Cebong vs Kampret, Cicak vs Buaya, Sapi dan Kerbau
Cebong vs kampret, cicak vs buaya, sapi dan kerbau, nama-nama hewan populer dalam percaturan politik dan hukum Indonesia.
Cebong vs Kampret, Cicak vs Buaya, Sapi dan Kerbau | Ilustrasi kecebong dan kampret. (Foto: Tagar/Gemilang Isromi Nuari)

Jakarta, (Tagar 26/6/2018) - Cebong dan kampret, dua nama binatang yang sangat populer di kalangan netizen Indonesia sejak pemilihan presiden 2014. Cebong biasa dilekatkan pada pendukung Jokowi, sedangkan kampret biasa dilekatkan pada pendukung Prabowo Subianto.

Olok-olok di antara mereka terutama antara cebong dan kampret militan. Mereka saling mengejek dan menyindir di media sosial. 

Ada yang menanggapi santai sebutan-sebutan nama hewan itu, tidak mempermasalahkannya, bahkan bangga misalnya dengan mengunggah foto-foto kecebong imut disertai kata-kata pengakuan bahwa mereka bangga menjadi bagian dari kecebong.  

Berikut di antara kata netizen saat ditanyakan apakah merasa lucu atau kesal disebut kecebong.

"No problem, asal jangan disebut pekaes, hahahaha."

"Lucu."

"Tidak terasa apa-apa, wong kita mendukung pemerintahan yang sah."

"Sejelek-jelek kecebong nggak akan pernah mau jadi kampret."

"Tergantung situasi. Bila disebut untuk sebuah guyonan ya nggak apa-apa. Kalau disebut untuk sebuah hinaan, saya nggak suka."

"Merasa tersanjung dan terharu."

"Asal jangan dikutuk aja. Kalau cuma sebutan, nggak apa-apa."

"Karena gue kece, gue sih asyik saja. Mungkin yang memble yang protes... *siul-siul."

"Dalam konteks dukungan untuk Presiden Jokowi, saya senang."

"Gemesin."

Sedangkan pada pertanyaan apakah merasa lucu atau kesal disebut kampret, tak ada satu netizen pun memberikan komentar. 

Pertanyaan terbuka diajukan Selasa sore (26/6) melalui Facebook. 

Ilustrasi Sapi vs KerbauIlustrasi sapi dan kerbau. (Foto: Tagar/Gemilang Isromi Nuari)

Tidak terbatas pada cebong dan kampret, ada juga netizen melekatkan sapi pada partai politik tertentu karena satu di antara kadernya terlibat tindak pidana korupsi impor daging sapi. Peristiwa korupsi daging sapi itu terjadi pada 2013, namun olok-olok sapi kadang masih terdengar hingga sekarang. 

Sementara itu kerbau atau kebo populer pada zaman pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Ani Yudhyono dalam acara Rosi dan Keluarga SBY di Kompas TV, Jumat (12/8/2017) mengaku sebutan kerbau yang ditujukan pada suaminya sangat menyakitkannya.

"Kalau fitnah, kemudian hinaan yang saya sendiri tidak bisa menahannya, terutama ya mungkin semua rakyat Indonesia masih ingat, seekor kerbau ditulisi SBY menyakitkan sekali di hati saya, itulah kenapa saya sampai menangis," ujarnya kala itu.

Dia yakin, semua istri akan bereaksi jika suaminya dihina sedemikan rupa. Dia bahkan menggunakan istilah 'baper' atau bawa perasaan. 

"Apa iya sih ada seorang istri yang diam saja kalau suaminya dibegitukan. Saya kira semua pasti baper, dibawa perasaan," kata Ani.

Unjuk rasa 100 hari pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, 28 Januari 2010, menarik perhatian media. Itu karena pendemo membawa kerbau berkulit hitam ditulisi 'Si BuYa'. Bagian bokongnya ditempeli gambar pria berpeci dengan tulisan bernada seruan 'Turun!'. Media televisi memutar gambar kerbau itu berulang, sejak pagi hingga malam. 

Presiden Yudhoyono pun berkomentar ihwal unjuk rasa tersebut sebelum memimpin rapat pada 2 Februari 2010. Mantan Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan itu meminta masyarakat yang berdemo memperhatikan norma kepantasan. Setidaknya, setelah reaksi itu, Yudhoyono memperlihatkan pada publik bahwa dia tersinggung oleh Kerbau 'Si Buya'.

Ilustrasi Cicak vs BuayaIlustrasi cicak vs buaya (Tagar/Gemilang Isromi Nuari)

Pada 2009 nama cicak dan buaya menggema di ruang pemberitaan, bersamaan mencuatnya perseteruan KPK dan Polri. Personifikasi itu pertama kali dicetuskan Komjen Pol Susno Duadji Kabareskrim Mabes Polri pada masa itu.

Konfrontasi cicak dan buaya merupakan timbunan rasa ketidakpuasan serta rasa ketidakpercayaan terhadap bagian administrasi publik lembaga penegakan hukum di Indonesia yakni Kejaksaan dan Kepolisian yang dipersonifikasi sebagai buaya sedangkan pihak yang berlawanan menyebut dirinya sebagai cicak. 

Dalam wawancara dengan Majalah Tempo, 6 Juli 2009, Susno mengatakan cicak kok mau melawan buaya sebagai personifikasi KPK sebagai cicak, sementara Kepolisian sebagai buaya. Dalam perkembangan selanjutnya buaya berubah menjadi pengganti tikus yang dulu diidentikkan dengan para pelaku korupsi.

Arteria Dahlan anggota DPR dari PDI Perjuangan menilai kurang pas guyonan-guyonan di media sosial dengan menyebut nama-nama hewan untuk mengolok-olok seseorang atau kelompok atau partai politik. 

"Seru-seruan? Lucu-lucuan? Masih banyak kelucuan lain. Mau sampai kapan lucu-lucuan yang seperti itu. Kapan bangsa ini punya adab kelucuan yang saling menghormati, bahwa perbedaan adalah hal biasa dalam demokrasi," ujar Arteria saat dihubungi Tagar News, Selasa (26/6) siang.

Ia menjelaskan bahwa kurang pas melontarkan perkataan-perkataan tersebut terlebih kalau ditujukan pada tokoh-tokoh bangsa, calon-calon pemimpin di pemerintahan, orang-orang pilihan. Sudah difilter melalui partai politik, masing-masing mempunyai konstituen.

"Pendukung-pendukung harus selektif, membangun demokrasi bermartabat. Sana-sini sebaiknya memilih diksi yang terhormat," kata dia.

Sedangkan fenomena cicak versus buaya pada zamannya dulu, Arteria mengatakan bahwa konteksnya berbeda. Istilah cicak versus buaya muncul untuk menganalogikan antara pengaruh yang powerful versus unpowerful.

Kalau cebong, kampret, sapi, kerbau, "Itu  sumpah serapah saja."

Ia mengatakan sebaiknya netizen menghindari pilihan kata atau bahasa tidak patut itu, terlebih bila ditujukan pada figur seorang tokoh, atau partai politik. 

"Partai politik kan pilar demokrasi," ucapnya. 

"Butuh waktu demokrasi lebih dewasa lagi. Susah mencegahnya. Warna boleh beda, kita saudara," lanjutnya.

Ia menyarankan sebaiknya netizen menggunakan diksi yang mempererat persatuan bangsa. (af)

Berita terkait
0
Mengenal Lebih Dekat Wirda Mansur Film 'The Santri'
Kontroversi film The Santri karya Livi Zheng, menyeret nama putri Ustaz Yusuf Mansur, Wirda Mansur, yang ikut berperan dalam film tersebut.