story 4 · episode 5
Permintaan Terakhir Sari
06 menit membaca

Raka tidak bergerak dari tempatnya.
Beton itu dingin di bawah punggungnya. Kabut masih mengambang di atas jembatan, tipis, seperti napas yang tidak ingin pergi. Dan di seberang jurang, di bawah lampu kuning yang baru saja menyala, perempuan berbaju putih itu masih berdiri.
Menatapnya.
Tapi kali ini, ia tidak bersembunyi di balik rambutnya.
Rambut panjang itu tersingkap. Tersapu angin malam, jatuh ke kanan dan kiri, memperlihatkan wajah yang selama ini hanya Raka lihat lewat kaca spion — pucat, tenang, dan mata yang tidak ramah. Tapi bukan mata yang mengancam. Bukan mata yang lapar.
Mata yang lelah.
Seperti seseorang yang sudah terlalu lama menunggu.
Sari melangkah.
Bukan ke arahnya. Bukan menyeberangi jurang yang memisahkan mereka. Ia hanya melangkah pelan di tepi seberang, dan setiap langkahnya tidak meninggalkan jejak di tanah. Kabut itu membelah untuknya, lalu menutup lagi di belakangnya.
Raka menahan napas.
Ia ingin berdiri. Ia ingin berlari. Ia ingin melakukan apa pun selain duduk di sana, di atas beton yang dingin, dengan liontin perak yang masih menggelinding di tepi jurang beberapa meter dari tangannya.
Tapi kakinya tidak bergerak.
Sari berhenti.
Ia menatap Raka lama. Terlalu lama. Dan untuk pertama kalinya sejak halte tua itu, suaranya keluar bukan sebagai bisikan, bukan sebagai perintah, bukan sebagai sesuatu yang datang dari dalam helmnya.
Suara perempuan biasa.
"Mas Raka."
Raka menelan ludah. Tenggorokannya kering seperti kertas yang terbakar.
"Kamu masih ingat malam ketika ayahmu meninggal?"
Raka membeku.
Pertanyaan itu — sederhana, pelan, tanpa penekanan — menghantamnya seperti sesuatu yang jatuh dari langit. Ia tidak siap. Ia tidak pernah siap. Dan di dalam dadanya, sesuatu yang sejak tadi tertahan mulai retak lagi.
Ia menggeleng.
Pelan. Hampir tidak terlihat.
"Tidak," katanya. Suaranya serak. "Saya cuma ingat pemakaman. Peti tertutup. Payung hitam. Dan Ibu yang bilang, sudah, jangan diungkit lagi."
Sari menatapnya.
Tidak marah. Tidak kecewa. Hanya menatap, dengan mata yang lelah itu, seperti seseorang yang sudah tahu jawabannya sebelum ia bertanya.
"Aku juga tidak ingat," katanya. "Aku hanya ingat hujan."
Ia berhenti. Menunduk. Menatap liontin perak di tangannya — liontin yang tadi menggelinding dari genggaman Raka, yang sekarang berdenyut pelan di antara jari-jari pucatnya.
"Hujan yang tidak pernah berhenti," lanjutnya. "Sejak malam itu. Sejak aku keluar dari mobil itu. Sejak aku berdiri di pinggir jalan dan melihat sesuatu yang tidak seharusnya aku lihat."
Raka menegakkan punggungnya.
"Kamu… kamu ingat malam itu?"
Sari mengangkat kepalanya.
"Aku ingat semuanya."
Sunyi.
Hanya angin. Hanya kabut. Hanya air yang mengalir jauh di bawah jembatan, dalam, gelap, seperti napas yang tidak pernah berhenti.
Lalu Sari bicara lagi. Pelan. Seperti sesuatu yang sudah lama ia tahan dan akhirnya bocor juga.
"Kamu bukan orang yang seharusnya menjemputku."
Raka menahan napas.
"Aku menunggu di halte itu sebelas tahun," lanjutnya. "Aku menunggu seseorang yang seharusnya datang. Seseorang yang pernah berjanji. Seseorang yang seharusnya mengantarku pulang malam itu."
Ia berhenti. Menelan ludah.
"Tapi yang datang selalu orang lain. Pengemudi yang tidak tahu apa-apa. Pengemudi yang cuma butuh uang. Dua puluh dua orang. Dua puluh dua kali. Dan tidak satu pun dari mereka yang bisa membawaku kembali ke tempat semuanya dimulai."
Ia menatap Raka lurus.
"Kamu yang kedua puluh tiga."
Raka menggeleng pelan. "Saya juga tidak tahu apa-apa. Saya cuma—"
"Kamu anaknya."
Kalimat itu jatuh di antara mereka seperti batu ke dalam air.
Raka membeku.
"Kamu anak Arman Pratama," kata Sari. Suaranya tidak bergetar. Tidak menuduh. Hanya menyatakan. "Kamu satu-satunya orang yang bisa membawaku kembali ke tempat semuanya dimulai."
Raka membuka mulut. Hendak bertanya. Hendak bertanya apa yang ia maksud. Hendak bertanya tempat mana. Hendak bertanya kenapa ia. Hendak bertanya apa yang sebenarnya terjadi malam itu, sebelas tahun lalu, di Kilometer 17, ketika hujan turun dan mobil itu jatuh.
Tapi sebelum kata pertama keluar dari tenggorokannya, Sari mengangkat tangannya.
Pelan.
Dan menunjuk.
Bukan ke arah rumah. Bukan ke arah kabut. Bukan ke arah jurang.
Ke arah motornya.
Raka menoleh.
Motornya masih di sana. Di mulut jembatan, di tempat ia menghentikannya tadi. Lampunya masih menyala, menyapu beton yang retak, menyapu pagar berkarat. Masih seperti yang ia tinggalkan.
Tapi tidak.
Ada sesuatu di jok belakang.
Seseorang.
Duduk membelakanginya.
Punggung yang tegak. Bahu yang kurus. Dan jaket yang ia kenal terlalu baik — jaket ojek yang sama dengan yang ia pakai setiap malam, warna hijau pudar, dengan logo aplikasi yang sudah luntur di lengan kanannya.
Raka menahan napas.
Ia menoleh ke Sari. Sari masih menatapnya. Masih dengan mata yang lelah itu. Tapi ada sesuatu di sana yang membuat tengkuk Raka dingin — bukan ancaman, bukan kebencian. Sesuatu yang lebih tua dari keduanya.
"Dia sudah menunggu," katanya pelan.
"Sejak kapan?"
Sari tidak menjawab.
Raka berbalik. Langkahnya pelan. Beton itu dingin di bawah sepatunya. Kabut itu membelah untuknya, lalu menutup lagi di belakangnya. Dan setiap langkah, jantungnya berdebar lebih keras, lebih cepat, lebih sakit.
Ia berhenti dua meter dari motornya.
Sosok itu masih di sana. Masih duduk membelakanginya. Masih dengan jaket yang sama. Masih dengan punggung yang tegak.
"Siapa kamu?"
Suaranya sendiri terdengar asing. Terlalu kecil. Terlalu tipis di tengah sunyi jembatan yang tidak ada di GPS ini.
Sosok itu tidak bergerak.
"Siapa kamu?"
Lebih keras. Sedikit.
Dan sosok itu — pelan, sangat pelan, seperti leher yang tidak terburu-buru — mulai menoleh.
Raka menahan napas.
Kepala itu berputar. Sedikit. Sedikit lagi. Rambut gelap yang dipotong rapi. Kulit yang pucat. Dan ketika wajah itu akhirnya menghadapnya — ketika seluruh wajah itu terlihat jelas di bawah cahaya lampu motor yang menyala redup — Raka merasakan darahnya berhenti mengalir.
Wajah itu.
Wajah itu adalah wajahnya sendiri.
Hidung yang sama. Rahang yang sama. Bentuk mata yang sama. Bahkan bekas luka kecil di dagu — bekas jatuh dari motor waktu SMP — ada di sana, di tempat yang persis sama.
Tapi matanya kosong.
Hitam. Tidak berkilau. Seperti mata yang sudah lama tidak melihat apa pun selain gelap. Seperti mata orang yang sudah lama mati, tapi belum tahu bahwa ia sudah mati.
Dan di pelipisnya — di sisi kiri kepala, tepat di atas telinga — ada luka.
Panjang. Sobek. Darah yang sudah mengering, menghitam di tepinya, membeku di sepanjang rambut yang menempel di kulit.
Raka mundur. Satu langkah. Dua. Kakinya menyentuh sesuatu di beton — liontin perak itu, yang entah kapan sudah berada di bawah sepatunya — dan ia hampir terjatuh.
Sosok itu tidak bergerak.
Ia hanya menatap Raka. Dengan mata kosong itu. Dengan luka di pelipisnya. Dengan jaket yang sama. Dengan wajah yang sama.
Dan di belakang Raka, di seberang jurang, Sari akhirnya bicara lagi.
Suaranya pelan. Jelas. Menggema di sepanjang jembatan yang tidak ada di peta, di sepanjang tulang-tulang Raka yang mendadak dingin.
"Dia yang seharusnya menjemputku malam itu."
Raka menoleh.
Sari masih berdiri di sana. Masih menatapnya. Dan untuk pertama kalinya sejak halte tua itu, di wajahnya ada sesuatu yang mirip senyum — tipis, pahit, seperti seseorang yang baru saja meletakkan beban yang terlalu lama ia pikul.
"Bukan ayahmu," katanya.
Ia berhenti.
"Kamu."
Jam digital di dashboard motor Raka berkedip.
00.17.
Dan sosok di jok belakang itu — sosok dengan wajahnya sendiri, dengan mata kosong, dengan luka di pelipis — akhirnya mengangkat tangannya.
Pelan.
Seperti melambai.
Seperti memanggil.