Grok AI dan Misteri Bekas Potongan Granit Aswan: Klaim Presisi 'Seperti Mesin' yang Masih Diperdebatkan
Data bekas potongan granit di tambang kuno Aswan dimasukkan ke Grok AI. Alih-alih menegaskan bahwa penumbuk dolerit adalah alat utama, AI mendeteksi kontradiksi. Namun sejumlah angka klaim yang viral belum terverifikasi secara ilmiah.
UZ
Sabtu, 10 Oktober 2026

Bekas potongan pada batu granit di tambang kuno Aswan, Mesir selatan, kembali menjadi perbincangan setelah sejumlah peneliti memasukkan data permukaan batu itu ke dalam Grok AI. Tujuannya menguji pertanyaan yang selama ini dianggap sudah selesai: bagaimana bangsa Mesir kuno memotong dan membentuk granit? Hasilnya, alih-alih menegaskan jawaban lama, AI tersebut justru mendeteksi sejumlah kontradiksi yang membuka perdebatan baru.
Selama puluhan tahun, penumbuk batu dolerit diyakini sebagai alat utama yang dipakai pekerja Mesir kuno untuk memecah dan membentuk granit. Namun, ketika Grok membandingkan bekas benturan dari eksperimen modern dengan alur melengkung yang masih terpelihara di dinding tambang, muncul ketidaksesuaian.
Kontradiksi yang Dibaca AI
Menurut narasi yang dibahas dalam video tersebut, dolerit memang mampu memecahkan granit, tetapi sulit menjelaskan sejumlah ciri yang tertinggal di tambang Aswan, antara lain:
- jalur potong yang stabil dan konsisten lebarnya;
- bekas yang tetap menerus melewati ruang sempit dan permukaan tertutup;
- tanda-tanda gerakan berulang yang terkendali di sepanjang jalur yang sama.
Jika semua bekas itu murni hasil pukulan satu per satu, maka kekuatan, sudut, dan posisi benturan semestinya berubah mengikuti postur serta kelelahan setiap pekerja. Kenyataannya, sebagian alur di Aswan tampak jauh lebih teratur.
Obelisk yang Tak Pernah Selesai
Tempat yang memicu seluruh pertanyaan ini adalah tambang granit kuno di Aswan, tempat sebuah obelisk yang belum selesai masih terbaring menempel pada batuan induknya selama lebih dari 3.000 tahun. Mengacu pada Kementerian Pariwisata dan Kepurbakalaan Mesir, monumen itu kemungkinan dipesan pada masa pemerintahan firaun perempuan Hatshepsut sekitar abad ke-15 SM.
Seandainya rampung, obelisk tersebut diperkirakan setinggi hampir 42 meter dengan bobot sekitar 1.168 ton — lebih besar daripada obelisk Mesir kuno mana pun yang pernah berdiri. Justru karena belum selesai, kondisinya sangat berharga: parit-parit tambangnya masih terbuka dan menyimpan jejak proses pemisahan blok granit raksasa dari batuan alami.
Uji Eksperimen dan Batas Tubuh Manusia
Untuk mengukur batas metode tradisional secara lebih akurat, Marian Marchish dan Marek Frastia dari Slovak University of Technology di Bratislava melakukan eksperimen di dekat obelisk yang belum selesai itu pada 2023. Mereka memakai kamera resolusi tinggi dan fotogrametri tiga dimensi untuk menghitung berapa banyak granit yang terpindahkan, bukan sekadar menilai hasilnya dengan mata.
Eksperimen itu menegaskan bahwa penumbuk dolerit memang bisa memecahkan granit. Namun, ada temuan penting lain: memecah batu dan menghasilkan setiap bekas yang terpelihara di Aswan bisa jadi dua persoalan yang sangat berbeda.
Pengukuran menunjukkan laju pemindahan material relatif rendah dibandingkan skala proyek sebesar obelisk yang belum selesai. Ketika pekerja mempercepat pukulan, ketelitian tidak meningkat. Sebagian pukulan membuat lubang dalam, sebagian lain hanya menghasilkan goresan atau merusak tepi. Lama-kelamaan permukaan berubah menjadi kumpulan zona benturan yang tidak rata — cerminan batas alami tubuh manusia, di mana kekuatan lengan berubah setiap ayunan dan sudut pergelangan tak bisa tetap konstan lewat ribuan gerakan.
Angka Klaim yang Perlu Diberi Catatan
Di ruang maya beredar sejumlah angka yang dikaitkan dengan analisis ini, misalnya variasi ukuran potongan sekitar 4,3 persen dari 847 potongan, konsistensi sudut masuk di bawah 2 derajat, serta kecocokan dengan teknologi modern seperti pemotong berlian putar, water jet, dan ultrasonik dengan tingkat keyakinan sekitar 94 persen.
Perlu ditegaskan, angka-angka tersebut berasal dari artikel sekunder dan klaim viral, bukan dari publikasi peer-review yang terverifikasi. Karena itu, semua angka itu sebaiknya dibaca sebagai klaim yang masih memerlukan pengujian ilmiah, bukan sebagai fakta yang sudah mapan.
Menarik, tapi Belum Menggantikan Arkeologi
Analisis berbasis AI ini menarik perhatian karena menunjukkan bagaimana kecerdasan buatan dapat menemukan pola dan ketidaksesuaian dari data permukaan batu. Meski demikian, temuan tersebut belum menggantikan penjelasan arkeologi yang ada maupun bukti lapangan. Alat batu dolerit tetap terbukti digunakan, dan sisa-sisa granit yang hancur serta dikerjakan kasar di sekitar obelisk konsisten dengan metode perkusi.
Pertanyaan sesungguhnya bukan lagi sekadar "apakah dolerit dipakai", melainkan bagaimana kombinasi teknik, tenaga kerja, dan pengetahuan teknis bangsa Mesir kuno mampu menghasilkan jalur potong yang begitu teratur. Sampai ada penelitian lanjutan yang terverifikasi, misteri bekas potongan granit Aswan tetap menjadi perdebatan terbuka antara penjelasan arkeologi konvensional dan hipotesis baru yang dipicu teknologi.
Berita Terkait

164 Negara Dukung Penggunaan Peta Dunia Baru
Syaiful W Harahap · 9 Sep 2026

PISA 2025 Tunjukkan Kemampuan Siswa Global Menurun, Bagaimana dengan Indonesia?
Syaiful W Harahap · 8 Sep 2026

El Nino Terus Menguat Berpotensi Jadi yang Terkuat dalam 40 Tahun Terakhir
Syaiful W Harahap · 5 Sep 2026

Korea Selatan Pertimbangkan Wajib Militer untuk Perempuan
Syaiful W Harahap · 3 Sep 2026


