TAGAR MISTERI

jangan dibaca sendirian

story 3 · episode 3

Sumur yang Menjawab

04 menit membaca

Sumur yang Menjawab

Aku tidak menoleh.

Bukan karena aku kuat. Karena kalau aku menoleh, aku tahu aku akan melihat sesuatu yang tidak bisa kulupakan seumur hidup. Kursi itu masih bergesek — pelan, satu kali, lalu berhenti. Napas basah itu masih terdengar, masih panjang, masih salah. Aku menunduk, menatap foto di tanganku sekali lagi, dan memutuskan satu hal: apa pun yang duduk di kursi itu, aku tidak akan menjadi tamu yang menunggu disajikan.

Aku berlari ke pintu.

Kakiku menabrak kursi, menyenggol meja, dan salah satu piring terjatuh. Bunyi pecahannya menembus hening desa seperti tembakan. Aku tidak menoleh. Aku tidak menoleh sama sekali. Aku keluar, menuruni tiga anak tangga kayu yang lapuk, dan terus berlari ke arah yang berlawanan dari rumah itu.

Jalan desa menikung. Rumah-rumah kosong lewat di sisiku seperti gerbong kereta yang berbaris tanpa ujung. Aku tidak tahu ke mana aku berlari. Yang kutahu, aku harus menjauh dari kursi itu, dari foto itu, dari tenda merah yang berdiri di belakang keluarga tanpa nama.

Lalu kakiku berhenti sendiri.

Di depanku, di ujung jalan desa, dekat tepi sungai yang airnya keruh dan diam, berdiri sumur batu itu.

* * *

Sumur itu tua. Batu-batunya ditata tanpa semen, ditumbuhi lumut hijau gelap yang menempel seperti kulit yang mengelupas. Tingginya sepinggang orang dewasa. Di atasnya, sebuah gulungan kayu tempat tali dililitkan, dan tali itu menjuntai ke dalam lubang — hitam, tegang, seperti urat yang menggantung.

Tadi, dari jauh, aku melihat tali itu bergerak.

Sekarang tali itu diam.

Dan justru keheningannya yang membuatku berhenti. Aku berdiri di sana, napasku masih memburu, dan untuk pertama kalinya sejak keluar dari rumah itu aku sadar: aku tidak mendengar suara langkah mengejarku. Tidak ada napas basah. Tidak ada kursi bergesek. Hanya aku, sumur, dan sungai yang tidak mengalir.

Aku mendekat, satu langkah, lalu satu lagi.

Di bibir sumur, ada bekas tangan. Bukan satu. Banyak. Jejak-jejak kecil, sebesar tangan anak-anak, tercetak di lumut, menghadap ke dalam lubang. Seperti ada yang berpegangan di tepi itu, lama sekali, sampai lumutnya habis terkikis.

Aku mencondongkan badan, menajamkan mata.

Gelap. Hanya gelap. Tidak ada pantulan air. Tidak ada bau lembap. Hanya lubang yang seolah menelan cahaya siang.

Dan dari dalam lubang itu, pelan sekali, sebuah suara naik.

"Tolong."

Aku membeku.

Suara itu kecil. Tinggi. Serak karena menahan tangis. Suara seorang anak — laki-laki, mungkin empat atau lima tahun. Persis suara anak-anak yang tersesat di pasar dan memanggil ibunya.

"Tolong... aku tidak bisa naik."

Tanganku gemetar. Aku meraih senter di saku jaketku, menyalakannya, dan menyorotkan berkas cahaya itu ke dalam sumur.

Cahaya itu jatuh.

Jatuh.

Jatuh.

Dan tidak pernah menyentuh apa pun.

Tidak ada air di dasar sumur. Tidak ada batu. Tidak ada tanah. Tidak ada anak kecil yang menengadah ke arahku. Yang ada hanya kegelapan yang terus menelan cahaya senterku sampai berkasnya habis, seperti menembakkan lampu ke langit malam.

Sumur ini tidak punya dasar.

Aku mundur, menjauh dari bibir sumur, dan senter di tanganku bergetar hebat. "Halo?" suaraku keluar pelan.

Tidak ada jawaban.

Aku menunggu. Satu detik. Lima. Sepuluh.

Mungkin aku salah dengar. Mungkin itu suara burung. Mungkin itu suara angin yang lewat di celah batu. Mungkin aku sudah terlalu lama di desa ini, dan kepalaku mulai mengarang suara.

Aku berbalik, siap pergi.

Dan suara itu kembali.

Tapi kali ini bukan suara anak kecil.

Kali ini suaraku.

Persis suaraku. Sampai ke nada seraknya, sampai ke jeda napasnya, sampai ke cara aku mengucapkan kata-kata ketika aku takut — pelan, dipaksa tenang, seperti sedang meyakinkan diriku sendiri bahwa semuanya baik-baik saja.

"Jangan pulang dulu," katanya dari dasar sumur.

Aku membeku di tempat.

"Kamu belum melihat apa yang ada di tendamu."

Aku belum pernah bilang pada siapa pun bahwa tendaku masih berdiri.

Kepalaku berputar. Aku mengemasi tenda itu pagi tadi. Aku melipatnya, memasukkan ke dalam carrier, membawanya menuruni bukit. Tendaku ada di punggungku sekarang. Aku bisa merasakan talinya menekan bahuku. Aku bisa merasakan beratnya.

Kalau begitu, tenda mana yang dimaksud suara itu?

Aku menoleh ke arah sungai. Di seberang, di balik kabut tipis yang menempel di permukaan air, aku melihat sesuatu yang tadi tidak ada.

Sebuah lapangan kecil. Tanah gundul. Rata.

Dan di tengahnya, berdiri sebuah tenda.

Merah. Miring sedikit ke kiri. Dipasang di bawah pohon tertinggi, tepat di tengah lingkaran yang terlalu bersih.

Tendaku.

Tenda yang sama. Tenda yang kupasang di Hutan Sirewang. Tenda yang sudah kulipat dan kubawa pergi.

Ia berdiri di sana, di seberang sungai, seolah tidak pernah kupindahkan. Seolah tidak pernah ada pagi. Seolah malam pertama belum berakhir.

Dan dari dalam tenda itu, pelan sekali, aku mendengar suara ritsleting ditarik.

Bukan dari luar.

Dari dalam.

Seperti ada seseorang yang baru saja bangun, dan bersiap keluar menemuiku.

kembali ke daftar story episode 3