TAGAR MISTERI

jangan dibaca sendirian

story 1 · episode 4

Ada Orang di Dalam Tendaku

04 menit membaca

Ada Orang di Dalam Tendaku

Ritsleting itu tidak terbuka.

Aku mendengarnya bergerak — kriiik — lalu berhenti, seperti seseorang yang mengubah pikiran di detik terakhir. Di dalam tenda, lampu itu masih menyala, dan di dinding kain oranye, bayangan itu masih duduk.

Aku berdiri di antara pepohonan, dua puluh langkah dari tendaku sendiri, dan tidak berani melangkah lebih dekat.

Bayangan itu diam. Duduk bersila. Punggungnya agak membungkuk, kepala menunduk ke depan, seperti orang yang sedang membaca sesuatu di pangkuannya.

Aku mengenali cara duduk itu.

Karena itu caraku duduk. Setiap malam, di rumah, di sofa, di kursi warung kopi — punggung membungkuk sedikit ke kiri, lutut kanan lebih tinggi dari lutut kiri, bahu miring. Aku sudah melihat bentuk itu di cermin selama tiga puluh tahun.

Bentuk tubuhnya sama persis denganku.

Aku menelan ludah, dan tenggorokanku terasa seperti diisi pasir.

Lampu tenda itu menyala stabil, tidak berkedip, tidak redup. Cahayanya jatuh ke tanah lapang yang terlalu bersih itu, memanjang ke arahku seperti jari yang menunjuk. Tidak ada angin. Tidak ada suara jangkrik. Hutan Sirewang kembali membeku dalam keheningan yang sudah kukenal — hening yang bukan sepi, tapi hening yang menahan napas.

Aku melangkah satu kali. Ranting kering patah di bawah sepatuku.

Bayangan itu tidak bereaksi.

Aku melangkah lagi. Lebih dekat. Sepuluh langkah dari tenda sekarang. Cukup untuk melihat lebih jelas lekuk kain di sekitar sosok itu, dan cukup untuk melihat sesuatu yang membuat lambungku mengejang.

Ia sedang menulis.

Tangannya bergerak pelan, ritmis, dari kiri ke kanan. Ada buku di pangkuannya — buku catatan bersampul gelap, tebal, miring sedikit ke kiri. Pena di tangan kanannya bergerak dalam pola yang teratur, berhenti, lalu bergerak lagi. Berhenti. Bergerak lagi.

Seperti orang yang menulis kalimat, lalu memikirkan kalimat berikutnya.

Aku punya buku catatan seperti itu. Ada di dalam tas carriernya. Yang kubawa dari rumah, yang belum pernah kubuka sejak aku meninggalkan kota.

Aku meraba punggungku. Tali carrier masih menekan bahuku. Beratnya masih ada. Aku bisa merasakan sudut keras buku itu menonjol di punggungku, di bawah lapisan kain dan sleeping bag.

Kalau bukuku masih di punggungku — buku apa yang sedang ia tulis?

Aku berdiri di sana terlalu lama. Cukup lama sampai kakiku mulai dingin, sampai embun mulai menempel di lengan jaketku, sampai aku sadar bahwa aku sedang menonton sesuatu yang tidak seharusnya kutonton.

Dan aku memanggil.

"Hei."

Suaraku keluar kecil, serak, hampir tidak terdengar. Aku menarik napas dan mencoba lagi.

"Siapa kau?"

Bayangan itu berhenti menulis.

Penanya tetap menempel di halaman. Tubuhnya membeku dalam posisi menunduk, seperti patung yang baru saja dimatikan. Aku bisa mendengar jantungku sendiri, keras sekali, memukul tulang rusukku dari dalam.

Lalu kepala itu terangkat.

Pelan. Sangat pelan. Lehernya bergerak dengan cara yang salah — bukan seperti manusia yang menoleh, tapi seperti sesuatu yang meniru gerakan menoleh dari ingatan yang tidak sempurna. Bayangan di kain itu berubah bentuk, memanjang, dan aku melihat profil yang tidak bisa kulihat wajahnya.

Aku mundur satu langkah.

Bayangan itu berdiri.

Kain tenda meregang di satu sisi, dan siluet itu mulai bergerak ke arah pintu. Ke arah ritsleting. Aku melihatnya jelas — bahu yang miring ke kiri, langkah yang sedikit menyeret kaki kanan, cara berdiri yang terlalu santai untuk seseorang yang berada di dalam tenda orang lain.

Cara berjalan itu juga caraku.

Aku mundur lagi. Dan lagi.

Karena ada satu hal yang tidak masuk akal, dan otakku butuh beberapa detik untuk benar-benar mencernanya.

Bayangan itu mendekati pintu.

Padahal aku masih berdiri di antara pepohonan.

Dua puluh langkah. Lima belas langkah. Aku menghitungnya dengan panik. Aku masih di luar. Aku masih di sini. Kain tenda itu masih utuh, masih tertutup, masih terpasang di pasak-pasak yang kutancapkan sendiri. Tidak ada yang membukanya. Tidak ada yang keluar.

Tapi di dalam, sesuatu berjalan menuju pintu.

Dan kalau sesuatu berjalan menuju pintu dari dalam — sementara aku berdiri di luar —

lalu siapa yang tadi duduk di sana?

Ritsleting itu mulai bergerak lagi. Kriiik. Pelan. Sabar. Gigi-giginya lepas satu per satu, dan celah gelap mulai terbuka di sisi tenda, memanjang dari bawah ke atas.

Aku tidak berlari.

Aku tidak bisa.

Kakiku menempel di tanah yang terlalu lunak itu, seperti ditanam, dan aku hanya bisa menonton celah itu melebar, inci demi inci, sampai cukup lebar untuk seseorang keluar.

Lampu di dalam tenda berkedip sekali.

Lalu padam.

Dan di dalam gelap yang tersisa, aku mendengar suara pena menulis lagi. Cepat. Terburu-buru. Seperti seseorang yang baru sadar bahwa ia kehabisan waktu, dan masih ada terlalu banyak halaman yang harus diisi sebelum aku sampai.

Di kegelapan itu, satu kalimat terdengar, diucapkan dengan suaraku sendiri, pelan dan tenang, seperti orang yang sedang membaca ulang apa yang baru saja ia tulis.

"Malam kedua belum selesai."

Aku menoleh ke arah buku catatan di punggungku. Tali carrier itu masih menekan bahuku.

Dan untuk pertama kalinya sejak semuanya dimulai, aku merasa sesuatu yang lebih buruk dari takut.

Aku merasa dikenali.

kembali ke daftar story episode 4