story 2 · episode 5
Keluarga yang Menyangkal
05 menit membaca

Aku tidak menyentuh kliping itu. Aku juga tidak menyentuh kopi yang tadi diletakkan lelaki tua itu di depanku — gelas kaca yang sama, retak di bibirnya, seperti sebelas tahun lalu yang katanya belum pernah terjadi.
"Bapak salah," kataku. Suaraku keluar serak, seperti kain yang diperas. "Aku baru sampai sini empat hari lalu. Aku masih ingat jalan aspalnya. Aku masih ingat bau kopi Bapak."
Lelaki tua itu tidak berdebat. Ia hanya menatapku dengan mata kecil yang tidak pernah berkedip, dan di wajahnya ada sesuatu yang lebih tua dari usianya.
Di luar, jangkrik-jangkrik itu belum mulai bernyanyi lagi.
"Aku mau menelepon," kataku. "Aku mau menelepon rumah."
"Tidak ada sinyal di sini."
"Bapak pasti punya sesuatu."
Ia diam lama. Lalu ia berdiri, berjalan ke lemari kayu di sudut — lemari yang sama, lemari yang kubuka di rumah berasap itu — dan dari balik tumpukan kain, ia mengeluarkan sesuatu.
Sebuah telepon rumah.
Warna merah, tua, berdebu. Kabelnya menjuntai ke bawah, panjang, dan ujungnya tidak tersambung ke apa pun. Tidak ada colokan. Tidak ada stopkontak di dinding warung ini. Tidak ada listrik sama sekali.
Ia meletakkannya di atas meja, di samping kliping dan foto keluarga tanpa nama.
"Sekali," katanya. "Hanya sekali."
Aku menatap telepon itu. Kabelnya masih menjuntai, ujungnya lepas, tergantung di udara seperti tali yang dipotong.
"Ini tidak tersambung."
"Angkat saja."
* * *
Aku mengangkat gagangnya.
Berat. Dingin. Plastiknya lengket karena usia, dan di lubang pendengarannya ada lapisan debu yang mengeras seperti kerak. Aku menempelkannya ke telinga, dan yang kudengar pertama kali adalah keheningan — bukan keheningan warung, bukan keheningan jangkrik yang mati.
Keheningan di dalam kabel.
Keheningan yang punya kedalaman.
Lalu, pelan sekali, sebuah nada sambung. Panjang. Teratur. Seperti napas seseorang yang sedang tidur nyenyak di ujung sana.
Aku menekan angka. Tujuh digit. Nomor rumah yang kuhafal sejak kecil, nomor yang kutulis di lengan kursi kelas satu waktu aku lupa, nomor yang masih sama sampai sekarang.
Nada sambung berhenti.
Satu detik.
Dua.
Lalu tersambung.
* * *
"Halo?"
Suara perempuan. Setengah baya. Sedikit serak, seperti orang yang baru bangun dari tidur siang, atau orang yang sudah lama tidak bicara dengan siapa pun.
Aku mengenalnya.
Aku mengenalnya sampai ke jeda napasnya.
"Bu?"
Diam.
"Bu, ini aku."
Di ujung sana, tidak ada jawaban. Tapi aku bisa mendengar sesuatu — napas pelan, dan di belakangnya, suara lain yang sangat samar. Suara rumah. Suara kipas angin yang berderit. Suara televisi yang volumenya terlalu kecil.
Suara rumahku.
"Bu, aku baru keluar dari hutan. Aku di warung, di tikungan. Aku butuh dijemput—"
"Maaf," katanya. "Ini siapa ya?"
Aku menelan ludah. Tenggorokanku kering sampai rasanya berpasir.
"Ini aku, Bu. Anak Ibu."
"Maaf, Nak, saya tidak kenal."
Nadanya sopan. Itu yang paling menyakitkan. Sopan seperti orang yang berbicara kepada penelpon salah sambung, dengan sabar, dengan sedikit kasihan, sambil menunggu aku menutup telepon supaya ia bisa kembali ke kegiatannya.
"Bu, jangan main-main."
"Saya tidak main-main, Nak."
Aku menggenggam gagang telepon itu sampai buku-buku jariku putih.
"Aku anak Ibu. Aku yang pergi camping ke Sirewang. Aku yang kehilangan pekerjaan bulan lalu. Aku yang—"
Aku berhenti. Karena di ujung sana, napas perempuan itu berubah.
Membeku.
"Sebutkan namamu," katanya. Pelan sekali. Seperti orang yang baru saja mendengar sesuatu yang tidak seharusnya ia dengar.
Aku menyebut namaku.
Nama lengkapku. Nama yang diberikan ayahku, yang sudah meninggal tujuh tahun lalu — atau sebelas tahun lalu, aku tidak tahu lagi.
Dan di ujung sana, hening.
Bukan hening biasa. Hening yang panjang. Hening yang berat. Hening yang terasa seperti seseorang menutup mulutnya dengan telapak tangan, dan menoleh ke arah lain di dalam ruangan, ke arah seseorang yang berdiri di belakangnya.
Kipas angin itu berhenti berderit.
Televisi itu mati.
Aku mendengar perempuan itu menarik napas — panjang, pelan, dan salah. Ada jeda yang terlalu lama di antara tarikan dan embusan.
Seperti napas yang sudah kukenal sejak malam pertama di hutan.
"Maaf," katanya akhirnya. Suaranya sekarang berbeda. Lebih tipis. Lebih jauh. Seperti seseorang yang berbicara dari dalam lemari, atau dari dalam tanah.
"Orang dengan nama itu sudah dinyatakan meninggal sebelas tahun lalu."
Aku membuka mulut.
Belum ada satu kata yang keluar.
Klik.
Sambungan terputus.
* * *
Aku berdiri di sana, dengan gagang telepon menempel di telinga, menatap dinding kayu warung yang penuh jelaga.
Nada sambung tidak kembali. Tidak ada suara apa pun. Bahkan kabel yang menjuntai di bawah meja itu tidak bergerak sedikit pun, meski angin dari pintu yang terbuka meniup debu di lantai.
Aku menurunkan gagangnya pelan-pelan, dan meletakkannya kembali di atas telepon merah itu.
Lelaki tua itu masih duduk di kursinya. Masih menatapku. Masih tidak berkedip.
"Sudah kubilang," katanya. "Sekali."
"Ibu saya bilang saya sudah mati."
Ia tidak menjawab.
"Sebelas tahun lalu."
Ia mengangguk. Sekali. Pelan. Seperti orang yang mengangguk pada berita yang sudah lama ia tahu, dan sudah lama ia tunggu untuk didengar dari mulut orang lain.
Aku menatap kliping di meja itu lagi. Foto hitam putih diriku. Tersenyum di depan tenda, seperti orang yang tidak tahu apa yang menunggunya.
Kalau aku sudah dikubur sebelas tahun lalu — lalu siapa yang selama ini tinggal di rumah itu? Siapa yang makan di meja itu? Siapa yang tidur di kamar itu? Siapa yang mencium bau kipas angin yang berderit itu setiap malam?
Dan lebih buruk lagi:
Kalau ibuku baru saja berbicara dengan seseorang di ruangan itu — seseorang yang membuatnya berhenti bernapas seperti itu, seseorang yang membuatnya menoleh ke belakang —
siapa yang berdiri di belakang ibuku saat aku menyebut namaku?
Aku merogoh saku jaketku, dan tanganku menyentuh sesuatu yang keras.
Kamera.
Kamera kecil yang sejak awal perjalanan ini kugantung di leherku, yang sejak awal merekam semuanya, yang belum pernah kubuka sejak malam pertama.
Aku menoleh ke lelaki tua itu.
"Rekamannya," kataku. "Aku belum pernah memeriksa rekamannya."
Lelaki tua itu menatap kamera di tanganku lama sekali. Lalu, untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, ia berdiri lebih cepat dari yang seharusnya — dan mengulurkan tangan, seperti ingin merenggutnya.
"Jangan," katanya.
Terlalu lambat.
Layar kecil itu sudah menyala di tanganku.