Jakarta, (Tagar, 16/7/2018) – Keajaiban Kroasia menuju final Piala Dunia 2018 tak lepas dari gelandang serang Luka Modric. Bersama dirinya lini tengah Kroasia menjadi lebih sangar. Pemain yang membela Real Madrid ini, juga diganjar sebagai pemain terbaik Piala Dunia.

Namun di balik semua itu, terdapat kisah  bertolak belakang yang dialami Modric pada waktu kecil. Negara Kroasia saat Modric lahir, sama sekali belum mandiri, masih salah satu wilayah di bawah bendera negara komunis, Yugoslavia.

Modric lahir di kawasan Modrici, 9 September 1985. Dia tumbuh besar di kawasan Zaton Obrovački, sebuah desa di kawasan Zadar, Republik Sosialis Kroasia (sebelum menjadi Yugoslavia). Pada masa itu, wilayah tersebut rawan sekali terjadi konflik. Hari-hari Modric kecil terbilang dihiasi serangkaian bahaya yang bisa mengancam nyawanya akibat perang sipil.

Masa kecilnya banyak dihabiskan bersama sang kakek, Luka Sr, karena kedua orangtuanya, Stipe (ayah) dan Radojka (ibu) harus bekerja di pabrik rajut. Ini membuat Modric sangat dekat dengan kakeknya, yang tumbuh dan berkembang di bawah pengawasan sang kakek.

Pavle Balenovic, pembuat film dokumenter sempat membuat film mengenai kawanan serigala di Kroasia pada 1990. Dalam film tersebut terdapat cuplikan sebuah keluarga peternak kambing di Kroasia, sebelum Perang Balkan.

Balenovic saat itu melihat satu anak yang tengah menggiring kawanan kambing untuk kembali ke kandang dan langsung merekamnya. Sayangnya, setelah Perang Balkan, Pavle tidak pernah melihat keluarga itu lagi. Ternyata tak disangka, 28 tahun kemudian, bocah yang berada di film tersebut ternyata adalah Luka Modric.

Pada tahun 1991, Modric kembali diterpa kesedihan, sang kakek terbunuh dalam pemberontakan oleh tentara Serbia. Melihat kondisi yang semakin kacau, Modric dan keluarganya memutuskan pindah.

Modric sekeluarga pun mengungsi ke Kroasia. Mereka menetap di sebuah hotel di kawasan Kolovare. Namun, di sanalah dia mempunyai sebuah “teman”  yaitu sepak bola yang memberinya kebahagiaan dari kejamnya suara bom dan tembakan. Di tempat itu juga, mimpinya menjadi pesepak bola tak pernah padam.

Dari tempat itu, bakat Modric dibina oleh akademi bernama NZ Zadar. Tak lama berselang, ia mengikuti seleksi bersama Hajduk Split, namun ditolak karena postur pendeknya. Modric sempat putus asa dan tidak bermain sepak bola dalam waktu yang cukup lama.

Hingga akhirnya, Tomislav Basic, Kepala Akademi NZ Zadar datang untuk mengembalikan semangat dan kepercayaan diri Modric yang hancur karena penolakan Hajduk. Basic juga berusaha keras agar karier Modric berkembang, salah satunya dengan terus membujuk Dynamo Zagreb agar mau melihat talenta emas Modric.

Luka ModricModric saat tinggal di penginapan, bakat sepak bola Modric ditemukan oleh pelatih klub lokal NK Zadar, Josip Bajlo. (Foto: Pinterest)

Modric akhirnya masuk ke Zagreb dan menawarinya kontrak berdurasi 10 tahun. Dengan gaji layak yang diterimanya di klub tersebut, Modric mampu membeli sebuah apartemen bagus untuk keluarganya yang sebelumnya tinggal di rumah susun pengungsian. Dia juga turut membantu para sahabatnya mantan sesama pengungsi untuk berusaha di Zagreb, Zadar dan Mudrici.

Di sana pula dia mendapatkan istri cantik Vanja Bosnic yang hingga kini dikaruniai tiga orang anak.

Kemampauan olah bola Modric, dilirik manajer asal Spanyol, Juande Ramos. Ramos berani menggelontorkan dana 22 juta euro untuk membawa Modric ke Tottenham. Selanjutnya, petualangan dari Tottenham ke Madrid adalah sejarah, dengan torehan empat gelar Liga Champions. Bisa dibilang, Modric merupakan salah satu playmaker terbaik dunia.

Namun dengan gaji mencapai Rp 3 miliar per pekan bersama Real Madrid, Luka Modric tampaknya lebih memilih untuk hidup sederhana. Hal itu terlihat dari postingan Instagram-nya yang tidak pernah menunjukkan kemewahan.

Luka ModricKeluarga Luka Modric dengan tiga orang anak. (Foto: Instagram/Luka Modric)

Meski memiliki kisah hidup menyedihkan, Modric yang dari keluarga pengungsi korban perang, mendapat hikmah dari perjalanan hidup yaitu kesuksesan memang butuh mental baja dan keberanian dalam menghadapi realita sulit kehidupan.

“Perang membuatku lebih kuat. Itu adalah waktu yang sangat sulit buatku dan keluarga. Aku tidak ingin menyimpan kisah itu selamanya, tapi aku tidak ingin melupakannya. Sekarang, aku memiliki keyakinan siap menghadapi apa pun,” kata Modric.

Persoalan hidup masa lalu dijadikan pemacu untuk lebih baik. Semua dilakoni dengan sederhana dan rendah hati, bersyukur pada sang pencipta. Dialah simbol personifikasi yang mengamalkan sosialisme religius di alam nyata. (dbs/gil)