Biografi Torro Margens di Dunia Perfilman

Keputusan awal untuk hijrah ke Jakarta dan mengejar renjana sebagai bintang film perlahan mulai membuahkan hasil.
Selamat jalan Torro Margens. (Foto: Istimewa)

Jakarta, (Tagar 4/1/2019) - Kabar duka kembali datang dari dunia seni peran, aktor yang piawai memerankan tokoh antagonis, Torro Margens meninggal dunia, Jumat dini hari (4/1) pukul 00:45 WIB.

Kabar tersebut pertama kali diketahui publik melalui postingan akun Instagram anak Torro, @Tomamargens yang menginformasikan kepergian Aktor yang telah menggeluti dunia akting sejak tahun 70an tersebut.

"Minta maaf atas semua kesalahan ayah @torromargens86 ya temen temen. Ayah jam 00.45 tadi udah tenang dalam tidurnya ga ngerasain sakit lagi. Maafin atas semua kesalahannya biar beliau tenang menuju sisiNya. Amin," tulis keterangan unggahan tersebut seperti di kutip Antara, Jumat (4/1).

Torro Margens lahir di Paduraksa, Pemalang Jawa Tengah, 5 Juli 1950 dengan nama lahir Sutoro Margono. Toro sempat bekerja sebagai tukang cat trotoar jalan, kemudian memulai karir di dunia akting pada tahun 1970. Sempat berbelok sebagai pekerja kantoran, ia kembali menekuni dunia akting. Karena telah terlanjur lekat dijiwanya tersebut.

Di era 70an, Torro membintangi berbagai genre film bersama para aktor kenamaan saat itu. Di antaranya film bergenre dewasa berjudul Antara Surga dan Neraka (1976) bersama Ratno Timoer dan Yati Octavia, genre aksi laga Si Buta Dari Goa Hantu, Duel Dikawah Bromo (1977) bersama  Mila Karmila, juga film dengan genre drama percintaan Sirkuit Cinta bersama aktor laga nasional George Rudi.

Keputusan awal untuk hijrah ke Jakarta dan mengejar renjana sebagai bintang film perlahan mulai membuahkan hasil. Kariernya kian berkembang pesat dan namanya makin dikenal masyarakat sebagai aktor spesialis tokoh antagonis dan menyeramkan.

Hampir semua genre film pernah dibintanginya, tokoh-tokoh di film Komedi, Horor sampai film kolosal seperti Tutur Tinular III pada tahun 1992 diperankan Toro dengan begitu baik. Tak puas dengan hanya bermain film, Torro sempat menjadi sutradara di beberapa judul film, di antaranya Bercinta Dalam Badai (1984), Preman (1985) dan film laga Saur Sepuh V (1992).

Komitmen Torro pada dunia seni peran tetap tinggi, meski badai krisis ekonomi menghantam Indonesia awal tahun 90an, dan meluluhlantakan indutri perfilman nasional ia tetap bermain pada banyak judul sinetron dan serial televisi.

Awal tahun 2000 Torro kembali menancapkan pengaruhnya, sebagai sosok aktor bermuka jahat dan menyeramkan. Pria asal Pemalang ini didapuk sebagai pembawa acara sebuah program misteri di salah satu stasiun televisi nasional, Gentayangan. 

Selain itu, sempat Torro menjadi host di acara uji nyali dengan tajuk Uka-uka, membuatnya dikenal oleh penonton yang berumur jauh lebih muda. Sehingga, kaum milenials mengenal kiprah aktor yang fasih berbahasa Inggris ini.

Pada masanya, Torro Margens menjadi aktor yang paling ditakuti oleh mendiang presenter Olga Saputra. Karena memiliki tampang dan suara menyeramkan. Toro kerap diundang sebagai tamu di acara yang dibawakan Olga, menjadi gimmick hiburan tersendiri kala itu.

Sampai jelang akhir hayat, Torro tetap berkarya lewat film berjudul Love For Sale bersama aktor Gading Marten. Dalam film tersebut, terlihat tubuh Toro yang memerankan karakter ayah palsu dari bintang utama wanita, tampak sudah menua dan kurus.

Sepanjang hidup, setidaknya sudah sebanyak 60 judul film telah dibintangi. Belasan judul sinetron dan serial televisi, membawakan satu program televisi dan menjadi model di empat iklan televisi.

Selamat jalan Torro Margens, selamanya engkau akan dikenang sebagai salah satu aktor dengan karakter terkuat yang dimiliki oleh dunia hiburan nasional. []

Berita terkait