaat bagi masyarakat,” kata dia.

Disebutkan, pihak Unnes akan memfasilitasi beasiswa studi lebih lanjut mengingat ayahnya, Slamet Kadan telah meninggal dunia, dan ibunya, Tarida (62) tengah sakit.

“Cita-citanya jangan berhenti sampai S1, kami akan fasilitasi beasiswa,” tukas Guru Besar Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) ini. []

Berita terkait
0
Kementerian ATR/BPN Audit Hulu Hilir Penyebab Banjir
Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) akan mengaudit tata ruang dari hulu hingga hilir imbas dari banjir Jakarta.