story 4 · episode 7
Riwayat yang Tidak Pernah Berakhir
07 menit membaca

Hujan baru saja berhenti ketika Danu membuka laptopnya di bangku halte bus kota.
Ia pengemudi ojek, sama seperti kebanyakan orang di forum itu. Tiga puluh tahun. Jaket hijau tua yang sudah pudar di bagian lengan. Tangan yang kapalan karena setang. Dan malam ini, ia baru saja menyelesaikan perjalanan terakhirnya — pulang dari antar penumpang di ujung kota, dompet tipis, punggung pegal.
Ia membuka forum komunitas pengemudi. Bukan karena apa-apa. Hanya karena hujan membuatnya malas langsung pulang.
Dan di halaman pertama, di antara keluhan tarif dan kelakar tengah malam, ada satu utas yang menempel di paling atas.
Judulnya sederhana. Tua. Sudah lama tidak dibalas.
Riwayat pesanan yang nggak pernah berakhir. Hati-hati.
Danu mengerutkan dahi. Ia menekannya.
* * *
Isinya tangkapan layar.
Puluhan. Mungkin ratusan. Semuanya dari aplikasi yang sama, tampilan yang sama, layar biru gelap, peta terbuka, dan di sudut kiri atas satu baris kecil yang berulang-ulang.
Jemput di Halte Cempaka Lama.
Tujuan: Desa Kalipandan.
Danu menggulir pelan. Jari telunjuknya menyapu touchpad. Matanya mengikuti setiap baris.
Ada nama-nama. Nama pengemudi. Tanggal. Jam. Dan di kolom paling kanan, status.
Dibatalkan. Dibatalkan. Diantar. Dibatalkan. Hilang.
Ia berhenti menggulir.
Hilang.
Danu menelan ludah. Ia membaca ulang. Nama di bawah kata itu lelaki. Usia tiga puluh satu. Ojek. Terakhir terlihat di jalan menuju Kalipandan, pukul setengah dua pagi.
Ia menggulir lagi.
Hilang. Hilang. Diantar. Dibatalkan. Hilang.
Dan di antara nama-nama itu, ada beberapa yang masih aktif. Profil mereka masih bisa diklik. Foto profil mereka masih ada. Danu menekan salah satunya — seorang lelaki paruh baya, senyum tipis, status online terakhir tiga hari lalu.
Ia menutup profil itu.
Ia menekan yang lain. Masih aktif. Yang lain lagi. Sudah tidak pernah masuk sejak dua tahun lalu.
Danu menutup matanya. Pelan.
Ia sudah lama di jalan. Ia tahu cerita-cerita yang beredar di antara pengemudi. Cerita tentang halte tua di ujung jalan tanah. Cerita tentang perempuan berbaju putih yang tidak pernah kehujanan. Cerita tentang pesanan yang tidak pernah selesai.
Ia selalu menganggapnya lelucon. Cerita untuk mengisi waktu di antara dua perjalanan. Cerita untuk menakuti pengemudi baru.
Tapi ini bukan cerita.
Ini tangkapan layar.
* * *
Danu menggulir sampai dasar utas.
Di situ, di antara balasan-balasan yang sudah lama tidak aktif, ada satu pesan yang diposting beberapa hari lalu. Akun tanpa nama. Tanpa foto. Tanpa riwayat.
Hanya satu kalimat.
Ada yang baru di urutan paling bawah. Cek.
Danu menaikkan gulirannya.
Pelan. Hati-hati. Seperti orang yang membuka pintu yang tidak seharusnya ia buka.
Ia sampai di bagian paling bawah halaman.
Dan di situ, di antara baris-baris yang sudah lama tidak diperbarui, ada satu baris baru.
Tanggalnya.
Beberapa hari lalu.
Danu menatapnya lama. Terlalu lama. Layar laptop itu memantulkan cahaya ke wajahnya, ke matanya yang lelah, ke tangannya yang masih menempel di touchpad.
Di baris itu, ada satu nama.
Raka.
Nama pengemudi. Tujuan: Desa Kalipandan. Lokasi jemput: Halte Cempaka Lama.
Dan di kolom paling kanan, di tempat yang selama ini selalu berisi satu titik kecil yang berdenyut pelan, kini ada tulisan.
Bukan dibatalkan. Bukan diantar. Bukan hilang.
Dalam perjalanan.
Danu menahan napas.
Ia membaca jamnya. 00.17.
Jam yang sama. Selalu jam yang sama. Sejak baris pertama di halaman ini, sejak dua belas tahun lalu, sejak sebelum ia sendiri mulai jadi pengemudi ojek.
Ia menggulir lagi. Ke atas. Ke bawah. Mencari nama Raka di tempat lain. Mencari tanggal lain. Mencari penjelasan.
Tidak ada.
Hanya satu baris.
Raka. 00.17. Dalam perjalanan.
* * *
Danu menutup laptopnya.
Pelan. Sangat pelan. Ia menatap halte bus di depannya lama. Bangku beton bersih. Lampu menyala. Orang-orang lewat dengan kopi di tangan. Tidak ada apa pun yang aneh. Tidak ada perempuan berbaju putih. Tidak ada helm hijau pudar. Tidak ada mobil hitam.
Tapi di dalam dadanya, sesuatu mengetat pelan.
Ia mengenal nama itu.
Raka Pratama. Pengemudi ojek. Umur dua puluh tujuh. Ia pernah dengar namanya disebut di grup chat tengah malam — beberapa bulan lalu, sebelum semuanya mulai. Sebelum utas ini muncul. Sebelum tangkapan layar pertama diunggah.
Orang-orang bilang Raka sudah tidak pernah terlihat lagi.
Orang-orang bilang ia hilang di jalan menuju Kalipandan.
Orang-orang bilang ia salah satu dari mereka.
Dan sekarang — beberapa hari yang lalu — namanya muncul lagi. Di baris paling bawah. Di utas yang sama. Dengan status yang belum pernah muncul sebelumnya.
Dalam perjalanan.
Danu menutup matanya.
Ia mengingat sesuatu. Malam ketika ia pertama kali mulai jadi ojek. Malam ketika ia menerima pesan sambutan dari aplikasi. Malam ketika ia menekan terima pada perjalanan pertamanya, dan ponselnya berbunyi, dan ia merasa — hanya sedetik, hanya sekilas, hanya sesuatu yang cepat ia lupakan — bahwa ada yang sedang menatapnya dari balik layar.
Ia membuka matanya.
Di luar, hujan mulai turun lagi. Gerimis pelan. Menyentuh aspal seperti kapas.
Dan ponsel di sakunya berbunyi.
Satu nada. Bersih. Terlalu bersih.
* * *
Danu tidak mengeluarkan ponselnya.
Ia duduk di bangku halte itu, dengan laptop yang masih tertutup di pangkuannya, dan hujan yang mulai membasahi trotoar di depan kakinya. Ia tidak bergerak. Tidak menoleh. Tidak menyentuh sakunya.
Ia sudah tahu apa yang akan ia lihat kalau ia membukanya.
Layar biru. Peta terbuka. Dan di sudut kiri atas, satu baris kecil yang muncul huruf demi huruf.
Jemput di Halte Cempaka Lama.
Tujuan: Desa Kalipandan.
Nama: .
Satu titik.
Dan di bawahnya, jam.
00.17.
Danu menarik napas panjang. Pelan. Ia mengeluarkan ponselnya. Menatapnya lama. Layar itu menyala biru di dalam gelap, memantulkan cahaya ke wajahnya yang lelah.
Dan ia membaca.
Bukan pesanan. Bukan peta. Bukan tulisan yang muncul huruf demi huruf.
Hanya satu notifikasi. Dari forum. Utas yang tadi ia buka.
Ada balasan baru.
Danu menekannya.
Balasan itu dari akun tanpa nama. Tanpa foto. Tanpa riwayat. Sama seperti balasan yang tadi ia baca di dasar utas.
Hanya satu kalimat.
Statusnya baru berubah. Cek lagi.
Danu membuka laptopnya.
Tangannya gemetar. Ia membuka utas itu lagi. Menggulir sampai dasar. Sampai baris paling bawah. Sampai nama yang beberapa hari lalu masih tertulis di sana.
Raka.
Dan di kolom paling kanan, di tempat yang tadi berisi tiga kata, kini hanya ada satu.
Selesai.
Danu menatapnya lama. Terlalu lama.
Ia membaca ulang. Huruf demi huruf. Selesai. Selesai. Selesai. Dan di bawah nama itu, di baris berikutnya — baris yang tadi kosong, baris yang tadi tidak ada — muncul sesuatu yang baru.
Nama pengemudi baru.
Tanggalnya. Malam ini.
Dan di kolom status, satu kata yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Menunggu.
Danu menutup laptopnya.
Ia menatap hujan di depan halte bus itu lama. Lalu ia berdiri. Mengangkat laptopnya. Menyelipkannya ke dalam tas. Dan berjalan ke motornya — motor yang terparkir di pinggir trotoar, hijau pudar, logo aplikasi yang sudah luntur di lengan kanannya.
Ia menyalakan mesin.
Ia tidak menoleh ke ponselnya yang masih menyala di sakunya. Ia tidak menoleh ke utas itu. Ia tidak menoleh ke nama yang baru muncul di baris paling bawah.
Ia hanya melaju.
Pelan. Menembus gerimis. Menembus jalan yang basah. Menembus malam yang tidak pernah benar-benar selesai.
Dan jauh di ujung jalan raya, di bawah lampu jalan yang menyala oranye pucat, sesuatu berhenti.
Sebuah motor.
Hijau pudar. Logo aplikasi yang sudah luntur di lengan kanannya.
Kosong.
Mesinnya masih menyala.
Dan di dalam box belakangnya, tergeletak sebuah helm. Basah kuyup. Air menetes dari visornya, satu demi satu, membentuk genangan kecil di atas aspal yang seharusnya kering.
Tok.
Tok.
Tok.
Dan di atas helm itu, sebuah ponsel menyala.
Layarnya biru. Peta terbuka. Dan di atas peta itu, satu baris kecil muncul huruf demi huruf, seperti ada yang mengetiknya dari dalam.
Pesanan baru.
Jemput di Halte Cempaka Lama.
Tujuan: Desa Kalipandan.
Nama: .
Satu titik.
Dan di bawahnya, jam.
00.17.
Selalu 00.17.
Selalu ada yang menunggu.
Selalu ada yang menerima.
Dan riwayat itu — riwayat yang sudah dua belas tahun tercatat di forum itu, riwayat yang tidak pernah benar-benar berakhir — kembali bertambah satu baris.
Malam ini.
Nama pengemudi: Danu.
Status: Dalam perjalanan.