TAGAR MISTERI

jangan dibaca sendirian

story 2 · episode 7

Pesanan untuk Dirinya Sendiri

06 menit membaca

Pesanan untuk Dirinya Sendiri

Lampu jalan itu mati satu per satu.

Tok. Tok. Tok.

Raka masih berdiri di tengah ruang tamu, tangannya dingin, matanya menatap celah tirai tempat cahaya kuning itu perlahan hilang. Di seberang jalan, Sari masih berdiri. Masih membelakangi. Masih dengan liontin perak yang berdenyut pelan di tangannya.

Dan di belakangnya, di kursi kayu, Raki belum berhenti menatap.

"Kak."

Suara itu kecil. Tipis. Tapi jelas.

"Kamu harus memilih."

Raka menoleh. Pelan. Sangat pelan.

Ibunya masih berdiri di samping lemari, tangannya menempel di pintu yang terbuka, dan di wajahnya — di wajah yang sudah basah oleh air mata yang tidak pernah ia izinkan jatuh selama sebelas tahun — tidak ada apa pun selain lelah.

"Bu," kata Raka. Suaranya serak. "Ini nggak bisa. Ini—"

Ponsel di meja berbunyi.

Satu nada. Bersih. Terlalu bersih.

Raka membeku.

Ketiganya menoleh — Raka, ibunya, dan anak kecil di kursi kayu itu. Dan di atas meja rendah, di samping album foto yang masih terbuka, ponsel itu menyala.

Biru. Gelap.

Raka menatapnya lama. Terlalu lama. Benda itu sudah dua kali ia matikan. Benda itu baterainya sudah ia kuras sampai nol. Benda itu seharusnya tidak bisa menyala — apalagi di rumah ini, di rumah yang ia hindari sebelas tahun, di rumah yang tidak pernah ia beri tahu kepada siapa pun.

Tapi benda itu menyala.

Dan di atas layarnya, tulisan yang ia kenal terlalu baik muncul huruf demi huruf, seperti ada yang mengetiknya dari dalam.

Pesanan baru.

Raka melangkah pelan ke meja itu. Kakinya menyentuh lantai kayu yang dingin. Dan setiap langkah, ponsel itu terasa semakin dekat, semakin terang, semakin hidup.

Ia mengangkatnya.

Layar itu biru. Peta terbuka. Dan di sudut kiri atas, satu baris kecil yang membuat tengkuknya dingin.

Nomor pesanan: 8817-01.

Nomor yang sama.

Nomor yang sama dengan malam pertama. Malam ketika ia baru selesai delapan jam di jalan, ketika hujan baru berhenti, ketika punggungnya pegal dan dompetnya tipis dan ia menerima pesanan tanpa berpikir.

Nomor itu.

Raka menelan ludah. Tenggorokannya kering seperti kertas yang terbakar.

Ia menggeser layar. Membuka detail pelanggan.

Dan sesuatu di dalam dadanya berhenti.

Di bagian atas halaman itu, di tempat yang selama ini selalu berisi satu titik kecil yang berdenyut pelan, kini ada sebuah foto.

Bukan foto pelanggan.

Bukan wajah perempuan berbaju putih. Bukan wajah Sari. Bukan wajah siapa pun yang pernah ia antar malam-malam sebelumnya.

Foto dirinya sendiri.

Raka menatapnya tanpa berkedip.

Di dalam foto itu, ia berdiri di depan motornya. Di bawah lampu jalan yang menyala oranye pucat. Latarnya gelap — jalan raya yang sepi, aspal basah, truk yang lewat jauh di kejauhan. Dan ia memakai jaket ojek.

Tapi bukan jaket yang sekarang menempel di badannya.

Jaket yang lain.

Jaket hijau tua. Lebih tua. Lebih kusam. Logo aplikasi di lengan kanannya sudah luntur, hampir hilang. Dan di bagian kerahnya, di lipatan kain yang menempel di lehernya, ada sesuatu yang membuat Raka menahan napas.

Bekas jahitan.

Bekas jahitan yang tidak rapi. Seperti sesuatu yang pernah sobek, pernah robek, pernah dijahit ulang oleh tangan yang gemetar.

Raka mengenal jaket itu.

Ia mengenal jaket itu terlalu baik.

Itu jaket yang ia pakai sebelas tahun lalu. Jaket yang ia pakai malam itu. Malam ketika ia duduk di kursi belakang mobil sedan putih yang melaju pelan di jalan raya menuju Kalipandan. Jaket yang ayahnya pinjamkan karena ia lupa membawa jaket sendiri. Jaket yang terlalu besar untuk tubuh kecilnya.

Jaket yang seharusnya ikut tenggelam bersama mobil itu.

Ia menggulir layar.

Di bawah foto itu, detail pesanan. Jemput. Tujuan. Tarif.

Raka membaca pelan. Huruf demi huruf.

Lokasi jemput: —

Hanya satu titik. Satu titik kecil yang berdenyut pelan, seperti titik di awal semua ini.

Dan di bawahnya, di kolom tujuan, sebuah nama tempat yang sudah ia kenal terlalu baik.

Halte Cempaka Lama.

Raka menutup matanya. Pelan. Lama.

Halte tua itu. Bangku beton retak. Tiang berkarat. Atap yang miring ke kiri. Tempat semuanya dimulai. Tempat di mana perempuan berbaju putih itu pertama kali duduk di jok belakang motornya, tanpa basah, tanpa suara, tanpa nama.

Ia membuka matanya. Menggeser layar lagi.

Dan di bagian paling bawah, di kolom tarif, ada angka.

Raka menatapnya lama.

Terlalu lama.

Angka itu — angka yang tercetak di layar dengan huruf yang sama, dengan font yang sama, dengan warna yang sama — persis tiga kali lipat dari tarif malam pertama.

Persis tiga kali lipat.

Empat puluh menit. Satu penumpang. Satu tujuan. Tiga kali lipat.

Raka menoleh ke ibunya.

Ibunya masih berdiri di samping lemari. Masih dengan tangan di pintu yang terbuka. Dan di wajahnya — di wajah yang lelah itu — ada sesuatu yang berubah. Bukan kaget. Bukan takut. Sesuatu yang lebih tua dari keduanya. Sesuatu yang seperti orang yang baru saja melihat sesuatu yang sudah lama ia tunggu, dan sekarang akhirnya datang.

"Jangan," katanya.

Suaranya pelan. Tapi keras. Seperti sesuatu yang keluar dari dalam tanah.

Raka menatapnya.

"Bu, ini cuma pesanan."

"Jangan terima."

"Bu—"

"Jangan terima, Raka."

Ibunya melangkah maju. Satu langkah. Dua. Dan untuk pertama kalinya sejak Raka datang ke rumah ini, ibunya menyentuhnya — tangannya yang keriput menggenggam lengannya terlalu erat, terlalu dingin, seperti seseorang yang mencoba menahan sesuatu yang sudah lepas.

"Dua puluh dua orang nerima pesanan itu," katanya. "Dua puluh dua. Dan dua puluh dua-duanya nggak pernah pulang."

Raka menahan napas.

Di kursi kayu, Raki belum bergerak. Belum bicara. Tapi matanya — mata yang basah itu — menatap Raka lurus. Dan di dalamnya, ada sesuatu yang seperti peringatan. Sesuatu yang seperti izin yang diberikan terlalu cepat.

Ponsel di tangan Raka berbunyi lagi.

Satu nada. Bersih. Terlalu bersih.

Raka menunduk.

Di bawah tarif itu, di baris yang tadi kosong, tulisan baru muncul. Huruf demi huruf. Seperti ada yang mengetiknya dari dalam.

Nama pelanggan: Raka Pratama.

Raka membeku.

Ia membaca ulang. Huruf demi huruf. Namanya sendiri. Tertulis di kolom pelanggan. Bukan di kolom pengemudi. Bukan di tempat yang seharusnya. Di tempat yang selama ini selalu berisi nama orang lain — nama Sari, nama orang-orang yang tidak pernah ia kenal, nama-nama yang datang dari halte tua itu.

Dan di bawahnya, di kolom catatan pelanggan — kolom yang selama ini selalu kosong, kolom yang tidak pernah berisi apa pun selain satu titik — ada satu kalimat.

Kecil. Abu-abu. Hampir tidak terbaca.

Tiga kali lipat. Karena kamu harus mengantar dirimu sendiri.

Sunyi.

Raka menatap layar itu tanpa berkedip. Tangannya gemetar begitu hebat sampai ponsel itu hampir jatuh dari genggamannya. Dan di luar, lampu jalan yang tadi mati satu per satu itu — lampu yang tadi padam sampai tinggal satu — mulai menyala lagi.

Tok. Tok. Tok.

Satu per satu.

Dan di seberang jalan, di bawah pohon yang rindang, Sari akhirnya menoleh.

Pelan. Sangat pelan.

Dan untuk pertama kalinya sejak halte tua itu, ia menatap Raka — bukan lewat kaca spion, bukan lewat celah pintu, bukan lewat kabut. Lurus. Tanpa perantara. Tanpa apa pun.

Di tangannya, liontin perak itu masih berdenyut.

Dan di belakangnya, mobil hitam itu — mobil yang tadi berhenti, mobil yang tadi tanpa suara — menyalakan lampunya.

Nyala. Mati. Nyala.

Dan pintu belakangnya terbuka.

Pelan. Sangat pelan.

kembali ke daftar story episode 7