Indonesia
Andi Arief Berbicara Tentang People Power
Wakil Sekretaris Partai Demokrat Andi Arief berbicara tentang terminologi people power dan amuk massa.
Mantan Wasekjen Partai Demokrat Andi Arief. (Foto: Twitter/@andiarief__)

Jakarta - Wakil Sekretaris Partai Demokrat Andi Arief berbicara tentang terminologi people power dan amuk massa. Menurut Andi, keduanya merupakan konsep yang berbeda dalam tatanan demokrasi.

Aktivis yang pernah menjadi korban orde baru itu mengatakan people power hanya pernah sekali terjadi di Indonesia. Tepatnya pada November 1998, saat MPR didorong oleh mahasiswa menolak pertanggungjawaban Presiden Indonesia ke-3 Bacharuddin Jusuf Habibie.

"People power bisa konstitusional, bisa juga bahkan kebanyakan inkonstitisional. People power inkonstitisional itu penumbangan Marcos. Sedangkan yang konstitusional adalah saat MPR mendapat desakan menolak pertanggungjawaban Habibie," jelasnya.

Seperti diketahui, pada November 1998 pemerintahan transisi Indonesia mengadakan Sidang Istimewa MPR 1998 untuk menentukan pemilu selanjutnya dan agenda-agenda pemerintah berikutnya. Namun, masyarakat bersama mahasiswa tidak lagi percaya DPR/MPR.

Sepanjang Sidang Istimewa MPR itu masyarakat bersama mahasiwa turun ke jalan di kota-kota besar di Indonesia menolak Sidang Istimewa dan tegas menentang militer dari politik serta penghapusan dwifungsi ABRI/TNI. 

Baca juga: Kakak Ahok Senggol People Power Kubu Prabowo-Sandiaga

Sejak saat itu aparat menjadi represif, menekan mashasiwa yang menyerukan perubahan. Pada 13 November 1998, aparat mulai menembak mahasiswa dan menculik sejumlah aktivis yang berdemonstrasi.

Andi Arief menjadi satu dari sekian aktivis yang sempat diculik Tim Mawar pada 1998. Dia bersaksi soal people power pada 21 tahun yang lalu itu. 

People power November 1998 jumlah masa yang mendukung penolakan pertanggungjawaban Habibie kira-kira kepalanya di gedung DPR/MPR dan buntutnya di Salemba. People power menolak pertanggungjawaban Habibie November 1998, memang jumlah masanya tidak bisa diperlihatkan oleh drone. Saat itu belum ada. Itulah jumlah masa terbesar dalam peristiwa politik Indonesia

Berbeda dengan people power, Andi Arief lantas menerangkan apa itu amuk massa. Dalam catatatanya, pernah terjadi dalam peristiwa pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) 30 September 1965, Peristiwa Malari (Malapetaka 15 Januari 1974), tahun 1978 di mana mahasiswa ITB menuntut menurunkan dan mengganti Soeharto sebagai Presiden Indonesia. Puncaknya terjadi pada tahun 1998, di mana Soeharto lengser dari tampuk kepemimpinan.

People power yang terjadi saat masa bersejarah itu memang melibatkan jumlah orang yang banyak, namun bukan berarti kerusuhan yang juga melibatkan banyak orang juga bisa disebut people power. Andi menyebut amuk massa bukan hal yang langka terjadi.

"Kalau amuk massa dan social unrest terjadi berkali-kali, 1965, 1974, 1978, 1986, dan Mei 1998. People Power itu bukan peristiwa yang gampang terjadi," jelas Andi.

Sebab itu, ia mengimbau kepada seluruh kader serta simpatisan Partai Demokrat untuk tidak mencederai proses demokrasi di Indonesia, utamanya saat pengumuman presiden terpilih oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU).

"Kepada seluruh kader dan simpatisan Partai Demokrat untuk bersama-sama menjaga keteduhan hingga 22 Mei. Hentikan silang pendapat dengan kawan koalisi, apa yang sudah terjadi adalah dinamika menjaga kehormatan partai," ujar dia.

"Sebagaimana pemilu-pemilu sebelumnya, maka 22 Mei mendatang akan ada yang menerima dan menentang hasil pengumuman KPU. Keduanya punya alasan. Ada tata caranya. Keduanya harus mendapat perlindungan hukum yang sama," tutup Andi.

Baca juga: Bupati Tapanuli Utara: Tolak People Power

Berita terkait
0
Di Pamekasan, Sembako Penerima BPNT Ditahan
Penerima program Bantuan Pangan Non Tunai tidak bisa membawa sembako meski transaksi sudah terjadi dan salso di ATM sudah Rp 0.