story 3 · episode 4
Sesuatu yang Meniru Manusia
05 menit membaca

Aku meledak keluar dari tenda itu seperti orang yang baru sadar dirinya terbakar.
Ritsleting robek di tanganku. Kain oranye menganga, dan aku menerjang ke luar, menabrak pasak, tersandung tali, jatuh ke tanah yang terlalu lunak, lalu bangkit lagi tanpa peduli apa yang menempel di lututku. Aku tidak menoleh. Aku bersumpah pada diriku sendiri aku tidak akan menoleh — karena baris terakhir di buku itu masih terpampang di belakang mataku, dan aku tahu kalau aku menoleh, aku akan melihat sesuatu yang tidak bisa kuhapus lagi.
Jangan menoleh. Dia berdiri tepat di belakangmu.
Aku berlari.
* * *
Hutan Sirewang menerimaku dengan cara yang salah.
Pepohonan lewat di sisiku seperti tiang-tiang yang berdiri terlalu rapat, dan cabang-cabang rendah mencakar lengan jaketku sampai sobek. Aku tidak tahu arah. Aku tidak peduli. Yang penting menjauh — dari tenda, dari buku itu, dari napas basah yang mengisi ruang di belakang tengkukku.
Lalu aku mendengarnya.
Langkah kaki.
Di belakangku. Jelas. Berat. Berirama.
Aku mempercepat lari. Langkah itu mempercepat juga.
Aku menahan napas dan melompati akar besar. Langkah itu melompati akar besar — aku mendengar bunyi kakinya mendarat di tanah, dua detik setelah aku mendarat.
Aku berhenti mendadak, menempel di batang pohon, dada naik-turun, paru-paru terbakar.
Langkah itu berhenti.
Persis bersamaan.
Aku menelan ludah. Tenggorokanku kering sampai rasanya berpasir. Di belakangku, hening. Tidak ada embusan napas. Tidak ada gesekan kain. Hanya hutan yang kembali membeku, seperti ruangan yang menahan napas.
Aku menunggu. Satu detik. Lima. Sepuluh.
Tidak ada apa-apa.
Aku mendorong tubuhku dari pohon dan mulai berlari lagi — lebih pelan kali ini, karena kakiku mulai lecet, karena dengarku mulai menipu dirinya sendiri. Aku mencoba mendengar langkah itu lagi. Aku ingin mendengarnya. Karena kalau aku tidak mendengarnya, artinya ia sudah tidak di belakangku.
Dan itu lebih buruk.
* * *
Langkah itu kembali.
Kali ini lebih dekat. Satu langkah, dua langkah, tiga — dan ritmenya sama persis dengan ritme langkahku. Ketika kakiku kanan menginjak tanah, kakinya kanan menginjak tanah. Ketika kakiku kiri mengangkat, kakinya kiri mengangkat. Bukan mengikuti. Meniru.
Aku berlari lebih cepat.
Ia berlari lebih cepat.
Aku berbelok tajam ke kiri, menembus semak, menahan ranting-ranting yang menghantam wajahku.
Ia berbelok tajam ke kiri. Aku mendengar tubuhnya menembus semak yang sama, dua detik setelah aku.
Aku berhenti lagi.
Ia berhenti.
Aku jongkok, menutup mulut dengan telapak tangan, dan mendengarkan. Di belakangku, sunyi. Tapi kali ini sunyinya berbeda. Sunyi ini punya berat. Sunyi ini terasa seperti seseorang yang berdiri sangat dekat, menahan napas, menunggu aku bergerak lebih dulu.
Dan di dalam sunyi itu, aku mendengar sesuatu yang membuat seluruh tubuhku dingin.
Tawaku.
Tawa kecil, pendek, keluar tanpa izin — tawa yang sama yang kukeluarkan di depan papan penunjuk tua, berbulan-bulan lalu, di hari pertama aku masuk hutan ini.
Bukan tawaku sekarang. Tawaku waktu itu.
Suara itu datang dari balik pepohonan, beberapa langkah di sebelah kananku — bukan dari arah langkah kaki tadi. Arahnya berbeda. Suaranya berbeda. Seperti ada dua hal di hutan ini: satu yang mengikutiku dari belakang, dan satu lagi yang sudah berdiri di depanku sejak tadi.
Lalu suara itu berbicara.
"Capek, ya?"
Suaraku. Persis suaraku. Sampai ke seraknya. Sampai ke jeda napasnya. Sampai ke cara aku mengucapkan kata "capek" ketika aku benar-benar capek — dengan vokal kedua yang sedikit tertelan, seperti yang selalu kukritik dari rekaman suariku sendiri.
"Sekarang gantian aku yang keluar."
* * *
Aku tidak bergerak.
Kakiku menempel di tanah, ditanam, dan tubuhku membeku dalam posisi jongkok. Di depanku, di antara dua batang pohon pinus yang berdiri terlalu rapat, ada bayangan.
Bukan bayangan pohon. Bukan bayangan ranting.
Seorang pria.
Ia berdiri dengan punggung menghadapku, bahu miring sedikit ke kiri, berat badan bertumpu di kaki kanan. Jaket hijau tua. Tas carrier hitam dengan tali merah yang disimpul di sisi kiri. Sepatu hiking yang sudah kumakai sejak awal perjalanan.
Punggung itu punggungku.
Dan ia mulai berjalan.
Bukan ke arahku. Bukan menjauh. Ia berjalan ke samping, pelan, santai, dengan cara berjalan yang kukenal dari cermin kamar mandi — langkah yang sedikit menyeret kaki kanan, bahu yang bergoyang pelan, tangan yang tergantung lemas di sisi badan.
Ia berjalan ke arah tenda.
Tendaku.
Yang seharusnya sudah kulipat pagi tadi. Yang seharusnya ada di punggungku sekarang. Yang berdiri di sana, di tengah lingkaran tanah yang terlalu bersih, dengan lampu yang menyala terang dan ritsleting yang masih menganga dari caraku menerjang keluar tadi.
Pria itu berhenti di depan pintu tenda.
Ia menunduk. Pelan. Seperti seseorang yang sedang memeriksa sesuatu di dalam — sesuatu yang tertinggal, sesuatu yang lupa dibawa.
Lalu ia berjongkok.
Dan ia masuk.
Ritsleting itu tertutup dari dalam. Pelan. Sabar. Kriiik.
Aku masih jongkok di balik pepohonan, dua puluh langkah dari tendaku sendiri, dan untuk pertama kalinya sejak semuanya dimulai, aku merasakan sesuatu yang lebih buruk dari takut.
Aku merasa digantikan.
Di dalam tenda itu, lampu berkedip sekali. Lalu menyala stabil. Dan di dinding kain oranye, bayangan itu kembali muncul — duduk bersila, punggung membungkuk sedikit ke kiri, lutut kanan lebih tinggi dari lutut kiri, kepala menunduk ke depan.
Seperti orang yang sedang membaca sesuatu di pangkuannya.
Aku menoleh ke punggungku. Tali carrier masih menekan bahuku. Beratnya masih ada.
Tapi ketika aku meraba ke dalam, menyusuri lapisan kain dan sleeping bag, tanganku tidak menemukan sudut keras bersampul gelap di ujung bawah tas.
Bukuku sudah tidak ada di sana.
Dan dari dalam tenda itu, pelan sekali, aku mendengar suara pena mulai menulis.