Untuk Indonesia
BJ Habibie Presiden yang Berani Tutup TPL
BJ Habibie, bagi kalangan aktivis pro lingkungan Danau Toba dan Tanah Batak, merupakan tokoh yang tak dapat dilupakan.
Mantan Presiden BJ Habibie menghadiri pembukaan Sidang Tahunan MPR Tahun 2017 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu, 16 Agustus 2019. (Foto: Antara/Akbar Nugroho Gumay)

Medan - BJ Habibie, bagi kalangan aktivis pro lingkungan Danau Toba dan Tanah Batak, merupakan tokoh yang tak dapat dilupakan. Betapa tidak, Habibie adalah tokoh yang berani mengambil keputusan menutup PT Toba Pulp Lestari (TPL), dulu bernama PT Inti Indorayon Utama (IIU) ketika ia menjabat sebagai Presiden RI.

Sejarah mencatat, setelah Soeharto lengser dari jabatannya, BJ Habibie menggantikan jabatannya sebagai Presiden RI ke-3 setelah dilantik pada 21 Mei 1998.

Kemudian pada 11 Maret 1999, BJ Habibie mengeluarkan pemberhentian operasional PT IIU setelah rakyat berulangkali melakukan aksi menuntut ditutupnya perusahaan bubur kertas itu.

Salah satu saksi sejarah yang menyimpan kenangan mengenai kemelut rakyat di Porsea melawan TPL ialah pendiri Kelompok Studi dan Pengembangan Prakarsa Masyarakat (KPPM) Prof Dr Bungaran Antonius Simanjuntak.

Berbagai gejolak dihadapi masyarakat yang diprakarsai berbagai elemen dan lembaga swadaya masyarakat yang pro terhadap lingkungan.

Bahkan, aksi penolakan masyarakat terhadap perusahaan itu telah menelan korban jiwa, yakni Fernando Sitorus yang menjadi korban tembakan peluru saat terjadinya aksi penolakan dari masyarakat terhadap IIU.

Yang nutup itu (PT IUU) Habibie, yang buka itu Megawati, gila nggak?

Dalam suatu wawancara dengan Tagar belum lama ini, Bungaran mengatakan bahwa TPL tidak akan pernah ditutup sepanjang pejabat, baik tingkat pusat hingga daerah, tidak memiliki kemauan politik (political will) yang kuat.

"It’s depend on the government (itu tergantung pada pemerintahnya). Zaman Soeharto kami tidak bisa apa-apa. Itu kan kejadian pada zaman Soerhato," kata Bungaran.

Namun beda halnya pada masa BJ Habibie duduk sebagai presiden, perusahaan itu pun langsung ditutup.

"Yang nutup itu (PT IUU) Habibie, yang buka itu Megawati, gila nggak? Cuma Megawati bilang rayon serat tidak ikut, hanya rayon. Benci kali aku lihat itu (Megawati) waktu itu," kata Bungaran.

Jauh sebelum itu, Habibie juga dikenal sangat pro terhadap lingkungan Danau Toba. Pada 17 Mei 1985, digelar rapat ilmiah Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BBPT) mengenai rencana proyek dan rayon di wilayah Otorita Asahan. Saat itu, Habibie berbeda pendapat dengan Menneg KLH Emil Salim tentang kelayakan hulu Sungai Asahan, Sosor Ladang, sebagai lokasi pabrik.

Kemudian pada 13 November 1986, terbitlah Surat Keputusan Bersama (SKB) Menristek/Ketua BPPT BJ Habibie dan Menneg KLH Emil Salim tentang syarat operasi PT IIU. Di dalamnya ditekankan persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi oleh PT IIU dalam melaksanakan pembangunan dan operasi pabrik pulp dan rayon terpadu dengan wawasan lingkungan.

Bagi Prof BAS, langkah penutupan TPL oleh BJ Habibie merupakan jasa besar bagi orang Batak, sekalipun ia bukan orang Batak. Penutupan itu merupakan salah satu wujud kemenangan terhadap penolakan kehadiran TPL di Tanah Batak.

Habibie meninggal dunia pada Rabu 11 September 2019. Sosok yang pernah dijuluki "jenius Indonesia", kelahiran Parepare, Sulawesi Selatan, 25 Juni 1936 itu meninggal di Jakarta pada usia 83 tahun.

Namanya akan melekat dalam sejarah dalam upaya kelestarian lingkungan di Tanah Batak. []

Berita terkait
Salat Gaib untuk Presiden ke-3 RI BJ Habibie
Din Syamsudin menyerukan umat Islam melaksanakan salat gaib untuk mendoakan mendiang BJ Habibie.
Jutaan Generasi Tahun 80-an, Ingin Seperti Habibie
Meninggalnya salah satu putra terbaik Indonesia, meninggalkan duka mendalam termasuk di antaranya masyarakat Kabupaten Kulon Progo.
Zulkifli Hasan: Habibie Otak Jerman Hati Mekkah
Ketua Umum Partai Amanat Nasional Zulkifli Hasan mengatakan sosok negarawan itu telah pergi meninggalkan luka mendalam.
0
Pengaruh Tragedi 11 September Terhadap Perekonomian AS
Pemerintah Amerika Serikat mengumumkan menyiapkan dana sebesar 100 miliar dollar AS untuk mengantisipasi krisis ekonomi di negara tersebut.