UNTUK INDONESIA
Hujan dan Imlek
Hanya ada gerimis di Makassar pada hari Imlek. Tak ada hujan.
Ilustrasi. (Foto: Pixabay)

Makassar, (Tagar 6/2/2019) - Hanya ada gerimis kecil pada hari Imlek kemarin di Makassar, tak ada hujan sepanjang siang hingga malam. Padahal pada umumnya warga Tionghoa mengharapkan hujan pada hari Imlek.

Walaupun hanya gerimis, warga Tionghoa di Makassar bersuka cita menyambut Imlek yang jatuh pada hari Selasa (5/2). Mereka berkumpul bersama keluarga layaknya hari Lebaran bagi umat muslim.

Imlek bagi kaum Tionghoa sangat identik dengan musim hujan. Hujan saat hari raya Imlek dipecaya akan membawa berkah, bahkan akan membawa keberuntungan di masa setelahnya. Namun, tidak sedikit juga yang percaya bahwa hujan saat Imlek tak selalu dinanti.

Humas Klenteng Xian Ma di Jalan Sulawesi Kota Makassar, Robbyanto Rusli mengatakan tidak diketahui pasti sejarah kaitan antara hujan dan Tahun Baru China atau Imlek. Namun, pada dasarnya hujan dianggap berkah karena melambangkan rezeki. Sebab air merupakan kebutuhan utama bagi makhluk hidup.

Hujan diharapkan turun. Yang terpenting tak seberapa intensnya, namun mereka mengharapkan hujan turun di malam sebelum hari perayaan. Akan tetapi di hari perayaan hujan diharapkan sedang saja agar tak mengganggu aktivitas

"Karena saat Imlek kita mau bersilaturahmi, mengunjungi kerabat, dan sembahyang. Kalau hujan lebat, itu jadi halangan," kata Robby di Makassar, Selasa (5/2).

Memang pada hakikatnya pergantian tahun Imlek, menurut Robby, tak bisa dipisahkan kaitannya dari hujan. Bukan sekadar mitos, namun memang hari Imlek selalu bertepatan musim hujan. Di tahun 2019 Imlek di Sulsel bertepatan dengan musim hujan, yakni awal Februari. Warga Tionghoa berharap hujan tidak mengganggu aktivitas ibadah dan silaturahmi mereka.

"Selama ini Imlek memang berlangsung Januari atau Februari. Jadi memang jarang tidak terjadi hujan. Bersyukur karena tahun ini tidak terlalu deras dan tidak sampai sepanjang hari," kata Robby.

Robby mengungkapkan, perayaan Imlek dilalui masyarakat Tionghoa dengan beberapa kali agenda sembahyang. Puncaknya adalah sembahyang tinggi pada 12 Februari, dan Cap Go Meh, 19 Februari.

Selain ibadah sembahyang, terdapat sejumlah tradisi selama Imlek. Salah satunya Fangsheng, yakni melepaskan binatang ke alam. Yang dilepas biasanya berupa ikan dan burung. Kegiatan ini dipercaya memberikan peruntungan dalam kehidupan.

"Ini sudah dilakukan sejak dahulu. Melepas binatang berarti melepas dosa serta membebaskan kehidupan. Jadi jenis binatang yang sudah dilepaskan itu sudah tidak bisa dimakan lagi," dia mengungkapkan. []

Berita terkait
0
Semarak Perayaan Natal di Makassar
Semarak perayaan Natal di Makassar sudah mulai terlihat dan ditunjukkan anak-anak dalam sebuah festival dengan tarian dan pujian.