TAGAR.id – Pemindahan Aung San Suu Kyi jadi tahanan rumah disambut hati-hati oleh dunia internasional, tetapi para ahli menilai militer Myanmar mungkin menggunakannya untuk meningkatkan legitimasi di tengah perang saudara. David Hutt melaporkannya untuk Deutsche Welle (DW, 7 Mei 2026).
Pekan lalu, media pemerintah Myanmar melaporkan bahwa eks pemimpin Aung San Suu Kyi, 80 tahun, telah dipindahkan dari penjara ke tahanan rumah setelah menghabiskan lebih dari lima tahun di balik jeruji besi. Peraih Nobel Perdamaian yang memimpin Naypyidaw sebagai penasihat negara antara 2016 hingga 2021 tersebut ditahan sejak kudeta militer pada Februari 2021.
Dia sebelumnya menjalani hukuman di lokasi yang dirahasiakan di ibu kota Myanmar terkait serangkaian tuduhan, termasuk korupsi, kecurangan pemilu, dan pelanggaran aturan kerahasiaan negara. Pendukung Aung San Suu Kyi menilai klaim tuduhan tersebut sebagai rekayasa untuk menyingkirkannya dari politik.
Aung San Suu Kyi merupakan seorang aktivis yang dikenal dunia dan putri dari pahlawan kemerdekaan Myanmar, Jenderal Aung San. Dia sempat berselisih dengan pemerintahan Myanmar saat itu selama puluhan tahun dan menghabiskan hampir 15 tahun dalam tahanan antara 1989 dan 2010. Ketika dibebaskan pada 2010, dia disambut secara internasional sebagai momen bersejarah bagi Myanmar dan menjadikan Aung San Suu Kyi sebagai salah satu simbol perlawanan damai yang paling dikenal di dunia.
Partainya, National League for Democracy (NLD) atau Liga Nasional Demokrasi, juga mengalami represi intens di bawah pemerintahan militer sebelumnya. Pada 2015, partai tersebut meraih kemenangan telak dalam pemilihan umum dan diizinkan memerintah, yang menjadikan Aung San Suu Kyi sebagai pemimpin sipil tertinggi.