TAGAR.id, Jakarta - Publik dibuat geger oleh kemunculan konflik antara DJ Panda dan selebritas Erika Carlina. Meski detil kronologi kasus belum seluruhnya terungkap ke publik, yang menjadi sorotan justru bukan pihak pria, melainkan Erika Carlina yang mendadak diserang oleh sebagian netizen.
Menariknya, serangan ini banyak dipicu oleh cuplikan podcast lama Erika yang sempat viral kembali. Dalam podcast tersebut, Erika dengan percaya diri menyebut dirinya sebagai seorang “playgirl” dan sosok perempuan yang dominan dalam hubungan. Klaim ini kemudian dianggap tidak sejalan dengan sikap Erika dalam kasus yang sedang mencuat, sehingga publik ramai-ramai mempertanyakan konsistensi antara citra dan kenyataan.
Terkait fenomena ini, Praktisi Lintrik Nusantara MS Alfa angkat bicara. Lintrik, dalam konteks ini, merujuk pada cara membaca dinamika batin, persona, dan vibrasi sosial dari seseorang—baik dalam ranah spiritual maupun sosial digital.
“Ini bukan sekadar konflik dua individu. Ini soal bagaimana publik membentuk ekspektasi berdasarkan citra digital seseorang, lalu kecewa ketika realita tidak sesuai,” ujar MS Alfa saat diwawancarai secara daring.
Citra Digital vs Energi Personal
Menurut MS Alfa, Erika Carlina telah sejak lama membangun persona sebagai perempuan modern, berani, dan bebas. Dalam berbagai kesempatan publik baik di podcast, media sosial, maupun acara TV Erika tampil sebagai sosok yang outspoken, bahkan secara terbuka membahas kehidupan personal dan seksualnya.
Namun saat konflik dengan DJ Panda muncul ke permukaan, banyak netizen melihat sisi Erika yang lebih kalem, bahkan cenderung diam dan tidak agresif. Ketidaksesuaian ini, menurut MS Alfa, memicu resonansi negatif dari netizen yang merasa ditipu oleh citra yang telah mereka konsumsi.
“Masyarakat kita sangat cepat membentuk ekspektasi. Saat seseorang tampil berani di media, publik menganggap dia akan kuat dan bisa melawan di dunia nyata. Tapi realitanya, energi personal seseorang bisa sangat berbeda dari persona digital mereka,” jelasnya.
Efek Domino dari Cuplikan Lama
Salah satu pemantik amarah publik terhadap Erika Carlina berasal dari video podcast lama yang kembali beredar. Dalam video tersebut, Erika menyatakan bahwa dirinya adalah tipe perempuan yang tidak bisa setia dan seringkali "bermain" dengan banyak pria.
Menurut MS Alfa, cuplikan ini memiliki efek domino karena memicu publik untuk membuat narasi bahwa Erika adalah pelaku dalam kasus DJ Panda, bukan korban.
“Potongan-potongan video itu seperti serpihan lintrik digital. Ia menyimpan energi masa lalu, tapi bisa menciptakan realitas baru jika diputar ulang tanpa konteks,” ujar MS Alfa. “Netizen mengkonsumsi itu bukan sebagai hiburan lagi, tapi sebagai bukti karakter.”
Padahal, lanjut MS Alfa, yang dilihat dari sebuah podcast tidak selalu merepresentasikan kondisi psikologis atau spiritual seseorang saat ini. “Manusia berubah. Tapi lintrik digital kadang membekukan seseorang dalam citra masa lalu mereka.”
Budaya Menghukum Perempuan yang Terlalu Terbuka
Lebih jauh, MS Alfa menyoroti kecenderungan publik Indonesia yang masih menghukum perempuan yang terlalu terbuka tentang seksualitas dan hubungan.
“Ketika perempuan bicara gamblang soal kehidupan pribadi, masyarakat kita masih belum siap. Ada budaya kolektif yang akan membalas dengan bentuk-bentuk penghakiman, seolah ingin menempatkan perempuan kembali ke posisi diam dan bersalah,” jelasnya.
Dalam kasus Erika Carlina, MS Alfa melihat pola ini muncul sangat jelas. Ia bahkan menyebutnya sebagai bentuk “hukuman kolektif atas kebebasan yang dianggap berlebihan.”
Lintrik Sosial: Mengapa Erika Jadi Sasaran?
Ditanya mengapa Erika Carlina yang menjadi sasaran serangan, bukan DJ Panda, MS Alfa menjawab singkat: “Karena Erika punya lintrik sosial yang lebih kuat.”
Lintrik sosial, menurutnya, adalah kekuatan vibrasi publik yang muncul dari kombinasi antara popularitas, kontroversi, dan jejak digital. Semakin tinggi lintrik sosial seseorang, semakin besar pula tekanan dan ekspektasi yang ditimpakan padanya.
“Erika bukan figur kecil. Dia terang, kuat, viral. Maka konsekuensinya: saat ia terkesan lemah atau tidak sesuai narasi yang dibentuk sendiri, publik langsung mengintervensi. Mereka bukan sekadar menonton, tapi merasa berhak mengoreksi,” tutup MS Alfa.