Belanja Militer Naik, Bisa Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi?

Pertengahan Maret 2025, parlemen Jerman sepakat meloloskan paket investasi infrastruktur bernilai ratusan miliar euro
Munisi kaliber 155 milimeter buatan perusahaan Rheinmetall (Foto: dw.com/id - Philipp Schulze/dpa/picture alliance)

TAGAR.id – Industri senjata Jerman berkembang pesat berkat program investasi besar-besaran yang dijalankan negara. Apakah belanja militer bisa mendorong pertumbuhan ekonomi? Sabine Kinkartz melaporkannya untuk Deutsche Welle (DW, 10 Juli 2025).

Pertengahan Maret 2025, parlemen Jerman sepakat meloloskan paket investasi infrastruktur bernilai ratusan miliar euro. Tujuannya adalah untuk menyediakan dana yang diperlukan untuk membuat Jerman dan angkatan bersenjatanya, Bundeswehr, "siap berperang," seperti yang berulang kali dituntut Menteri Pertahanan Boris Pistorius.

Tak lama setelah menjabat sebagai kanselir awal tahun ini, Friedrich Merz mengatakan ia ingin menjadikan Bundeswehr sebagai tentara konvensional terkuat di Eropa. Membengkaknya anggaran militer adalah berita baik bagi perusahaan-perusahaan yang bergerak di sektor pertahanan.

Selama puluhan tahun, sektor ini telah kehilangan peran ekonominya. Kebijakan baru pemerintah Jerman ibarat durian runtuh Pada tahun 2020, saham Rheinmetall, produsen senjata terbesar di Jerman, dijual seharga 59 euro setara dengan Rp 1.118.227 — pada Juni 2025, harganya sudah diperdagangkan antara 1.700 euro setara dengan Rp 32.220.100 dan 1.800 euro setara dengan Rp 34.115.400 per saham. Bank Swiss UBS memperkirakan, saham Rheinmetal bisa mencapai 2.200 euro setara dengan Rp 41.696.600 pada tahun ini.

Paket stimulus 'raksasa' untuk perekonomian?

Masa-masa ini adalah masa keemasan bagi produsen senjata Jerman. Para petinggi industri senjata terus menegaskan, belanja pertahanan tidak hanya menguntungkan sektor mereka tetapi juga perekonomian secara keseluruhan.

"Pengeluaran pertahanan adalah program stimulus ekonomi yang sangat besar," kata Oliver Dörre, CEO perusahaan kontraktor pertahanan Hensoldt, kepada DW dalam sebuah acara di Frankfurt pada bulan Maret.

Para anggota parlemen berharap belanja besar-besaran ini akan membantu memodernisasi industri Jerman dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Namun, para ekonom meragukan hal itu.

"Peningkatan belanja militer pemerintah akan memberikan dorongan bagi perekonomian Jerman, tetapi stimulus ekonominya akan relatif moderat," tulis Tom Krebs, seorang profesor ekonomi di Universitas Mannheim, dalam sebuah pernyataan untuk komisi anggaran Bundestag.

militer jermanMiliter Jerman, Bundeswehr, sedang berlatih (Foto: dw.com/id)

Dampak pada perekonomian relatif kecil

Tom Krebs dan rekannya Patrick Kaczmarczyk melakukan penelitian, untuk mengetahui sejauh mana pengeluaran tambahan pemerintah akan meningkatkan produk domestik bruto Jerman, atau nilai total output ekonomi.

Para peneliti menemukan, pengeluaran militer akan memiliki dampak maksimum sebesar 0,5 — artinya, dalam skenario terbaik, pengeluaran pemerintah sebesar 1 euro setara dengan Rp 18.953 hanya akan menghasilkan 50 sen aktivitas ekonomi tambahan. Namun, investasi dalam infrastruktur, pendidikan, fasilitas penitipan anak, pusat penitipan anak, dan sekolah akan melipatgandakan atau bahkan melipat-tigakan laba atas investasi.

"Dari perspektif ekonomi, militerisasi ekonomi Jerman yang direncanakan lebih merupakan pertaruhan berisiko dengan keuntungan ekonomi keseluruhan yang rendah," kata Tom Krebs.

Penjelasannya sederhana. Setelah sebuah tank selesai dibuat, tank itu akan diparkir di suatu tempat atau, dalam kasus terburuk, dihancurkan dalam pertempuran. Dengan kata lain, tank tidak menciptakan nilai ekonomi tambahan apa pun. Pengeluaran pertahanan seperti membayar asuransi, kata para ahli: Anda melakukan pembayaran agar memiliki perlindungan jika terjadi keadaan darurat. Jika tidak terjadi situasi darurat, uangnya akan hilang begitu saja.

Sebaliknya, jika negara berinvestasi dalam infrastruktur transportasi, barang-barang dapat diangkut melalui jalan raya, jembatan, dan rel kereta api ini. Jika taman kanak-kanak yang dibangun, orang tua lebih bebas bekerja dan menghasilkan uang. Investasi di bidang pendidikan berarti kaum muda mendapatkan pendidikan yang mereka butuhkan untuk masa depan mereka.

Perusahaan lain lirik sektor pertahanan

Karena anggaran militer membengkat, sekarang banyak perusahaan yang juga ingin terjun ke sektor pertahanan. Deutz AG yang berpusat di Köln misalnya, hingga kini memproduksi truk-truk besar, kendaraan pertanian, ekskavator, dan mesin besar lainnya. Karena ekonomi global melemah, penjualan perusahaan merosot sekitar 12% pada tahun 2024. Deutz AG ingin memperluas bidang lini bisnis mesin untuk kendaraan militer.

"Pertahanan adalah pasar yang sangat penting dan menarik bagi kami dengan potensi pertumbuhan yang besar,"kata Direktur Utama Geutsz AG Sebastian Schulte kepada DW.

Produsen mobil Jerman Volkswagen adalah contoh lain. Perusahaan ini sedang mengalami krisis dan telah memangkas ribuan pekerjaan. Sekarang Volkswagen menjajaki kemungkinan kerja sama dengan Rheinmetall untuk membuat panser. (Artikel ini pertama kali dirilis dalam bahasa Jerman/Diadaptasi oleh: Hendra Pasuhuk/Editor: Agus Setiawan)/dw.com/id. []

Berita terkait
SIPRI Sebut Belanja Militer Negara di Seluruh Dunia Melonjak Naik
Sebuah wadah pemikir keamanan global terkemuka, tahun 2022 para peneliti SIPRI mencatat lonjakan tahunan sebesar 3,7%
0
Belanja Militer Naik, Bisa Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi?
Pertengahan Maret 2025, parlemen Jerman sepakat meloloskan paket investasi infrastruktur bernilai ratusan miliar euro