story 2 · episode 3
Foto Keluarga Tanpa Wajah
05 menit membaca

Aku tidak bergerak. Kakiku menempel di lantai kayu yang bersih itu, seperti dipaku dari bawah. Di depanku, empat piring masih beruap. Di kursi paling ujung, punggung itu masih menunduk, masih bernapas dengan irama yang salah — panjang, basah, jeda yang terlalu lama di antara tarikan dan embusan.
Aku menghitung. Satu tarikan. Lima detik. Satu embusan. Tujuh detik.
Manusia tidak bernapas seperti itu.
"Permisi," kataku. Suaraku keluar pelan, hampir seperti bisikan.
Punggung itu tidak bergerak.
Aku melangkah mundur satu kali, dan tumitku menyentuh sesuatu yang dingin. Sandal jepit biru tua. Basah. Aku menoleh cepat ke arah pintu, memastikan jalan keluar masih terbuka, lalu kembali menatap kursi itu.
Masih di sana. Masih menunduk.
Aku memilih dinding.
Bukan karena berani. Karena dinding itu lebih jauh dari kursi itu, dan di dinding itu ada foto-foto yang tadi menarik perhatianku. Aku berjalan menyusur, punggungku menempel rapat ke papan kayu, mataku tidak lepas dari sosok di kursi ujung.
Dinding kanan rumah itu penuh foto.
Bukan sederet. Puluhan. Bergantung dengan tali rafia tipis, miring ke kanan dan ke kiri, berlapis-lapis sampai ada yang saling menutupi. Ukurannya beda-beda — ada yang sebesar telapak tangan, ada yang sebesar buku tulis. Semuanya berbingkai kayu, semuanya tua, semuanya menguning.
Dan semuanya rusak.
Aku mendekat ke foto pertama. Sebuah keluarga berdiri di depan rumah ini. Ayah, ibu, dua anak — sama seperti foto di meja tadi. Tapi kali ini wajah mereka tidak kosong. Wajah mereka dicakar.
Goresan tajam, tidak rapi, berkali-kali, sampai kayu bingkainya pun tergores. Seperti seseorang menyerang foto itu dengan kuku, atau dengan pisau kecil, berulang-ulang, sampai tidak ada lagi yang bisa dikenali.
Aku melangkah ke foto berikutnya.
Sama.
Foto ketiga. Keempat. Kelima. Semuanya sama. Wajah-wajah itu hilang di bawah goresan yang dalam, menganga seperti luka lama. Ada yang digores dari atas ke bawah. Ada yang dicakar menyilang. Ada yang lubangnya sampai menembus kertas, memperlihatkan dinding kayu di belakangnya.
Puluhan foto. Puluhan wajah. Semuanya dibinasakan.
Aku berjalan lebih cepat sekarang, menyusuri dinding, mataku melompat dari satu bingkai ke bingkai lain. Rumah ini. Keluarga ini. Orang-orang yang sama, di tahun yang berbeda-beda, di depan pintu yang sama, di bawah atap yang sama. Dan di setiap foto, wajah mereka sudah tidak ada.
Kecuali satu.
Aku hampir melewatinya.
Foto itu tergantung di paling ujung, hampir di sudut ruangan, setengah tertutup bayangan. Ukurannya kecil, lebih kecil dari yang lain. Bingkainya retak di satu sisi. Tapi kacanya bersih.
Dan wajah-wajah di dalamnya utuh.
Aku mendekat, sampai napasku mengembun di permukaan kaca. Foto itu tidak digores. Tidak dicakar. Tidak dilubangi. Warnanya memang pudar, tapi semua detailnya masih bisa kulihat jelas.
Seorang ayah. Seorang ibu. Dua anak kecil. Mereka berdiri berbaris, tersenyum ke arah kamera.
Dan di belakang mereka — bukan rumah ini.
Di belakang mereka ada tenda.
Tenda camping. Merah, miring sedikit ke kiri, dipasang di tanah lapang yang rata. Aku mengenali bentuknya. Aku mengenali caranya berdiri. Aku mengenali pasaknya yang masuk terlalu dalam.
Itu tendaku.
Tenda itu milikku.
Tanganku gemetar. Aku meraih bingkai itu, melepasnya dari tali rafia, membawanya lebih dekat ke api tungku supaya cahayanya cukup. Dan ketika cahaya oranye itu menyentuh permukaan foto, aku melihatnya.
Di belakang keluarga itu, di balik tenda, berdiri seorang pria.
Ia tidak ikut berpose. Ia tidak menghadap kamera. Ia berdiri agak ke samping, setengah tersembunyi oleh bayangan tenda, seperti orang yang baru saja lewat dan tidak sengaja masuk ke dalam bingkai.
Aku menajamkan mata.
Jaket itu. Jaket hijau tua dengan sobekan kecil di lengan kanan — sobekan yang kubuat sendiri tiga tahun lalu, saat tersangkut paku di garasi. Tas itu. Tas carrier hitam dengan tali merah yang kusimpul di sisi kiri karena resletingnya rusak. Sepatu itu. Sepatu hiking yang sudah kumakai sejak awal perjalanan.
Pria itu.
Pria itu adalah aku.
Aku menatap foto itu lama sekali. Api di tungku berderak. Di belakangku, kursi ujung itu masih diam. Tapi napas basah itu masih ada — masih panjang, masih salah, masih mengisi ruangan dengan irama yang tidak seharusnya dimiliki manusia.
Aku menoleh ke arah kursi.
Punggung itu sudah tidak menunduk.
Ia sudah tegak. Masih menghadap ke arah meja, masih membelakangiku, tapi sekarang kepalanya sedikit miring — seperti seseorang yang baru saja mendengar sesuatu di belakangnya, dan sedang memutuskan apakah perlu menoleh.
Aku menelan ludah. Di tanganku, foto itu masih terasa dingin, terlalu dingin untuk kertas yang baru saja kusentuh dari dinding.
Dan di keheningan yang mengikuti, dari luar rumah — dari arah sumur batu di ujung desa — suara perempuan itu kembali terdengar. Kali ini bukan mengajak makan. Kali ini lebih pelan, lebih sabar, seperti seseorang yang berbicara kepada tamu yang sudah terlambat datang.
"Sudah lama kami menunggu," katanya. "Sejak foto itu dipotret."
Aku menatap foto di tanganku sekali lagi. Keluarga tanpa nama. Tenda yang tidak seharusnya ada di foto setua ini. Dan seorang pria di belakangnya, yang memakai jaketku, memakai tasku, memakai sepatuku — berdiri di sana, di dalam foto yang sudah menguning puluhan tahun sebelum aku lahir.
Kalau pria itu aku, lalu sejak kapan aku ada di desa ini?
Dan kalau aku baru datang kemarin — siapa yang sudah berdiri di belakang tendaku sejak dulu?
Di belakangku, kursi kayu itu bergesek di lantai. Pelan. Seperti seseorang yang akhirnya memutuskan untuk berbalik.
Aku belum berani menoleh.