TAGAR MISTERI

jangan dibaca sendirian

story 3 · episode 5

Rekaman yang Hilang

05 menit membaca

Rekaman yang Hilang

Layar kecil itu menyala, dan warung itu mendadak terasa lebih dingin.

Aku menekan tombol putar dengan ibu jari yang gemetar. Lelaki tua di depanku masih berdiri, tangannya masih terulur, tapi sudah tidak berusaha merenggut apa pun. Ia hanya menatap layar itu seperti orang yang menatap sesuatu yang sudah lama ia kubur.

"Jangan," katanya lagi. Lebih pelan kali ini.

Aku tidak mendengarnya.

* * *

Rekaman pertama. Hari pertama. Pagi.

Layar menampilkan jalan tanah yang menanjak, dua jejak roda yang ditumbuhi rumput di tengahnya. Sudut gambar bergoyang — kamera ini kugantung di leher, jadi setiap langkahku membuat bingkai itu naik-turun seperti perahu di ombak kecil. Aku mendengar napasku sendiri di audio. Berat. Terengah. Sesekali aku mendengar suara ranting patah di bawah sepatuku.

Semuanya seperti yang kuingat.

Aku mempercepat putarannya. Dua kali. Empat kali. Pohon-pohon lewat cepat di sisi kiri dan kanan. Langit kelabu. Tanah cokelat. Tidak ada apa-apa.

Lalu aku berhenti di satu titik.

Bukan karena aku melihat sesuatu. Karena sesuatu di sudut gambar itu terasa salah — seperti bayangan yang jatuh di tempat yang tidak seharusnya ada bayangan.

Aku memundurkan rekaman lima detik. Memutarnya lagi. Perlahan.

Di belakangku, di kejauhan, di antara dua batang pohon yang berdiri terlalu rapat, ada seseorang.

* * *

Aku mencondongkan badan ke layar sampai hidungku hampir menyentuh kacanya.

Sosok itu jauh. Samar. Terlalu buram untuk kulihat wajahnya, terlalu kecil untuk kulihat pakaiannya. Yang kulihat hanya bentuk — tubuh manusia, berdiri tegak, menghadap ke arahku.

Aku menekan putar lagi.

Sosok itu berjalan.

Ia mengikuti aku. Beberapa meter di belakang, dengan jarak yang selalu sama. Ketika aku mempercepat langkah, ia mempercepat. Ketika aku berhenti di satu titik untuk minum, ia berhenti juga — dan di rekaman itu, aku mendengar suara botol air yang kubuka, dan di belakangnya, sangat samar, suara lain. Suara langkah yang berhenti dua detik setelah aku berhenti.

Dua detik.

Persis jeda yang sama yang kudengar di hutan itu. Persis irama yang sama.

Aku menutup mulutku dengan telapak tangan.

Lelaki tua itu masih berdiri di sampingku. Aku bisa merasakan napasnya. Panjang. Pelan. Tapi aku tidak menoleh. Aku tidak sanggup menoleh.

* * *

Rekaman kedua. Siang hari.

Jalan yang sama. Pohon yang sama. Tanah yang sama. Aku mendengar suaraku sendiri di audio, berbicara pada kamera seperti orang bodoh — "oke, ini hari pertama, sinyal udah hilang, tapi suasana masih bagus."

Di belakangku, sosok itu.

Masih di sana. Jarak yang sama. Posisi yang sama. Seperti ditempelkan ke bingkai.

Rekaman ketiga. Sore.

Sosok itu masih di belakangku.

Rekaman keempat. Menjelang magrib, ketika aku mendirikan tenda di lingkaran tanah yang terlalu bersih.

Sosok itu tidak ada di bingkai.

Aku menahan napas dan mempercepat putarannya. Mungkin ia berhenti. Mungkin ia pergi. Mungkin aku hanya berhalusinasi, dan semua ini cuma bayangan pohon yang kubentuk sendiri di kepalaku.

Lalu aku melihatnya.

Di sudut kanan bingkai — bukan di belakangku. Di sampingku. Berdiri di antara dua pohon yang mengelilingi lapangan itu, menghadap ke arah kamera.

Menghadap ke arahku.

* * *

Aku menekan jeda.

Jariku masih menempel di tombol. Mataku masih menatap layar. Dan di dalam dadaku, sesuatu yang dingin mulai merayap naik ke tenggorokan.

Karena ada satu hal yang tidak cocok.

Di semua rekaman sebelumnya, sosok itu ada di belakangku. Selalu di belakang. Aku memeriksanya berkali-kali — rekaman pertama, kedua, ketiga — dan di setiap bingkai, ia berada di punggungku, mengikuti langkahku.

Tapi di rekaman keempat, ia di samping. Dan di rekaman kelima, yang kuputar berikutnya, ia sudah ada di depan.

Di depan.

Menghadap kamera.

Menghadapku.

* * *

Aku memundurkan rekaman itu ke awal. Hari pertama. Pagi. Jalan tanah yang menanjak.

Lalu aku memperlambatnya.

Bukan dua kali. Bukan empat kali. Aku menekan tombol perlambat sampai gerakannya berubah menjadi bingkai-bingkai yang berjalan satu per satu, seperti kelopak yang dibuka dengan tangan.

Dan aku melihatnya.

Sosok itu.

Ia tidak berjalan mengikuti aku.

Ia berjalan mundur.

Langkahnya terbalik — tumitnya menyentuh tanah lebih dulu, lalu telapak, lalu jari. Lututnya menekuk ke arah yang salah. Tubuhnya bergerak ke belakang, menjauh dari arah yang kutuju, tapi wajahnya selalu menghadap kamera.

Menghadapku.

Mengawasi aku.

Sejak bingkai pertama. Sejak detik pertama aku menyalakan kamera ini di mulut hutan. Sejak sebelum aku mendengar suara ayahku memanggil dari balik pepohonan. Sejak sebelum aku mendirikan tenda. Sejak sebelum semuanya dimulai.

Sosok itu sudah ada di sana.

Berjalan mundur di belakangku, menghadap ke depan, matanya tidak pernah lepas dari kamera.

* * *

Aku menutup kamera itu dengan tangan gemetar. Layarnya masih menyala, tapi aku sudah tidak sanggup melihatnya lagi.

Lelaki tua itu akhirnya bicara. Suaranya pelan, hampir seperti bisikan.

"Itu bukan yang mengikutimu," katanya. "Itu yang menunggumu."

Aku menoleh ke arahnya. Wajahnya masih seperti kayu bakar. Matanya masih tidak berkedip.

"Maksud Bapak apa?"

"Kalau kamu berjalan mundur," katanya, "artinya kamu tidak pergi. Kamu pulang."

Aku menelan ludah. Tenggorokanku kering sampai rasanya berpasir.

"Pulang ke mana?"

Ia tidak menjawab. Ia hanya menunjuk ke arah pintu warung yang terbuka, ke arah hutan yang gelap di kejauhan, ke arah pepohonan yang berdiri terlalu rapat seperti barisan orang yang berdesakan untuk melihat sesuatu.

Dan di dalam keheningan itu, aku mendengar sesuatu.

Bukan dari luar. Bukan dari hutan.

Dari kamera di tanganku.

Layarnya menyala sendiri. Lampu rekamnya berkedip merah — sekali, dua kali, tiga kali — padahal aku sudah menekan tombol mati.

Di layar kecil itu, ada rekaman baru.

Bukan rekaman yang tadi. Bukan jalan tanah. Bukan pepohonan.

Rekaman ini menampilkan sebuah ruangan. Dinding kayu. Kipas angin yang berderit. Televisi yang menyala dengan volume terlalu kecil.

Dan di tengah ruangan itu, berdiri seorang perempuan setengah baya, membelakangi kamera, menatap ke arah pintu.

Di belakangnya — tepat di belakang punggungnya — berdiri seseorang.

Berjaket hijau tua.

Punggung itu punggungku.

Dan orang itu sedang menoleh ke arah kamera.

kembali ke daftar story episode 5