TAGAR MISTERI

jangan dibaca sendirian

story 2 · episode 4

Catatan yang Ditulis Sebelum Terjadi

06 menit membaca

Catatan yang Ditulis Sebelum Terjadi

Ritsleting itu tidak pernah terbuka.

Aku tidak tahu berapa lama aku berdiri di sana, menatap celah gelap yang menganga di sisi tendaku. Cahaya lampu sudah mati. Bayangan itu sudah hilang. Yang tersisa hanya kain oranye yang mengempis kembali, seperti sesuatu di dalamnya baru saja menghela napas panjang dan memutuskan untuk tidak jadi keluar.

Lalu hening. Hening yang sama. Hening yang menahan napas.

Kakiku bergerak sebelum kepalaku sempat melarang. Satu langkah. Dua. Tanah yang terlalu lunak itu menerima beratku tanpa bunyi. Aku berjalan menuju pintu tenda yang belum pernah kubuka sejak aku melipatnya pagi tadi — tenda yang seharusnya ada di punggungku, bukan berdiri di sini, di tengah lingkaran yang terlalu bersih.

Aku berjongkok di depan pintu. Tanganku gemetar saat meraih ritsleting.

Dan aku menariknya.

* * *

Di dalam, tidak ada siapa-siapa.

Matras tergelap rapi. Sleeping bag terlipat di sudut. Kompor kecil, termos air, tas carrier — semuanya tersusun persis seperti caraku menata tenda. Terlalu persis. Bahkan sandal jepit yang selalu kuselipkan di bawah matras pun ada di sana, meski aku tahu sandal itu masih tertinggal di depan pintu rumahku, empat hari sebelum aku berangkat.

Lampu tenda tergantung di atap. Mati.

Tapi di tengah ruang, di atas matras, ada sesuatu yang tidak kutaruh di sana.

Buku catatan.

Sampul gelap. Tebal. Miring sedikit ke kiri.

Bukuku.

Aku menoleh cepat ke punggungku. Tali carrier masih menekan bahuku. Beratnya masih ada. Aku meraba ke dalam, menyusuri lapisan kain, sleeping bag, sampai ujung bawah — dan tanganku menyentuh sudut yang keras, tebal, bersampul.

Bukuku ada di dalam tas.

Aku menoleh kembali ke matras.

Buku itu masih di sana.

Aku merangkak masuk. Lututku menyentuh lantai tenda yang dingin. Aku duduk bersila di depannya, dan untuk beberapa detik aku hanya menatap. Sampulnya sama. Sudut kanan atasnya sama-sama terlipat. Bahkan goresan kecil di punggung buku — bekas aku terjatuh di tangga kantor dua tahun lalu — ada di tempat yang sama.

Aku membuka halaman pertama.

Kosong.

Halaman kedua. Kosong.

Ketiga, keempat, kelima. Semuanya kosong. Kertasnya putih bersih, tidak bergaris, tidak bernoda, seperti buku yang baru dibeli dan belum pernah disentuh siapa pun.

Aku membuka lebih cepat. Halaman demi halaman. Kosong. Kosong. Kosong.

Sampai aku berhenti di satu halaman — halaman yang tadi juga kosong, aku bersumpah, aku baru saja melewatinya — dan di atasnya, pelan sekali, ada sesuatu yang mulai muncul.

* * *

Aku tidak melihat tangan yang menulis.

Yang kulihat hanya huruf. Muncul satu per satu, dari kiri ke kanan, seperti ada pena tak terlihat yang bergerak di atas kertas. Tintanya hitam, basah, mengkilap di bawah cahaya yang entah dari mana — karena lampu tenda masih mati, dan di dalam sini gelap.

Tapi aku bisa membacanya.

Jelas.

Kalimat pertama muncul, dan lambungku mengejang.

Kamu baru saja berjalan dari pepohonan menuju tenda ini, berjongkok di depan pintu, dan menarik ritsleting dengan tangan gemetar.

Aku menelan ludah. Tenggorokanku kering sampai rasanya berpasir.

Kalimat itu benar. Persis. Bahkan bagian "tangan gemetar" — karena memang gemetar. Aku belum bilang itu pada siapa pun. Aku belum menuliskannya di mana pun. Aku baru saja melakukannya, belum satu menit yang lalu, dan sekarang kalimat itu sudah ada di kertas, rapi, tenang, seperti catatan yang ditulis jauh sebelum kejadiannya.

Pena tak terlihat itu bergerak lagi.

Kalimat kedua muncul di bawahnya.

Kamu sedang berpikir: ini tidak mungkin. Bukuku ada di punggungku. Buku ini palsu. Atau aku yang palsu.

Aku menutup mulutku dengan telapak tangan.

Karena itu benar.

Itu yang sedang kupikirkan. Persis. Bahkan kata "palsu" — kata yang baru saja muncul di kepalaku beberapa detik lalu, sebelum aku sempat mengucapkannya, sebelum aku sempat menyadari bahwa aku sedang memikirkannya.

Bukuku ada di punggungku. Buku ini palsu. Atau aku yang palsu.

Aku menatap kertas itu lama sekali. Huruf-hurufnya masih basah. Tinta itu masih mengkilap, seperti baru saja ditulis. Aku mengangkat tanganku, ragu, lalu menyentuh salah satu huruf dengan ujung jari.

Basah.

Jariku ternoda hitam.

Aku mengangkat tangan ke depan wajahku. Tinta itu menempel di ujung telunjukku, dan pelan sekali, ia meresap ke kulitku — bukan mengering, bukan menguap, tapi masuk, seperti air yang diserap tanah.

Pena itu bergerak lagi.

Aku menahan napas.

Kali ini tulisannya lebih lambat. Lebih hati-hati. Seperti seseorang yang menulis sambil menahan sesuatu di dalam tenggorokannya.

Kamu akan membaca baris ini tiga kali sebelum kamu paham. Kamu akan mengangkat kepalamu. Kamu akan melihat ke arah pintu. Dan kamu akan berpikir: siapa yang menulis ini, dan kenapa ia tahu aku sedang membacanya sekarang.

Aku membaca baris itu tiga kali.

Lalu aku mengangkat kepalaku.

Lalu aku menoleh ke arah pintu.

Dan aku berpikir: siapa yang menulis ini, dan kenapa ia tahu aku sedang membacanya sekarang.

Aku menutup buku itu dengan tangan gemetar. Tapi halaman itu belum selesai. Aku bisa melihatnya — di sudut halaman yang masih terbuka sedikit, pena tak terlihat itu masih bergerak, masih menulis, masih menyelesaikan satu baris terakhir sebelum aku sempat menutupnya rapat.

Aku membuka lagi.

Baris itu sudah ada di sana.

Di bawah semua kalimat yang baru saja kubaca, di bagian paling bawah halaman, ditulis dengan huruf yang lebih besar, lebih tebal, lebih dalam — seperti seseorang yang menekan penanya sampai kertasnya nyaris sobek.

Jangan menoleh. Dia berdiri tepat di belakangmu.

Aku membeku.

Lututku masih bersila. Punggungku masih tegak. Leherku masih menunduk ke arah buku. Aku bisa merasakan udara di dalam tenda ini — dingin, terlalu dingin, lebih dingin dari sebelumnya, seperti ada sesuatu yang baru saja masuk dan membawa hawa dari tempat yang jauh lebih gelap dari hutan ini.

Dan di belakangku, sangat dekat, aku mendengar napas.

Panjang. Basah. Jeda yang terlalu lama di antara tarikan dan embusan.

Napas yang sudah kukenal sejak malam pertama.

Aku tidak menoleh.

Aku menggenggam buku itu, menekan sampulnya ke dadaku, dan menatap lurus ke depan — ke dinding tenda yang kosong, ke kain oranye yang kukenal sampai ke seratnya.

Di dinding itu, di bawah cahaya yang entah dari mana, ada bayangan.

Bayanganku sendiri, duduk bersila, menunduk, memeluk buku.

Dan di belakang bayanganku — di belakangku — ada bayangan lain.

Berdiri.

Tegak.

Diam.

Menunggu.

Aku tidak menoleh. Aku tidak akan menoleh.

Tapi di dalam kepalaku, satu pertanyaan berputar tanpa henti, dan aku tahu jawabannya tidak ada di halaman mana pun dari buku ini.

Kalau yang berdiri di belakangku bukan manusia — kenapa bayangannya persis sama dengan bayanganku?

kembali ke daftar story episode 4