TAGAR MISTERI

jangan dibaca sendirian

story 3 · episode 7

Seseorang Sudah Menunggu

06 menit membaca

Seseorang Sudah Menunggu

Raka tidak menekan terima.

Ia menatap layar itu lama — nama pelanggan yang tertulis di sana, namanya sendiri, satu kalimat abu-abu yang belum selesai ia baca — lalu ia menurunkan ponselnya pelan-pelan. Tangannya masih gemetar. Tengkuknya masih dingin. Tapi ia tidak menekan apa pun.

Ibunya masih menggenggam lengannya terlalu erat.

"Bu," katanya. Pelan. "Saya nggak akan terima."

Ibunya menatapnya lama. Terlalu lama. Dan di matanya — di mata yang basah itu — ada sesuatu yang tidak bisa Raka namai. Bukan lega. Bukan tenang. Sesuatu yang lebih tua dari keduanya.

"Kamu janji?"

Raka mengangguk.

Di kursi kayu, Raki belum bergerak. Belum bicara. Tapi matanya — mata yang basah itu — mengikuti setiap gerakan Raka. Seperti sesuatu yang menunggu jawaban yang belum ia ucapkan.

Raka menoleh ke pintu.

"Tapi ada satu hal yang harus saya selesaikan dulu."

* * *

Ia tidak membawa ponsel itu.

Ia meninggalkannya di atas meja rendah, di samping album foto yang masih terbuka, di samping halaman yang berisi dua anak kecil berjaket hijau pudar yang kebesaran. Ia menutup pintu rumah ibunya pelan-pelan. Ia menaiki motornya. Dan ia melaju ke selatan.

Bukan karena ia memutuskan. Bukan karena ia berani. Tapi karena sesuatu di dalam dadanya — sesuatu yang sejak malam pertama terasa salah, sesuatu yang sejak awal selalu ia tahan — akhirnya tidak bisa lagi ia tahan.

Ia harus melihat halte itu. Untuk terakhir kalinya. Tanpa pesanan. Tanpa aplikasi. Tanpa apa pun yang menuntun.

Hanya dirinya sendiri.

* * *

Jalan raya berubah jadi jalan desa. Jalan desa berubah jadi jalan tanah. Dan ketika langit mulai gelap, halte tua itu muncul lagi di kejauhan.

Bangku beton retak. Tiang berkarat. Atap miring ke kiri.

Raka memperlambat motornya.

Dan ia melihat sesuatu yang membuatnya menahan napas.

Di depan halte itu, sebuah motor terparkir. Bukan motornya. Motor lain — hijau pudar, dengan box pengiriman di belakang, dengan helm tergantung di setangnya. Mesinnya masih menyala. Lampunya masih menyapu rumput liar di pinggir jalan.

Dan di atas bangku beton itu, seseorang duduk.

Seorang lelaki. Jaket ojek. Punggung membungkuk. Kedua tangan di pangkuan. Menatap lurus ke depan, ke jalan tanah yang membentang kosong di hadapannya.

Dan di sampingnya, duduk seorang perempuan.

Baju putih. Rambut panjang terurai. Duduk terlalu tegak. Terlalu tenang. Terlalu diam.

Raka menghentikan motornya di mulut jalan. Tiga puluh meter dari halte. Ia mematikan mesin. Suara motor itu mati, dan sunyi yang menggantikannya jauh lebih berat dari yang ia duga.

Ia turun. Pelan. Sangat pelan.

Dan ia mendengar suara itu.

Perempuan itu bicara. Pelan. Datar. Seperti suara yang sudah lama tidak dipakai.

"Antar saya pulang."

Lelaki di sampingnya tidak bergerak. Tidak menjawab. Hanya menunduk, kedua tangan menggenggam setang yang tidak ada.

Perempuan itu bicara lagi.

"Antar saya pulang."

Raka melangkah maju. Satu langkah. Dua. Rumput liar itu menyapu betisnya, basah, dingin, seperti jari-jari yang menyentuh. Tapi ia tidak berhenti. Ia tidak boleh berhenti. Ia harus memperingatkan lelaki itu.

Ia harus bilang jangan terima. Jangan antar. Jangan naikkan dia ke jok belakang.

"Bang!"

Suaranya sendiri terdengar asing. Terlalu kecil. Terlalu tipis di tengah sunyi jalan tanah ini.

Lelaki di bangku itu menoleh.

Pelan. Sangat pelan. Seperti leher yang tidak terburu-buru.

Dan Raka membeku.

Wajah itu.

Hidung yang sama. Rahang yang sama. Bentuk mata yang sama. Bekas luka kecil di dagu — di sisi kiri, bekas jatuh dari motor waktu SMP — ada di tempat yang persis sama.

Wajah itu adalah wajahnya sendiri.

Raka menahan napas. Kakinya berhenti. Tenggorokannya kering seperti kertas yang terbakar. Dan lelaki itu — lelaki dengan wajahnya sendiri, dengan jaket ojek yang sama, dengan bekas luka yang sama — menatapnya tanpa berkedip.

Tidak tersenyum. Tidak melambai. Tidak bicara.

Hanya menatap.

Seperti seseorang yang sudah lama menunggu di bangku itu, di jalan yang tidak pernah berujung, di malam yang tidak pernah selesai.

Lalu lelaki itu bangkit.

Pelan. Sangat pelan. Dan ia berjalan ke motornya — motor hijau pudar yang masih menyala itu — dan ia menaikinya.

Perempuan berbaju putih itu ikut berdiri.

Ia tidak berjalan. Ia tidak melangkah. Ia hanya — berpindah. Seperti kabut yang tersapu angin. Seperti sesuatu yang tidak pernah benar-benar ada, dan hanya menunggu untuk berada di tempat yang seharusnya.

Dan sekarang ia duduk di jok belakang.

Raka membuka mulut. Hendak berteriak. Hendak berlari. Hendak melakukan apa pun yang bisa menghentikan motor itu.

Tapi sebelum kata pertama keluar dari tenggorokannya, motor itu sudah melaju.

Pelan. Menyusup ke jalan tanah. Melewatinya. Melewati Raka yang masih berdiri di pinggir jalan, dengan tangan yang masih terangkat setengah, dengan mulut yang masih terbuka, dengan napas yang tertahan di pangkal tenggorokan.

Dan ketika motor itu lewat — begitu dekat sampai Raka bisa merasakan dingin yang menjalar dari bodinya — lelaki di atasnya menoleh.

Lurus ke arahnya.

Dan untuk pertama kalinya, ia bicara.

Suaranya pelan. Jelas. Menggema di sepanjang jalan tanah yang kosong, di sepanjang tulang-tulang Raka yang mendadak dingin.

"Kamu telat."

Lalu ia melaju.

* * *

Raka berbalik.

Ia ingin melihat motor itu pergi. Ia ingin melihat lampu belakangnya menghilang di tikungan. Ia ingin memastikan bahwa ia tidak salah lihat, bahwa wajah itu memang wajahnya sendiri, bahwa lelaki itu memang ada, bahwa halte ini memang baru saja melahirkan seseorang yang persis seperti dia.

Tapi ia tidak melihat motor itu.

Ia melihat halte itu.

Bangku beton retak. Tiang berkarat. Atap miring ke kiri.

Kosong.

Tidak ada motor hijau pudar. Tidak ada lelaki berjaket ojek. Tidak ada perempuan berbaju putih. Tidak ada lampu yang menyala. Tidak ada apa pun selain rumput liar yang bergoyang pelan, dan kabut yang mulai mengambang dari ujung jalan tanah.

Raka menatap halte itu lama.

Terlalu lama.

Dan ketika ia menoleh ke kiri — ke arah jalan tanah tempat motor itu tadi melaju — ia melihat sesuatu yang membuat darahnya berhenti mengalir.

Di kejauhan, di tengah kabut yang mengambang pelan, ada seseorang.

Berdiri di pinggir jalan.

Membelakanginya.

Jaket ojek. Hijau pudar. Logo aplikasi yang sudah luntur di lengan kanannya.

Dan sosok itu — pelan, sangat pelan, seperti sesuatu yang tidak terburu-buru — mulai memudar.

Dari ujung sepatu. Dari ujung jaket. Dari ujung rambut yang dipotong rapi.

Raka mengangkat tangannya. Pelan. Seperti hendak memanggil. Seperti hendak bertanya. Seperti hendak melakukan apa pun yang bisa menghentikan sesuatu yang sudah tidak bisa dihentikan.

Tapi sosok itu sudah hilang.

Kabut menutup tempatnya berdiri. Rata. Kosong. Seperti tidak pernah ada apa pun di sana.

Dan di belakang Raka, di atas bangku beton halte yang tadi kosong, kini tergeletak sebuah ponsel.

Layarnya menyala. Biru. Peta terbuka.

Raka berjalan pelan ke arahnya. Kakinya menyentuh rumput liar yang basah. Dan ketika ia sampai di depan bangku itu, ketika ia menunduk untuk melihat layar itu, ia membaca tulisan yang muncul huruf demi huruf, seperti ada yang mengetiknya dari dalam.

Pesanan selesai.

Nama pengemudi: Raka Pratama.

Nama pelanggan: Raka Pratama.

Dan di bawahnya, di kolom catatan yang selama ini selalu kosong, satu kalimat kecil. Abu-abu. Hampir tidak terbaca.

Sekarang tinggal kamu yang belum diantar pulang.

Jam digital di dashboard motornya berkedip.

00.17.

Dan jauh di ujung jalan tanah, di dalam kabut yang tidak seharusnya ada, sesuatu menyalakan lampu.

Sebuah motor.

Hijau pudar.

Melaju pelan.

Menuju ke arahnya.

kembali ke daftar story episode 7