story 4 · episode 4
Tenda Kedua
06 menit membaca

Aku berlari sampai paru-paruku terasa seperti akan keluar dari tenggorokan.
Bukan lurus. Bukan ke arah mana pun yang bisa kukenali. Aku hanya menembus pepohonan, melompati akar, menerjang semak, dan berusaha tidak memikirkan pria berjaket hijau tua yang tadi masuk ke tendaku dari dalam.
Caraku berjalan. Jaketku. Tasku.
Diriku.
Lalu hutan itu membuka.
* * *
Aku keluar dari barisan pohon dan hampir jatuh ke depan karena tanah di bawahku mendadak rata. Terlalu rata. Aku menahan tubuhku dengan satu lutut, mengangkat kepala, dan napasku berhenti di tengah jalan.
Lapangan itu.
Tanah cokelat muda, halus, tanpa semak, tanpa daun busuk, tanpa akar yang menonjol. Dikelilingi batang-batang kelabu yang berdiri rapat seperti pagar, semuanya menghadap ke dalam, semuanya dengan goresan sejajar setinggi wajah manusia di kulitnya.
Lingkaran yang terlalu bersih.
Tempat yang sama. Persis sama. Bahkan pohon di sisi utara — pohon yang dulu masih mulus, yang belum punya goresan — masih berdiri di sana dengan kulit yang utuh.
Aku berdiri di tepi lapangan itu, dan untuk beberapa detik aku hanya bisa menatap.
Karena tidak ada tenda di tengahnya.
Tidak ada lampu. Tidak ada bayangan duduk. Tidak ada ritsleting yang menganga. Lapangan itu kosong, bersih, dan sunyi, seperti panggung yang belum dipakai.
Aku melangkah masuk. Tanah itu menerima beratku tanpa bunyi.
Lalu aku melihatnya.
Di sisi lain lapangan, di bawah pohon tertinggi, ada dua tenda.
* * *
Tenda pertama berdiri miring sedikit ke kiri, dipasang dengan pasak yang masuk terlalu dalam, dan kainnya berwarna merah yang kukenal sampai ke seratnya.
Tendaku.
Pintunya tertutup rapi. Ritsletingnya terpasang lurus. Di depannya, sepatu hiking-ku diletakkan berdampingan, menghadap ke luar, seperti orang yang baru saja melepasnya sebelum masuk. Di sebelahnya, kompor kecil dan termos air tersusun di atas batu datar. Bahkan sandal jepit biru tua itu ada di sana — basah, rapi, menghadap ke arah pintu.
Semuanya tersusun.
Semuanya persis seperti caraku menata barang.
Aku berjalan mendekat, pelan, dan merasakan sesuatu yang aneh merayap di dadaku. Bukan takut. Bukan lega. Sesuatu di antaranya — perasaan seseorang yang pulang ke rumah dan menemukan rumahnya sudah dihuni orang lain, tapi dirapikan dengan sangat baik.
Aku berjongkok di depan pintu tenda pertama, dan mengintip lewat celah kecil di bagian bawah.
Di dalam, matras tergelar. Sleeping bag terlipat di sudut. Tas carrier hitam dengan tali merah yang disimpul di sisi kiri, diletakkan tegak di dekat kepala matras. Buku catatan bersampul gelap, terbuka di atas sleeping bag, dengan pena tergeletak di sampingnya.
Semuanya rapi.
Terlalu rapi.
Seperti tenda yang tidak pernah dipakai tidur. Seperti tenda yang hanya ditata untuk dilihat.
Aku menoleh ke tenda kedua, dan baru sekarang aku benar-benar memperhatikannya.
* * *
Tenda itu lebih kecil. Lebih tua. Kainnya sudah pudar dari merah menjadi cokelat kusam, dan di beberapa tempat sobekannya ditambal dengan kain lain yang warnanya tidak cocok. Pasaknya bengkok. Talinya kusut. Flysheet-nya miring ke kanan, seperti punggung orang tua yang tidak sanggup lagi berdiri tegak.
Dan seluruh permukaannya berlumpur.
Lumpur pekat, cokelat kehitaman, menempel dari kaki tenda sampai atap. Bukan cipratan. Bukan noda. Lapisan. Seperti tenda itu pernah ditarik keluar dari dasar sungai, atau digali dari dalam tanah, lalu didirikan kembali di sini tanpa dibersihkan.
Di depannya, tidak ada apa-apa.
Tidak ada sepatu. Tidak ada kompor. Tidak ada jejak kaki. Hanya tanah lapang yang terlalu bersih itu, dan tenda tua yang berdiri di atasnya seperti sesuatu yang tidak seharusnya ada di tempat sesuci ini.
Aku berdiri di antara dua tenda, dan untuk beberapa detik aku tidak tahu harus berbuat apa.
Yang satu milikku.
Yang satu... apa?
Aku melangkah ke arah tenda kedua. Satu langkah. Dua. Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena penasaran. Mungkin karena sesuatu di dalam diriku ingin tahu siapa yang mendirikan tenda ini di lapangan yang sama, di tanah yang sama, di bawah pohon yang sama.
Lalu aku mendengarnya.
Dari dalam tenda kedua.
Suara.
Pelan. Terputus-putus. Seperti seseorang yang menahan tangis terlalu lama, dan akhirnya tidak sanggup lagi.
Aku berhenti di tempat.
Suara itu perempuan. Muda. Seraknya bukan serak orang tua — serak orang yang sudah menangis berjam-jam, sampai tenggorokannya kering, sampai suaranya keluar seperti kain yang diperas.
"Jangan pergi," katanya.
Aku menahan napas.
"Jangan tinggalkan aku sendirian lagi."
Suara itu datang dari dalam tenda berlumpur itu. Jelas. Dekat. Seperti seseorang yang berbaring di dalam, meringkuk di atas matras yang basah, dan berbicara ke arah pintu yang tidak pernah dibuka siapa pun.
Aku menelan ludah. Tenggorokanku kering sampai rasanya berpasir.
"Siapa kau?"
Suaraku keluar kecil. Tidak ada jawaban.
Hanya tangis. Pelan. Teratur. Seperti napas yang sudah lama tidak berhenti.
Aku melangkah lebih dekat. Satu langkah lagi. Kini aku berdiri di depan pintu tenda kedua, dan aku bisa melihat kainnya dari dekat — lumpur itu masih basah, masih mengkilap di bawah cahaya yang entah dari mana, dan di beberapa bagian, ada bekas jari.
Jari-jari kecil. Menempel di kain, seperti seseorang yang pernah mencoba keluar dari dalam dan berpegangan di dinding tenda ini terlalu lama.
Aku mengangkat tangan, ragu.
"Halo?"
Tangis itu berhenti.
Sejenak. Satu detik. Dua.
Lalu suara itu kembali — tapi kali ini tidak menangis. Kali ini lebih tenang. Lebih sabar. Seperti seseorang yang baru saja menyadari bahwa pintunya akan segera dibuka.
"Kamu kembali," katanya.
Aku membeku.
"Aku sudah menunggu."
Suara itu tidak asing. Aku tidak bisa menamainya. Aku tidak bisa mengingat di mana aku pernah mendengarnya. Tapi ada sesuatu di dalamnya yang membuat tengkukku dingin — sesuatu yang akrab, sesuatu yang seharusnya kukenal, sesuatu yang keluar dari tempat yang jauh lebih dalam dari hutan ini.
"Kamu bilang sebentar," katanya. "Kamu bilang cuma pergi ke warung. Kamu bilang kamu akan kembali sebelum magrib."
Aku mundur satu langkah.
Karena kalimat itu bukan untukku.
Kalimat itu untuk seseorang yang pernah ada di sini. Seseorang yang pernah mendirikan tenda ini, di lapangan ini, di bawah pohon ini — jauh sebelum aku. Seseorang yang pergi ke warung, dan tidak pernah kembali.
Dan tenda itu masih menunggu.
Bertahun-tahun. Berpuluh tahun. Berlumpur, sobek, bengkok pasaknya, tapi masih berdiri — karena seseorang di dalamnya belum pernah berhenti menunggu.
Aku menoleh ke tendaku sendiri. Tenda merah yang rapi. Tenda yang barang-barangnya tersusun persis seperti caraku. Tenda yang tidak pernah dipakai tidur.
Dan baru aku sadar.
Tenda itu bukan milikku.
Tenda itu disiapkan untukku.
Seperti tenda kedua ini disiapkan untuk seseorang yang datang sebelum aku — dan tidak pernah keluar lagi.
Dari dalam tenda berlumpur itu, suara perempuan itu berbicara sekali lagi. Pelan. Hampir berbisik. Seperti seseorang yang berbicara tepat di telingaku, meski aku tahu ia ada di dalam tenda, di balik kain yang tidak pernah dibuka siapa pun.
"Kali ini," katanya, "kamu jangan pergi."
Lalu ritsleting tenda kedua mulai ditarik.
Dari dalam.
Pelan. Sabar. Kriiik.
Dan di belakangku, dari arah tenda merah, aku mendengar ritsleting kedua mulai ditarik juga.
Bersamaan.
Dengan ritme yang sama.
Seperti dua orang yang baru saja bangun dari tidur panjang, dan sama-sama memutuskan untuk keluar menemuiku.