TAGAR MISTERI

jangan dibaca sendirian

story 1 · episode 3

Rumah dengan Asap Dapur

06 menit membaca

Rumah dengan Asap Dapur

Aku meninggalkan tenda itu sebelum tengah hari.

Bukan keputusan yang lahir dari keberanian. Justru sebaliknya — aku pergi karena tidak sanggup lagi melihat pasak-pasak yang kutancapkan sendiri, tahu bahwa malam nanti aku harus kembali ke sana, ke tempat yang jelas-jelas bukan milikku.

Jejak kaki kecil yang keluar dari tendaku masih terbayang di pelupuk mata. Jejak yang berhenti tepat di tempat aku berdiri. Seolah sesuatu baru saja lewat, dan aku baru saja menggantikannya.

Aku mengemasi semuanya dengan tangan gemetar. Sleeping bag, matras, kompor, sisa mie instan. Kamera kumasukkan paling bawah, tidak ingin menyentuhnya lagi. Lalu aku berjalan — tanpa arah, tanpa kompas, hanya menjauh dari lingkaran tanah yang terlalu bersih itu.

Hutan Sirewang membiarkanku pergi pagi itu.

Itu yang paling mengganggu. Semalam ia menahan aku dengan papan penunjuk, dengan langkah yang mengitari tenda, dengan napas yang menempel di kain. Hari ini ia membuka jalannya, seperti seseorang yang membukakan pintu dan berkata, silakan, lewat sini.

Aku berjalan hampir tiga jam. Tanah menurun. Pepohonan mulai jarang.

Lalu aku melihat asap.

* * *

Asap itu tipis dan putih, naik lurus ke langit kelabu. Berasal dari balik bukit kecil yang ditumbuhi ilalang setinggi pinggang. Aku berhenti, menajamkan mata, dan merasakan sesuatu yang aneh merayap di dadaku — bukan takut, bukan lega, tapi campuran keduanya yang membuat tenggorokanku kering.

Asap berarti api. Api berarti manusia.

Setelah dua malam dikelilingi sesuatu yang meniru manusia, aku tidak tahu mana yang lebih kutakutkan: menemukan orang di hutan ini, atau tidak menemukan siapa-siapa sama sekali.

Aku menaiki bukit itu, mendorong ilalang dengan kedua tangan. Di puncaknya, aku berhenti lagi.

Dan aku menahan napas.

Di bawah sana, terbentang sebuah desa.

* * *

Desa itu kecil — mungkin dua puluh rumah, tidak lebih. Berjejer mengikuti alur sungai kecil yang airnya keruh dan diam. Rumah-rumahnya dari kayu dan bambu, beratap rumbia, beberapa sudah miring seperti orang tua yang tertidur sambil duduk. Tidak ada jalan aspal. Tidak ada kabel listrik. Tidak ada papan nama.

Dan tidak ada suara.

Tidak ada ayam. Tidak ada anak-anak. Tidak ada gerobak. Tidak ada satu pun suara yang seharusnya keluar dari desa yang masih hidup.

Yang ada hanya asap itu — satu kepulan tipis dari satu cerobong, di rumah paling ujung, dekat sungai.

Aku berdiri lama di puncak bukit, menimbang. Kakiku lecet. Air minumku tinggal setengah botol. Di belakangku, hutan. Di depanku, desa yang mungkin kosong, atau mungkin tidak.

Aku memilih desa.

* * *

Tanah desa itu lembap dan berbau lumut tua. Rumput tumbuh di antara batu-batu jalan setapak, setinggi mata kaki, tidak pernah dipangkas sejak lama. Beberapa pintu rumah terbuka, tergantung pada satu engsel, bergoyang pelan meski tidak ada angin.

Aku berjalan pelan di tengah jalan desa, menoleh ke kiri dan ke kanan. Di dalam rumah-rumah yang terbuka, aku bisa melihat perabot yang masih berdiri: meja kayu, kursi, tempayan air, kain yang tergantung di dinding seperti bendera pudar.

Semuanya tertinggal. Tidak ada yang dibawa pergi. Tidak ada yang dikemas.

Seperti penduduknya pergi begitu saja, di tengah makan malam, dan tidak pernah kembali.

Aku melewati sebuah rumah yang pintunya tertutup rapat. Di dinding depannya, masih ada tulisan kapur yang nyaris hilang: sebuah angka, mungkin tanggal. Di bawahnya, goresan kecil yang menyerupai gambar rumah dan tiga batang pohon.

Seorang anak pernah menggambar di sini. Bertahun-tahun lalu.

Aku melanjutkan langkah. Asap itu semakin dekat.

* * *

Rumah itu tidak berbeda dari yang lain. Kayu tua, atap rumbia, pintu dari papan yang dipasang miring. Tapi asapnya keluar dari cerobong kecil di samping, dan di bawah pintunya, ada cahaya.

Cahaya oranye. Berkedip. Seperti api.

Aku berdiri di depan rumah itu, beberapa langkah dari pintu, dan merasakan bulu tengkukku berdiri. Karena ada satu hal yang tidak masuk akal — lebih tidak masuk akal dari asap itu sendiri.

Rumah ini bersih.

Bukan bersih seperti baru disapu. Tapi bersih seperti dirawat. Tidak ada rumput tumbuh di depan pintunya. Tidak ada sarang laba-laba di sudut atapnya. Tidak ada lumut di dindingnya, sementara rumah-rumah lain di desa ini sudah hijau oleh lumut sampai ke pintu.

Seseorang tinggal di sini.

Aku mengangkat tangan, ragu, lalu mengetuk pintu itu dua kali.

Tok. Tok.

Tidak ada jawaban.

Aku mengetuk lagi, lebih keras. "Permisi?"

Di dalam, suara api berderak pelan. Sesuatu bergeser di lantai — kursi, mungkin, atau kaki yang menyentuh papan.

Tapi tidak ada yang menjawab.

Aku mendorong pintu itu. Ia terbuka tanpa suara, seperti sudah lama menunggu.

* * *

Di dalam, ada tungku batu di sudut ruangan. Api kecil menyala di atasnya, dan di atas api itu, sebuah panci tanah liat sedang mendidih. Uapnya keluar pelan, membawa bau yang membuat perutku mencelus — bau nasi. Nasi yang baru matang.

Di sebelah tungku, ada meja kayu. Di atas meja, ada empat piring. Empat piring yang sudah ditata, dengan nasi di atasnya, masih hangat, uapnya masih naik tipis ke udara.

Empat piring. Empat kursi. Empat gelas.

Tapi tidak ada orang.

Aku berdiri di ambang pintu, tidak berani masuk. Mataku menyapu ruangan itu — tungku, meja, kursi, sebuah lemari kayu di sudut, dan di dinding sebelah kanan, sederet foto yang tergantung miring.

Foto-foto keluarga. Tua, pudar, warnanya sudah menguning.

Aku melangkah mendekat. Kakiku seperti berjalan sendiri.

Di foto paling depan, ada sebuah keluarga — ayah, ibu, dua anak. Mereka berdiri di depan rumah ini, tersenyum, memakai pakaian yang sudah ketinggalan zaman.

Tapi ada yang salah.

Aku mendekatkan wajahku ke foto itu, sampai napasku mengembun di kacanya.

Wajah mereka.

Wajah mereka tidak ada.

Bukan buram. Bukan pudar. Bukan rusak karena usia. Di foto itu, di tempat wajah seharusnya berada, ada kekosongan — kulit yang halus, tanpa mata, tanpa hidung, tanpa mulut. Seperti seseorang menghapusnya dengan hati-hati, meninggalkan bentuk kepala yang mulus.

Empat kepala tanpa wajah, tersenyum dengan senyum yang tidak ada.

Aku mundur satu langkah. Kakiku menyentuh sesuatu di lantai.

Aku menunduk.

Di bawah meja, di lantai kayu yang bersih, ada sepasang sandal jepit. Biru tua. Basah.

Sandal yang sama.

Aku menoleh cepat ke arah pintu. Di luar, desa itu masih sunyi. Asap dari cerobong masih naik lurus. Dan di ujung jalan desa, di dekat sungai, aku melihat sesuatu yang tadi tidak ada — sebuah sumur batu tua, dengan tali yang tergantung di atasnya.

Tali itu bergerak. Pelan. Seperti ada yang menariknya dari dalam.

Lalu, dari arah sumur itu, sebuah suara memanggil. Bukan namaku. Bukan suara ayahku. Suara seorang perempuan, lembut, sabar, seperti orang yang sudah lama menunggu tamu.

"Masuklah. Nasi sudah matang."

Aku menoleh ke belakang. Empat piring di atas meja itu masih beruap.

Dan di kursi paling ujung — kursi yang tadi kosong — sekarang ada seseorang duduk. Punggungnya menghadapku. Kepalanya menunduk, seperti sedang berdoa.

Ia tidak bergerak. Tapi aku bisa mendengar napasnya.

Panjang. Basah. Seperti orang yang baru saja keluar dari air.

kembali ke daftar story episode 3