Indonesia
Denny Siregar: Mati Lampu Ala Orang Papua
Seharian tadi timeline penuh dengan keluhan listrik mati. Ributnya mengalahkan guncangan gempa semenit saja. Tulisan Denny Siregar.
Ilustrasi listrik mati, menyalakan lilin. (Foto: Pixabay)

Oleh: Denny Siregar*

Seharian tadi timeline penuh dengan keluhan mati lampu.

Macam-macam statusnya, ada yang teriak-teriak salahkan PLN, bahkan ada yang seperti mau mati saja. Ribut mati lampu ini mungkin yang mengalahkan adalah ketika Jakarta diguncang gempa satu menit saja. Ya, satu menit tapi ributnya seharian.

Saya ketawa bacanya. Saya pernah tinggal sebentar di Desa Ampas, Jayapura, mereka baru bisa menikmati listrik Desember 2016. Gila, nggak. Berpuluh-puluh tahun Indonesia merdeka, listrik baru nyala di sana dan mereka dengan tenang hidup di kegelapan.

Mau teriak kemana? Mau sekerasnya tetap gada yang dengar, sampai akhirnya Jokowi memimpin Indonesia.

Kalau masalah "profesionalisme" dalam menghadapi mati lampu, kita harus belajar pada saudara-saudara kita di luar Pulau Jawa. Mereka byar pet kayak minum obat, tiga kali sehari sebelum makan. Bahkan, jam berapa mati lampu sering dijadikan taruhan.

Lucu juga waktu saya ngetwit tentang betapa profesionalnya saudara kita di luar Jawa dalam menghadapi mati lampu. Mereka malah punya kesempatan mengejek warga di Jawa, khususnya Jakarta, yang cengeng baru mati lampu setengah hari saja.

Mau tidak mau, kita harus sabar menghadapi situasi black out total karena ada masalah di beberapa turbin dan transmisi.

Bahkan ada teman dari Papua membuat tips dan trik cara menghadapi lampu mati dengan menggunakan nama "Pelaku mati lampu bersertifikat". Dan seperti biasa warga Twitter, kita ketawa-ketawa aja menghadapi situasi yang terburuk.

Jakarta, dan beberapa kota besar di Jawa, memang jarang sekali menghadapi mati lampu. Buat mereka sih, bukan mati lampunya yang masalah, tapi karena batre hape sekarat dan gada listrik untuk men-charge-nya.

Jadi masalahnya lebih kepada mobilitas mereka di internet jadi terkendala. Secara internet sekarang sudah jadi kebutuhan pokok rohani. Apa aja ada di sana, mulai dari resep masakan sampe bagaimana bentuk 72 bidadari.

Mau tidak mau, kita harus sabar menghadapi situasi black out total karena ada masalah di beberapa turbin dan transmisi. Ya mau gimana lagi, namanya barang pasti ada waktunya rusak.

Ya, kan?

Saya malah menikmati mati lampu sekarang ini, karena bisa agak menjauhi media sosial. Lha, harus hemat batre yang sudah megap-megap mau sakaratul maut. Kalau gak karena harus menulis sesuatu, mungkin saya taruh hape di satu tempat dan mulai jalan-jalan menikmati pemandangan alam bebas yang segar.

Entahlah. Semoga ketika tulisan ini muncul, sudah bisa di-charge lagi hapenya. Kalau belum, ya nikmati saja.

Seperti nikmatin kopi di warkop seharga tiga rebuan. Meski gelasnya bau sabun karena nyucinya sembarangan, mau apa lagi? Yang penting murah meriah.

Seruput kopinya.

*Penulis buku Tuhan dalam Secangkir Kopi

Baca juga:

Berita terkait
0
Daftar 100 Universitas Terbaik Indonesia 2019
Kemenristekdikti telah mengumumkan klasterisasi perguruan tinggi Indonesia tahun 2019. Lihat 100 besar perguruan tinggi terbaik di Indonesia