story 1 · episode 7
Dua Anak dalam Satu Foto
08 menit membaca

Raka tidak menjawab.
Ia tidak bisa. Kata-kata ibunya masih menggantung di udara — kalau kamu Raka, lalu siapa anak yang selama ini tinggal bersama Ibu? — dan di kursi kayu itu, anak kecil berjaket hijau pudar masih duduk, masih menatapnya, masih dengan kaki yang tidak sampai ke lantai.
Ibunya menutup pintu. Pelan. Klik.
Dan sunyi yang menggantikannya lebih berat dari apa pun.
"Bu," kata Raka akhirnya. Suaranya serak. "Bu, ini nggak lucu."
Ibunya tidak menoleh. Ia hanya berjalan pelan ke sofa tua di sudut ruangan, duduk, dan menatap lantai kayu di bawah kakinya. Air mata itu masih jatuh. Satu. Dua. Tiga. Tanpa suara.
"Aku nggak pernah bilang ini lucu," katanya.
Raka menoleh ke anak kecil itu.
Anak itu masih di sana. Masih duduk. Masih dengan tangan terlipat di pangkuan. Dan jaket yang ia pakai — jaket kecil yang kebesaran, hijau pudar, logo aplikasi yang sudah luntur di lengan kanannya — persis sama dengan jaket yang Raka kenakan sekarang.
Hanya ukurannya yang berbeda.
"Siapa kamu?"
Anak itu tidak menjawab.
"Siapa kamu?"
Lebih keras. Sedikit.
Dan anak itu — pelan, sangat pelan — mengangkat kepalanya.
Matanya basah. Bukan mata kosong seperti di jembatan. Bukan mata hitam seperti di jok belakang motornya. Mata yang hidup. Mata yang lelah. Mata seorang anak yang sudah terlalu lama menunggu di kursi yang bukan miliknya.
"Aku Raka," katanya.
Suaranya kecil. Tipis. Tapi jelas.
Raka merasakan darahnya berhenti mengalir.
"Aku Raka," ulangnya. "Dan kamu… kamu juga Raka."
* * *
Ibunya berdiri.
Pelan. Sangat pelan. Seperti orang yang sudah lama menyimpan sesuatu dan akhirnya memutuskan untuk meletakkannya. Ia berjalan ke lemari tua di sudut ruang tamu — lemari yang sejak kecil Raka tahu selalu terkunci, lemari yang ia tidak pernah berani buka.
Ia merogoh sakunya. Mengeluarkan kunci kecil. Berkarat. Dan memasukkannya ke lubang gembok.
Klik.
Pintu lemari itu terbuka.
Bau kapur barus menyeruak. Bau kertas lama. Bau sesuatu yang sudah lama tidak disentuh cahaya. Ibunya merogoh ke dalam, pelan, hati-hati, dan menarik sesuatu.
Sebuah album foto.
Kulitnya retak di tepinya. Sudut-sudutnya sudah menguning. Dan di punggungnya, ditulis dengan tinta biru yang sudah pudar, satu kata.
Keluarga.
Ibunya meletakkannya di atas meja rendah, di depan Raka. Tidak membukanya. Tidak menggesernya. Ia hanya berdiri di sana, tangannya masih menempel di atas album itu, dan matanya menatap Raka seperti menatap seseorang yang sudah lama ia tunggu.
"Buka," katanya.
Raka menatapnya lama.
Ia menoleh ke anak kecil di kursi kayu. Anak itu masih di sana. Masih menatapnya. Dan di matanya — di mata yang basah itu — ada sesuatu yang seperti izin. Seperti sesuatu yang akhirnya boleh dibuka.
Raka mengulurkan tangan.
Album itu terbuka.
* * *
Halaman pertama kosong.
Halaman kedua kosong.
Halaman ketiga, sebuah foto. Hitam putih. Sudah menguning di tepinya. Di dalamnya, sebuah rumah kecil berdinding kayu, dengan halaman berumput liar dan pagar rendah yang miring ke dalam.
Raka menahan napas.
Rumah itu.
Rumah nomor tujuh.
Ia menggulir. Halaman keempat. Kelima. Keenam. Foto-foto yang sama, dari sudut yang berbeda. Rumah itu. Halaman itu. Pagar itu. Dan di salah satu foto, di depan pintu yang setengah terbuka, berdiri seorang perempuan berbaju putih dengan rambut panjang terurai.
Sari.
Raka menelan ludah. Tenggorokannya kering seperti kertas yang terbakar.
Ia menggulir lagi.
Halaman ketujuh. Dan di situ, jantungnya berhenti.
Sebuah foto keluarga.
Hitam putih. Sudut-sudutnya sudah keriting karena usia. Di dalamnya, di depan rumah biru itu — rumah yang sama, rumah nomor tujuh, rumah yang pintunya setengah terbuka — berdiri empat orang.
Seorang lelaki tinggi. Jaket gelap. Wajah yang Raka kenal terlalu baik.
Ayahnya.
Seorang perempuan di sampingnya. Rambut panjang terurai. Baju putih. Wajah yang tenang, mata yang tidak ramah.
Sari.
Dan di depan mereka, di halaman berumput liar itu, berdiri dua anak kecil.
Raka membeku.
Dua.
Bukan satu. Bukan dia sendiri. Dua.
Dua anak lelaki. Usia yang sama. Wajah yang sama. Rambut yang dipotong rapi. Dan jaket kecil yang kebesaran — jaket hijau pudar dengan logo aplikasi yang sudah luntur di lengan kanannya — dikenakan oleh keduanya.
Persis sama.
Raka menatap foto itu tanpa berkedip. Jari-jarinya dingin di atas kertas yang sudah menguning. Napasnya tertahan di pangkal tenggorokan.
"Bu."
Suaranya serak. Hampir tidak keluar.
"Bu, ini apa?"
Ibunya tidak menjawab.
"Bu, ini kenapa ada dua?"
Sunyi.
Hanya suara jam dinding di ruang tamu. Tok. Tok. Tok. Seperti sesuatu yang menghitung pelan.
Lalu ibunya bicara. Pelan. Sangat pelan. Seperti sesuatu yang sudah lama ia tahan dan akhirnya bocor juga.
"Kamu kembar."
Raka menahan napas.
"Kamu lahir kembar. Dua. Sama. Persis sama. Sampai orang-orang di sekitar sini nggak bisa bedain kalian kalau nggak lihat namanya."
Ia berhenti. Menelan ludah.
"Yang satu kami panggil Raka. Yang satu kami panggil Raki."
Raka menatapnya lama. Terlalu lama.
"Raki?"
Ibunya mengangguk. Pelan. Hampir tidak terlihat.
"Kamu Raka."
Ia menoleh ke anak kecil di kursi kayu. Pelan. Sangat pelan. Dan di matanya — di mata yang sudah basah itu — ada sesuatu yang tidak bisa Raka namai.
"Dia Raki."
* * *
Raka menatap anak kecil itu.
Anak itu menatapnya balik.
Dan untuk pertama kalinya, Raka sadar ada sesuatu yang berbeda di wajahnya. Sesuatu yang tipis. Sesuatu yang nyaris tidak terlihat. Sebuah bekas luka kecil di dagu — di sisi kanan, bukan kiri. Bukan bekas jatuh dari motor waktu SMP. Bukan bekas yang ia kenal di cermin setiap pagi.
Bekas yang lain.
Dari sesuatu yang lain.
"Malam itu," kata ibunya, "kalian berdua ikut ayahmu."
Raka menoleh.
"Ayahmu pergi ke Kalipandan. Ada urusan. Ada yang harus dia selesaikan. Dan kalian — kalian berdua ikut. Karena kalian nggak mau pisah. Karena kalian selalu pergi berdua."
Ia berhenti. Air matanya jatuh lagi. Satu. Dua. Tiga.
"Mobil itu kecelakaan di Kilometer 17. Ayahmu keluar dari pintu belakang sebelum mobil itu jatuh. Sari — Sari ada di dalam. Dan kalian…"
Ia menutup matanya. Pelan. Lama.
"Kalian berdua ada di dalam."
Sunyi.
Raka menahan napas. Tenggorokannya kering. Tangannya gemetar. Dan di dalam dadanya, sesuatu yang sejak malam pertama terasa salah — sesuatu yang sejak awal selalu ia tahan, selalu ia tolak, selalu ia hindari — akhirnya retak.
"Hanya satu yang keluar," kata ibunya.
Ia membuka matanya. Menatap Raka. Lurus. Tanpa berkedip.
"Sari menyelamatkan satu. Cuma satu. Dan yang satu lagi…"
Ia berhenti.
"Yang satu lagi nggak pernah ditemukan."
* * *
Raka menatap foto itu lagi.
Dua anak kecil. Dua wajah yang sama. Dua jaket hijau pudar yang kebesaran. Berdiri berdampingan di halaman berumput liar, di depan rumah biru itu, di depan pintu yang setengah terbuka.
Dan di belakang mereka, ayahnya dan Sari. Tersenyum. Seperti keluarga yang tidak pernah punya rahasia.
"Keluarga sepakat," lanjut ibunya. "Semua yang tahu. Aku. Ayahmu. Sari. Kami sepakat nggak akan pernah bilang. Kami bilang kamu cuma satu. Kami bilang kamu lahir sendiri. Kami hapus semua foto yang ada dua orangnya. Kami ubah semua catatan."
Ia menelan ludah.
"Kami pikir, kalau kami nggak pernah bilang, kamu nggak akan pernah ingat."
Raka menggeleng pelan.
"Tapi aku ingat," katanya. Suaranya serak. "Aku ingat hujan. Aku ingat Sari menoleh. Aku ingat dia mendorong—"
"Kamu ingat karena dia yang ingat."
Raka membeku.
Ibunya menatap anak kecil di kursi kayu itu. Lama. Terlalu lama.
"Karena Raki yang ada di dalam mobil itu."
Anak kecil itu — Raki — tidak bergerak. Tidak bicara. Hanya menatap Raka dengan mata yang basah, mata yang lelah, mata yang sudah terlalu lama menunggu di kursi yang bukan miliknya.
Dan di luar, di bawah lampu jalan yang mulai menyala satu per satu meski matahari belum sepenuhnya turun, sesuatu berhenti.
Sebuah mobil.
Hitam. Panjang. Tidak bersuara.
Menunggu.
Raka menoleh ke jendela. Ke tirai yang berkibar pelan. Ke celah sempit di antara kain itu. Dan di seberang jalan, di bawah pohon yang rindang, di samping mobil hitam itu, seseorang berdiri.
Membelakanginya.
Baju putih. Rambut panjang terurai. Dan di tangannya, tergantung liontin perak yang berdenyut pelan.
Sari.
Ia tidak menoleh. Ia hanya berdiri di sana. Menunggu.
Dan di dalam rumah, di kursi kayu itu, Raki akhirnya bicara. Suaranya kecil. Tipis. Tapi jelas. Terlalu jelas untuk ruangan yang sesunyi ini.
"Kak."
Raka menoleh.
"Kamu harus memilih."
Sunyi.
"Satu dari kita harus pergi."
Raka menatapnya tanpa berkedip. Tangannya dingin. Tengkuknya dingin. Seluruh tubuhnya dingin.
Dan di luar, lampu jalan itu — lampu yang baru saja menyala — mati.
Tok.
Satu per satu.