TAGAR MISTERI

jangan dibaca sendirian

story 1 · episode 5

Berita Orang Hilang

06 menit membaca

Berita Orang Hilang

Ritsleting pertama belum selesai terbuka ketika aku sudah berlari.

Bukan ke arah pepohonan. Ke arah tenda merah — tendaku, tenda yang bukan milikku, tenda yang disiapkan untukku. Aku menerjang masuk lewat celah yang masih menganga, meraih buku bersampul gelap di atas sleeping bag, dan mencengkeramnya seperti orang yang mencengkeram satu-satunya tali di tepi jurang.

Di belakangku, dua ritsleting itu terus bergerak. Bersamaan. Ritme yang sama.

Kriiik. Kriiik.

Aku tidak menunggu sampai keduanya terbuka.

Aku keluar dari sisi belakang tenda, merobek kain, dan berlari ke arah yang tidak pernah kulewati sebelumnya. Tanah lapangan yang terlalu bersih itu lepas dari bawah kakiku. Pepohonan kelabu lewat. Goresan-goresan setinggi wajah itu lewat. Dan di belakangku, tidak ada langkah yang mengejar.

Hanya dua suara ritsleting yang akhirnya berhenti — bersamaan, seperti dua orang yang sama-sama tahu aku sudah tidak ada di sana.

* * *

Aku tidak tahu berapa lama aku berjalan.

Yang kutahu, hutan itu akhirnya membiarkanku pergi. Pohon-pohon mulai jarang. Tanah mulai menanjak, lalu menurun, lalu rata. Bau lumut tua tergantikan bau tanah kering, dan untuk pertama kalinya sejak entah kapan, aku mendengar suara yang tidak menahan napas.

Ayam. Jauh di kejauhan.

Aku menembus barisan terakhir pepohonan dan keluar di sebuah jalan tanah yang kupijak dengan lutut lemas.

Di ujung jalan itu, di tikungan, ada bangunan kayu kecil dengan atap seng berkarat.

Aku berhenti di tempat.

Aku mengenal bangunan itu.

Satu lampu minyak menyala di depan. Papan kayu bertuliskan Kopi & Rokok dengan huruf yang nyaris tak terbaca. Tidak ada listrik. Tidak ada pengeras suara. Dan bunyi jangkrik di sekitarnya terlalu rapat, terlalu berisik — persis seperti malam ketika aku pertama kali lewat sini, empat hari lalu, sebelum aku menginjak Hutan Sirewang.

Warung terakhir.

Warung yang sama.

Aku berdiri di depan pintunya, dan lututku hampir menyerah. Karena ada satu hal yang tidak masuk akal: aku keluar dari hutan di sisi yang berbeda. Aku berjalan ke arah yang belum pernah kulewati. Aku tidak mungkin kembali ke tikungan yang sama.

Tapi warung itu ada di sana. Menunggu.

Aku mendorong pintunya.

* * *

Di dalam, satu meja. Tiga kursi plastik. Dan seorang lelaki tua yang duduk di belakang meja, seolah sudah menunggu sejak lama.

Kulitnya gelap dan berkerut seperti kayu bakar. Matanya kecil, dan tidak berkedip saat menatapku.

Aku tercekat.

Lelaki ini. Wajah ini. Aku mengenalnya. Ini orang yang menuang kopi untukku dan menumpahkannya ke lantai tanah. Ini orang yang berkata, dua malam itu batas. Ini orang yang menulis DUA MALAM. DUA WAJAH di papan kayunya.

Ia menatapku lama. Lalu ia berkata, dengan suara pelan yang sama seperti dulu.

"Sudah keluar?"

Aku tidak menjawab. Aku menjatuhkan diriku ke kursi di depannya, dan buku catatan bersampul gelap itu kubanting ke atas meja.

"Bapak tahu apa yang ada di hutan itu," kataku. Suaraku serak. "Bapak tahu. Dari awal Bapak tahu."

Lelaki itu tidak menyentuh buku itu. Ia hanya menatap sampulnya, tanpa ekspresi, seperti orang yang sudah melihat buku itu berkali-kali.

Aku merogoh saku jaketku dengan tangan gemetar. Ada sesuatu di sana — sesuatu yang sudah kubawa sejak desa terbengkalai itu, sesuatu yang tidak pernah kulepas dari saku sejak aku menemukannya tergantung di dinding rumah berasap.

Aku meletakkannya di atas meja, di samping buku.

Foto keluarga. Kecil, berbingkai kayu retak, kacanya masih bersih. Seorang ayah. Seorang ibu. Dua anak. Tersenyum ke arah kamera. Dan di belakang mereka, bukan rumah — sebuah tenda merah, miring sedikit ke kiri, dengan seorang pria berdiri setengah tersembunyi di balik bayangannya.

Pria berjaket hijau tua.

Pria itu aku.

Aku menunjuk foto itu dengan ujung jari yang masih bernoda tinta.

"Ini ada di desa mati di balik bukit. Di rumah yang asapnya masih mengepul. Semua foto di dinding itu wajahnya dicakar — semuanya, kecuali yang ini. Yang ini utuh. Dan di belakangnya ada tendaku, dan ada aku, di foto yang warnanya sudah menguning puluhan tahun."

Aku menarik napas.

"Jadi tolong, Bapak jelaskan. Apa yang sebenarnya terjadi di hutan itu?"

* * *

Lelaki tua itu tidak terkejut.

Itu yang paling membuatku dingin. Ia tidak mengangkat alis. Tidak menoleh ke foto. Tidak bertanya apa-apa. Ia hanya mengangguk pelan, sekali, seperti orang yang baru saja mendengar sesuatu yang sudah lama ia tunggu.

Lalu ia berdiri.

Ia berjalan ke lemari kayu di sudut ruangan — lemari yang tadi tidak kuperhatikan, lemari yang sama seperti lemari di rumah berasap itu — dan membukanya. Dari dalam, ia mengeluarkan sesuatu yang dibungkus kain putih. Kain itu kotor, berdebu, dan sudah mengeras di lipatannya.

Ia meletakkannya di atas meja. Membukanya pelan.

Sebuah kliping koran.

Kertasnya sudah kuning, tepinya rapuh, dan lipatannya dalam — seperti sesuatu yang disimpan terlalu lama oleh orang yang tidak pernah berani membuangnya. Di atasnya, sebuah berita pendek, beberapa kolom saja, dengan judul yang hurufnya mulai pudar.

Aku mencondongkan badan.

PENDAKI HILANG DI HUTAN SIREWANG, BELUM DITEMUKAN SETELAH SEBELAS HARI PENCARIAN.

Di bawah judul itu, ada satu foto.

Hitam putih, kasar, buram di beberapa bagian. Seorang pria berdiri di depan tenda, dengan jaket tebal dan tas carrier di punggungnya. Ia tersenyum sedikit, seperti orang yang tidak tahu apa yang menunggunya.

Aku menatap foto itu.

Lalu aku menatapnya lagi.

Lalu tanganku mulai gemetar, dan kursi di bawahku terasa seperti akan menelan aku bulat-bulat.

Karena pria di foto itu adalah aku.

Wajahku. Persis. Sampai ke bentuk rahang yang selalu kukritik di cermin. Sampai ke rambut yang jatuh di dahi dengan cara yang sama. Sampai ke jaket hijau tua dengan sobekan kecil di lengan kanan — sobekan yang kubuat sendiri tiga tahun lalu, saat tersangkut paku di garasi.

Aku menoleh ke lelaki tua itu. Mulutku terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar.

Ia menatapku dengan mata kecilnya yang tidak berkedip, dan untuk pertama kalinya, ada sesuatu di wajahnya yang menyerupai belas kasihan.

"Sebelas tahun," katanya pelan. "Kamu hilang sebelas tahun lalu."

Di luar, jangkrik-jangkrik itu berhenti.

Serentak.

Seperti ada yang memberi komando.

Dan di dalam keheningan itu, dari arah hutan, samar-samar, aku mendengar seseorang memanggil namaku — dengan suara yang sangat kukenal.

Suaraku sendiri.

Pulang.

Aku menatap kliping di meja itu sekali lagi. Tanggal di bawah judulnya masih bisa kubaca, meski hurufnya sudah menganga.

Sebelas tahun lalu.

Kalau begitu — siapa yang selama ini tinggal di rumahku? Siapa yang kehilangan pekerjaan itu? Siapa yang beli tenda merah itu, empat hari sebelum berangkat?

Dan yang paling membuat darahku membeku: kalau aku sudah hilang sebelas tahun — kenapa aku masih ingat semuanya, seolah baru kemarin aku mencium bau kopi di warung ini untuk pertama kali?

kembali ke daftar story episode 5