story 4 · episode 3
Semua Penduduk Sedang Menunggu
05 menit membaca

Ritsleting itu bergerak pelan, gigi-giginya saling lepas satu per satu dengan bunyi kriiik yang halus, sabar, seperti seseorang yang tahu aku sedang menonton dari seberang sungai.
Aku tidak menunggu sampai tenda itu terbuka.
Aku berbalik, dan aku berlari.
Bukan ke arah sungai. Bukan ke arah tenda. Aku berlari kembali ke jalan desa, menyusuri rumah-rumah kosong yang tadi kulewati, dengan napas yang keluar kasar dan kaki yang berkali-kali tersandung batu. Di belakangku, aku tidak mendengar langkah mengejar. Yang kudengar hanya ritsleting itu — terus terbuka, terus terbuka, seolah tidak pernah mau berhenti.
Jalan desa menanjak. Rumah-rumah mulai jarang. Di kejauhan, ilalang di puncak bukit masih bergoyang pelan, dan di baliknya, pepohonan gelap Hutan Sirewang berdiri seperti tembok yang menunggu.
Kalau aku bisa mencapai bukit itu, aku bisa turun ke sisi lain. Keluar dari desa ini. Keluar dari hutan ini. Pulang.
Aku hampir percaya pada kalimat itu.
* * *
Lalu aku melihat mereka.
Di ujung jalan, tempat jalan setapak itu bertemu dengan ilalang, ada orang-orang berdiri.
Bukan satu. Bukan dua. Puluhan.
Mereka berdiri berbaris melintang menutup jalan, rapat, tanpa celah. Pakaian mereka lusuh — kain yang sudah pudar warnanya, sobek di sana-sini, tergantung seperti bendera basah di tubuh yang terlalu kurus. Beberapa memakai sarung. Beberapa memakai kemeja tua yang kancingnya tinggal satu. Tidak ada yang memakai alas kaki.
Tubuh mereka kaku. Terlalu kaku. Tidak ada yang bergoyang, tidak ada yang menggeser berat badan, tidak ada yang menoleh ke arah angin. Mereka berdiri seperti patung yang ditancapkan ke tanah dengan pasak.
Dan wajah mereka —
Aku memperlambat langkah, lalu berhenti.
Aku tidak bisa melihat wajah mereka.
Bukan karena gelap. Matahariku masih tinggi di langit kelabu. Bukan karena mereka membelakangi aku — beberapa jelas menghadap ke arahku. Tapi di tempat wajah seharusnya berada, ada sesuatu yang sulit kufokuskan. Seperti kabut tipis yang menempel di kulit. Seperti bayangan yang bergeser setiap kali aku mencoba menatapnya lurus.
Setiap kali aku memandang satu wajah, pandanganku seperti terpeleset ke samping.
Aku menelan ludah. Tenggorokanku kering sampai rasanya berpasir.
Ini manusia. Ini penduduk desa. Mereka ada di sini. Mereka bisa menolongku.
Aku mengangkat tangan dan berteriak sekeras yang bisa kulakukan.
"Tolong! Ada yang bisa bantu saya?"
Suaraku memantul di antara rumah-rumah kosong, lalu mati di ilalang.
Tidak ada yang menjawab.
"Saya tersesat! Saya butuh jalan keluar dari sini!"
Diam.
"Tolong, dengar saya! Saya tidak sendirian di sana — ada sesuatu di desa kalian —"
Aku berhenti. Karena sesuatu terjadi.
Semua kepala itu menoleh.
Serempak.
Bukan satu per satu. Bukan bergelombang dari kiri ke kanan seperti orang yang mendengar suara dari kejauhan. Semuanya, dalam satu gerakan yang sama, dalam satu detik yang sama — seperti satu tubuh yang punya puluhan kepala.
Dan mereka menoleh ke arah yang sama.
Bukan ke arahku.
Ke belakangku.
Ke arah bukit. Ke arah ilalang. Ke arah hutan di baliknya — hutan tempat tendaku masih berdiri, di tengah lingkaran tanah yang terlalu bersih.
Lalu mereka mengangkat tangan.
Semuanya. Serempak. Puluhan lengan kurus terangkat ke udara, dan puluhan jari menunjuk lurus ke arah yang sama.
Ke hutan.
Ke tendaku.
Aku menoleh ke belakang, ke arah yang mereka tunjuk, meski aku tahu apa yang ada di sana. Bukit. Ilalang. Pepohonan gelap yang berdiri terlalu rapat.
Dan di antara pepohonan itu, samar-samar, aku melihat sesuatu yang tidak seharusnya terlihat dari jarak ini.
Cahaya.
Oranye. Berkedip. Kecil, seperti nyala lampu tenda yang baru dinyalakan.
Aku menoleh kembali ke arah mereka.
Barisan itu sudah bergerak.
Bukan mendekat. Bukan mengurungku. Mereka berjalan pelan, beriringan, menyusuri jalan desa — melewatiku satu per satu tanpa menoleh, tanpa menyentuh, tanpa suara langkah. Tubuh-tubuh kaku itu mengalir di kedua sisiku seperti air yang dingin, dan ketika mereka lewat, aku merasakan hawa yang keluar dari pakaian mereka: bau tanah basah. Bau lumut. Bau sesuatu yang sudah lama berada di bawah tanah.
Aku berdiri diam, membeku, sampai barisan terakhir lewat.
Lalu aku berbalik.
Mereka berjalan ke arah hutan. Semuanya. Puluhan punggung kurus yang bergerak serempak menuju ilalang, menembusnya, dan menghilang satu per satu di antara pepohonan.
Dan di kejauhan, di balik batang-batang itu, cahaya oranye itu masih menyala.
Menunggu.
* * *
Aku tidak tahu berapa lama aku berdiri di jalan desa itu. Yang kutahu, langit mulai keunguan, dan udara mulai dingin, dan di ujung jalan, tidak ada lagi yang tersisa. Tidak ada orang. Tidak ada barisan. Hanya ilalang yang bergoyang, dan hutan yang gelap.
Kakiku bergerak sendiri.
Bukan ke arah bukit. Bukan ke arah jalan keluar yang tidak pernah ada.
Ke arah hutan.
Ke arah cahaya itu.
Karena di dalam kepalaku, satu pertanyaan berputar tanpa henti, dan aku tahu jawabannya hanya ada di sana.
Siapa yang menyalakan lampu tendaku?
Aku menembus ilalang. Aku menembus barisan pohon pertama. Tanah di bawah sepatuku terasa lunak, terlalu lunak, dan mulai menyerupai sesuatu yang pernah kupijak sebelumnya.
Lalu aku melihatnya.
Lingkaran tanah yang terlalu bersih itu. Pasak-pasak yang kutancapkan sendiri. Tenda merah yang seharusnya sudah kulipat pagi tadi, berdiri miring sedikit ke kiri, dengan lampu di dalamnya menyala terang.
Dan di dinding tenda — di kain oranye yang kukenal sampai ke seratnya — ada bayangan.
Sebuah siluet. Duduk. Diam.
Di dalam tendaku.
Menunggu.
Aku melangkah mendekat, satu langkah, lalu berhenti, karena dari dalam tenda itu, pelan sekali, aku mendengar suara ritsleting ditarik lagi.
Kali ini dari sisi dalam.
Seperti seseorang yang sudah duduk terlalu lama, dan akhirnya memutuskan untuk keluar menemuiku.