TAGAR MISTERI

jangan dibaca sendirian

story 3 · episode 5

Saksi dari Dalam Mobil

07 menit membaca

Saksi dari Dalam Mobil

Raka tidak menunggu perempuan itu menoleh sepenuhnya.

Ia berlari. Melewati pintu kamar yang mendorong dirinya sendiri, melewati lorong kayu yang berderit, melewati ibunya yang masih duduk di kursi dengan mata tertutup. Ia tidak berhenti. Tidak menoleh. Tidak memanggil.

Di luar, halaman itu kosong.

Rumput liar bergoyang pelan. Pagar berkarat masih miring ke dalam. Dan di depan pintu rumah biru itu, tidak ada siapa-siapa. Tidak ada baju putih. Tidak ada rambut panjang terurai. Tidak ada helm hijau pudar.

Hanya jejak kaki basah yang mengarah ke ujung gang, lalu menghilang di aspal kering.

Raka menyalakan motornya. Tangannya gemetar begitu hebat sampai setang itu bergetar di genggamannya. Ia tidak tahu ke mana ia akan pergi. Ia hanya tahu ia tidak boleh tinggal di sini.

Lalu ia menoleh ke selatan.

Ke arah jalan raya yang menuju Kilometer 17.

Ke arah jembatan yang tidak ada di GPS.

* * *

Jembatan itu masih di sana.

Beton retak. Pagar besi berkarat. Kabut yang mengambang pelan di tengahnya, seperti asap dari sesuatu yang baru saja padam.

Raka menghentikan motornya di mulut jembatan. Ia mematikan mesin. Suara motor itu mati, dan sunyi yang menggantikannya jauh lebih berat dari yang ia duga.

Ia turun.

Langkahnya pelan di atas beton yang dingin. Lampu motornya ia biarkan menyala, menyapu pagar berkarat, menyapu celah-celah di antara beton yang retak, menyapu sesuatu di bawah pembatas jalan.

Serpihan kaca.

Raka berjongkok.

Kaca itu kecil-kecil. Tersebar di bawah pembatas, di antara rumput yang tumbuh liar dari celah beton. Tidak berkilau seperti kaca baru. Kusam. Tepinya sudah tumpul, seperti sudah lama tersentuh air hujan, angin, dan waktu.

Ia menyapunya dengan ujung jari. Dingin. Licin.

Dan di sebelahnya, di permukaan beton yang menghadap ke jurang, ada sesuatu yang membuat Raka menahan napas.

Goresan.

Panjang. Dalam. Membentang dari tengah pembatas sampai ke ujung. Bukan goresan cat. Bukan goresan biasa. Goresan logam yang menyeret di atas beton, seperti sesuatu yang jatuh dan mencoba menahan diri, mencakar permukaan itu dengan seluruh tenaganya, dan gagal.

Raka menelusuri goresan itu dengan ujung jarinya.

Panas. Bukan hangat karena matahari. Panas seperti sesuatu yang baru saja terjadi. Sebelas tahun lalu.

Ia menarik tangannya. Pelan.

Di bawah pembatas, di antara serpihan kaca dan rumput liar, ada sesuatu yang berkilau.

Bukan kaca.

Logam.

Raka meraihnya. Pelan. Ujung jarinya menyentuh benda itu, dan dingin menjalar dari ujung kuku, naik ke pergelangan tangan, ke tulang hasta, ke pangkal lengan.

Sebuah liontin.

Bentuknya hati. Kecil. Perak yang sudah menghitam di tepinya. Rantainya putus, hanya tersisa beberapa mata rantai yang masih menempel di lubang kecil di atasnya.

Raka membaliknya.

Di bagian belakang, terukir sesuatu. Huruf-huruf kecil yang sudah hampir hilang, tergerus air dan waktu, tapi masih bisa ia baca.

Sari.

Raka menatap liontin itu lama. Terlalu lama.

Dan ketika jarinya menyentuh ukiran itu — benar-benar menyentuh, bukan sekadar melihat — sesuatu di dalam kepalanya retak.

* * *

Hujan.

Bukan hujan di jembatan ini. Bukan hujan malam ini. Hujan yang lain. Hujan yang lebih tua, lebih deras, hujan yang jatuh di atas atap seng rumah lamanya, dan suara itu — suara ibunya, pelan, dari balik pintu kamar.

Tidak apa-apa, Nak. Tidur lagi.

Raka menutup matanya. Pelan.

Dan ingatan itu datang.

Seperti air yang merembes dari celah dinding. Sedikit demi sedikit. Tidak bisa ditahan. Tidak bisa dihentikan.

Ia melihat teras rumah. Ia melihat lampu kuning yang menyala samar. Ia melihat seorang perempuan berdiri di sana — rambut panjang, baju putih, bahu yang bergetar karena menangis. Dan ayahnya, tinggi, jaket gelap, berdiri di depannya, bicara pelan, bicara lama.

Raka kecil berdiri di balik pintu kamarnya. Menempelkan matanya ke celah. Tidak mengerti.

Lalu ayahnya menoleh.

Bukan ke perempuan itu.

Ke arah kamarnya.

Ke arahnya.

Dan wajah ayahnya — wajah yang selalu tersenyum, wajah yang membacakan dongeng sebelum tidur, wajah yang ia lihat setiap hari sampai ia berumur enam tahun — wajah itu pucat. Bukan pucat seperti orang kaget. Pucat seperti orang yang baru saja tahu sesuatu yang tidak seharusnya ia tahu.

Raka kecil mundur dari pintu.

Dan ingatan itu pecah.

* * *

Raka membuka matanya.

Ia masih di jembatan itu. Masih berjongkok di atas beton yang dingin. Liontin itu masih di tangannya, masih dingin, masih berdenyut pelan seperti sesuatu yang hidup.

Di bawahnya, di permukaan beton yang menghadap jurang, goresan itu masih di sana. Panjang. Dalam.

Tapi sekarang, di sebelah goresan itu, ada sesuatu yang lain.

Bekas ban.

Dua garis hitam yang mencetak di beton, memanjang dari mulut jembatan sampai ke pembatas. Seperti mobil yang melaju terlalu cepat, terlalu miring, dan berhenti tepat di tepi jurang.

Raka menatap bekas ban itu lama.

Ia menoleh ke mulut jembatan.

Dan di ujung sana, di dalam kabut yang tidak seharusnya ada, dua titik cahaya muncul. Putih. Bulat. Bergerak pelan.

Raka membeku.

Mobil itu.

Hitam. Panjang. Tidak bersuara. Meluncur di atas jembatan seperti kapal yang bergerak di atas air mati. Ban-nya tidak berdesir. Tidak ada gemuruh. Tidak ada angin yang tersibak.

Dan di dalamnya — lewat kaca yang gelap, lewat kabut yang mengambang — Raka melihat sesuatu.

Seorang lelaki di kursi belakang.

Tinggi. Jaket gelap. Wajah yang ia kenal terlalu baik.

Ayahnya.

Raka mengangkat tangannya. Pelan. Seperti hendak memanggil. Seperti hendak bertanya. Seperti hendak melakukan apa pun yang bisa menghentikan mobil itu.

Tapi sebelum suaranya keluar, sebelum tangannya terangkat sepenuhnya, ayahnya menoleh.

Lurus ke arahnya.

Dan mulutnya terbuka.

Suaranya tidak keluar dari dalam mobil. Tidak keluar dari jendela yang tertutup. Tidak keluar dari kaca yang gelap. Suara itu keluar dari dalam kepala Raka sendiri, dari dalam tulang-tulangnya, dari dalam sesuatu yang sudah lama ia kubur dan sekarang bangun.

"Sembunyi."

Raka terjatuh ke belakang.

Beton itu keras di punggungnya. Liontin itu terlepas dari genggamannya, menggelinding di atas permukaan yang retak, dan berhenti di tepi jurang. Tapi Raka tidak melihatnya. Ia tidak bisa melihat apa pun selain mobil itu — mobil hitam yang masih meluncur pelan, dan ayahnya di dalamnya, dan sesuatu yang bergerak di kursi kemudi.

Seorang perempuan.

Rambut panjang terurai. Baju putih. Wajah yang tenang, mata yang tidak ramah.

Sari.

Ia tidak melihat Raka. Ia tidak melihat apa pun selain jalan di depannya, selain jurang di ujung jembatan, selain sesuatu yang tidak bisa Raka lihat.

Mobil itu berhenti.

Tepat di tengah jembatan.

Dan pintu belakangnya terbuka.

Sari keluar. Pelan. Sangat pelan. Kakinya menyentuh beton tanpa suara. Dan ia berjalan ke pintu belakang yang lain — pintu di sisi seberang — dan ia membukanya.

Raka menahan napas.

Di dalam, di kursi belakang, ada seseorang. Bukan ayahnya. Ayahnya masih di kursinya, masih menatap lurus ke depan, masih tidak bergerak.

Orang lain.

Duduk di kursi belakang. Tangan terlipat di pangkuan. Kepala tertunduk. Dan Sari — Sari meraih lengannya. Menariknya. Pelan. Hati-hati. Seperti seseorang yang menuntun anak kecil keluar dari mobil yang akan jatuh.

Raka menajamkan pandangannya.

Ia ingin melihat wajah orang itu. Ia harus melihat wajah orang itu. Ia harus tahu siapa yang ditarik Sari dari kursi belakang. Siapa yang ada di dalam mobil itu malam itu. Siapa yang menggantikan tempat ayahnya.

Tapi kabut itu bergerak.

Pelan. Seperti tangan yang menutup mata.

Dan wajah orang itu — wajah yang ditarik Sari keluar dari kursi belakang, wajah yang seharusnya ia lihat, wajah yang seharusnya menjelaskan semuanya — tidak pernah terlihat jelas.

Hanya punggung.

Hanya bahu yang kurus.

Hanya jaket kecil yang kebesaran.

Raka membeku.

Jaket kecil.

Seukuran anak lima tahun.

Dan ketika kabut itu menipis — ketika Raka akhirnya bisa melihat lebih jelas, ketika jantungnya berdebar terlalu keras di dalam dadanya, ketika napasnya tertahan di pangkal tenggorokan — jembatan itu kosong.

Mobil hitam itu sudah tidak ada.

Ayahnya sudah tidak ada.

Sari sudah tidak ada.

Hanya dirinya sendiri, duduk di atas beton yang dingin, di tengah jembatan yang tidak ada di GPS, dan di ujung sana — di seberang jurang, di dalam kabut yang tidak seharusnya ada — sesuatu menyala.

Sebuah lampu.

Kuning pucat. Berkedip sekali. Lalu tetap menyala.

Dan di bawah lampu itu, di ambang pintu sebuah rumah yang tidak seharusnya ada di sana, seorang perempuan berbaju putih berdiri.

Menatapnya.

Dan di tangannya, tergantung liontin perak yang baru saja lepas dari genggaman Raka.

Berdenyut pelan.

Seperti jantung yang menunggu.

kembali ke daftar story episode 5