Editor : Mila Yefriza
Ilustrasi - pemikiran rizomatik. (Foto: Tagar/Dok istimewa)
Opini: Menavigasi Respon Rizomatik dalam Kebijakan Publik
27 January 2026 | 22:02

Oleh: Agung Saras Sri Raharjo



TAGAR.id, Jakarta - Melalui karya seni kolaboratif berjudul "A Thousand Plateaus" dan "Anti-Oedipus", artikulasi filosofis konsep pemikiran rizomatik dikenalkan dan diskusikan dalam ruang-ruang akademik lebih luas oleh Gilles Deleuze dan Félix Guattari. Pendekatan pemikiran tersebut diletakkan secara tegas sebagai entitas konsep yang bertentangan sifatnya dengan arboresen. Rizomatik tumbuh sebagai pandangan kritis menentang model hierarkis tradisional, kaku dan terstruktur yang secara awam mencirikan karakteristik arboresen. Jika rizomatik bertumpu pada simpul keterkaitan kompleks, multiplitas relasi subtansi dan resiprok pengetahuan, maka sebaliknya arboresen mengikatkan pijakannya pada penekanan perkembangan yang bersifat linear, normative, top-down dan klasikal ketegorial. Secara esensial, rizomatik mendorong dan menumbuhkan eksplorasi jejaring koneksi yang tidak terduga dan menghadirkan wawasan baru. Tidak semata baru, pengetahuan yang diproduksi tersebut bahkan dapat bersifat saling menegasikan ataupun mengafirmasi. 

Selain itu, rizomatik juga menumbuhkan divergensi dan fluiditas pengetahuan yang menjadikan setiap koneksi entitas objek, baik sebagai struktur lembaga atau sebatas relasi personal, memiliki kemampuan untuk menghadirkan inovasi dan adaptasi dengan segenap kompleksitasnya. Di sinilah kemudian ruang otoritarianisme pengetahuan dan kekuasaan tidak serta merta berpeluang untuk tumbuh, dalam gerak rizomatik, sebagaimana pada lingkungan arboresen.

Dalam diskursus administrasi publik dan disrupsi teknologi saat ini, model birokrasi tradisional yang bersifat arboresen mulai kehilangan relevansinya. Sekalipun bagi sebagian negara-negara berkembang tidak bisa sepenuhnya melakukan transformasi adaptasi sistemik dan serta penyesuaian sikap nir kegaduhan.

Artikel Asli