story 2 · episode 5
Kamar yang Terkunci
06 menit membaca

Nyanyian itu berhenti begitu jari Raka menyentuh gembok.
Bukan memudar. Bukan menjauh. Berhenti. Seperti ada yang menutup mulutnya di tengah nada, menahan napas, dan menunggu apa yang akan Raka lakukan berikutnya.
Raka menggenggam gembok itu. Dingin. Berkarat. Dan ketika ia menariknya, gembok itu lepas — bukan karena ia kuat, tapi karena sudah lama tidak menempel pada apa pun.
Pintu itu mendorong dirinya sendiri.
Sejengkal. Dua jengkal. Dan dari dalamnya keluar bau yang membuat Raka mundur setengah langkah.
Bau tanah. Bau kain lembap. Bau sesuatu yang sudah lama tidak dibuka.
Ia menoleh ke belakang.
Ibunya masih duduk di kursi kayu itu. Masih menutup mata. Masih tidak bergerak. Seperti patung yang sudah selesai bicara untuk selamanya.
Raka menatap kamar itu lama. Lalu ia melangkah masuk.
* * *
Kamar itu kosong.
Bukan kosong seperti kamar yang belum dihuni. Kosong seperti kamar yang isinya sengaja diambil, satu per satu, bertahun-tahun lalu, dan tidak pernah diganti.
Kasur tanpa kasur. Lemari tanpa pintu. Jendela yang dipaku dari dalam. Dan di lantai, debu setebal kuku, kecuali di satu tempat — di sudut ruangan, di dekat jendela yang dipaku itu, debu itu menipis.
Seperti ada yang pernah berdiri di sana. Lama. Berkali-kali.
Raka berjongkok. Ia menyapu debu itu dengan ujung jarinya, dan di bawahnya, sesuatu terlihat.
Kayu papan. Bukan papan lantai biasa. Papan yang terpasang belakangan, tidak rapi, ujungnya menonjol beberapa milimeter.
Ia mencongkelnya.
Papan itu lepas.
Dan di dalam lubang di bawahnya, ada sebuah kotak.
Kaleng biskuit tua. Berkarat di tepinya. Tutupnya diikat dengan tali rafia yang sudah mengeras karena usia.
Raka membukanya.
* * *
Yang pertama ia angkat adalah sebuah mobil-mobilan.
Kayu. Dicat biru. Roda-rodanya sudah lepas dua. Dan di bagian bawahnya, ditulis dengan spidol yang tintanya sudah pudar, dua huruf.
R.P.
Raka menatapnya lama.
Ia mengenal mobil-mobilan itu. Ia mengenal cat biru itu. Ia mengenal huruf-huruf itu, ditulis oleh tangan kecil yang belum bisa menulis dengan rapi, di bawah pengawasan seseorang yang lebih tinggi.
Ia pernah memegang mainan ini. Bertahun-tahun lalu. Di rumah yang ia tidak ingat pernah ia tinggali.
Ia meletakkannya pelan di lantai.
Yang kedua, sepotong pakaian anak-anak. Kemeja kecil. Warna putih, dengan kerah yang sudah menguning. Ukurannya untuk anak lima atau enam tahun. Dan di bagian dalam kerahnya, ada label yang masih terbaca.
Namanya.
Raka.
Ia menutup matanya. Pelan. Lama.
Dan yang ketiga, di dasar kotak itu, sebuah kaset.
Pita magnetik. Labelnya ditulis tangan, tinta biru yang sudah pudar. Hanya satu kata.
Simpan.
* * *
Raka menemukan tape recorder tua di lemari tanpa pintu itu.
Debu menutupi seluruh bodinya. Tombolnya keras. Tapi ketika ia memasukkan kaset itu dan menekan play, mesin itu berderit sekali, dua kali, lalu berputar.
Suara pertama yang keluar adalah desis.
Panjang. Kosong. Seperti rekaman yang dimulai dari ruang hampa.
Lalu hujan.
Raka menegakkan punggungnya.
Hujan yang deras. Hujan yang sama. Hujan yang jatuh di jalan tanah menuju Kalipandan, hujan yang tidak pernah menyentuh baju putih itu, hujan yang membasahi aspal di sekitar mobil sedan yang ringsek di Kilometer 17.
Dan di balik hujan itu, suara seseorang.
Lelaki.
Pelan. Berat. Seperti orang yang bicara sambil menahan sesuatu di dalam dadanya.
"Sari bukan korban kecelakaan biasa."
Raka membeku.
Ia mengenal suara itu. Ia mengenal suara itu terlalu baik — suara yang ia dengar setiap malam sampai ia berumur enam tahun, suara yang membacakan dongeng sebelum tidur, suara yang ia lupakan wajahnya tapi tidak pernah ia lupakan nadanya.
Ayahnya.
"Ada yang seharusnya berada di dalam mobil itu malam itu," lanjut suara itu. "Duduk di kursi belakang. Menunggu."
Hujan bertambah deras di rekaman itu. Kaca pecah. Logam tertekuk.
"Tapi dia keluar sebelum mobil itu jatuh."
Suara itu berhenti.
Napas. Panjang. Berat.
"Aku melihatnya keluar. Aku melihatnya berdiri di pinggir jalan. Aku melihatnya menatap mobil itu jatuh. Dan aku tidak melakukan apa-apa."
Sunyi.
Hanya hujan.
Lalu suara itu bicara lagi, lebih pelan, hampir tidak terdengar.
"Aku tidak melakukan apa-apa, Nak. Aku cuma berdiri di sana. Seperti orang yang sudah tahu semuanya akan terjadi."
Rekaman itu berhenti.
Pita itu masih berputar. Mesin itu masih berderit. Tapi tidak ada suara lagi. Hanya desis. Hanya hujan yang tinggal di ujung pita.
Raka menatap tape recorder itu tanpa berkedip.
Tangannya dingin. Tengkuknya dingin. Seluruh tubuhnya dingin.
Ayahnya ada di sana. Ayahnya melihat. Ayahnya tahu. Dan ayahnya tidak melakukan apa-apa.
Ia mengulurkan tangan untuk menekan stop.
Dan sebelum jarinya menyentuh tombol itu, rekaman itu bicara lagi.
Bukan suara ayahnya.
Suara lain. Kecil. Tipis. Tinggi.
Suara anak kecil.
Menangis.
* * *
"Ayah."
Suara itu tercekat. Basah. Seperti anak yang baru saja bangun dari mimpi buruk dan tidak tahu di mana ia berada.
"Ayah, aku takut."
Raka menahan napas. Jari-jarinya menggantung beberapa senti di atas tombol stop.
"Ayah…"
Suara itu bergetar. Semakin pelan. Semakin dekat. Seperti anak itu berjalan mendekat ke perekam, menempelkan mulutnya ke lubang kecil itu, dan berbisik tepat ke dalamnya.
"Kenapa orang itu memakai wajahku?"
Rekaman itu berhenti.
Pita itu berhenti berputar. Mesin itu berhenti berderit. Dan di dalam kamar yang dipaku dari dalam itu, Raka berdiri sendirian, dengan kotak biskuit tua di lantai, mobil-mobilan biru di tangannya, dan kemeja kecil berlabel namanya sendiri tergeletak di kakinya.
Ia menoleh ke jendela yang dipaku.
Di balik papan-papan itu, sesuatu bergerak.
Bukan angin. Bukan cabang pohon. Sesuatu yang berdiri di luar, di halaman berumput liar, menatap ke dalam kamar ini — ke arahnya — lewat celah sempit di antara dua papan yang tidak rapat.
Raka menahan napas.
Ia melangkah pelan ke jendela itu. Satu langkah. Dua. Kakinya menyentuh kemeja kecil di lantai, dan kain itu terasa dingin, lebih dingin dari yang seharusnya, seperti sesuatu yang baru saja dilepas dari tubuh yang hidup.
Ia menempelkan matanya ke celah itu.
Di luar, di halaman rumah biru itu, rumput liar bergoyang pelan. Pagar berkarat itu masih miring ke dalam. Lampu jalan di ujung gang masih mati.
Tapi di depan pintu rumah itu — pintu yang tadi ia lihat setengah terbuka, pintu yang ia lihat di foto, pintu yang sama — seseorang berdiri.
Membelakanginya.
Baju putih. Rambut panjang terurai.
Dan di tangannya, tergantung sebuah helm hijau pudar dengan logo aplikasi yang sudah luntur.
Raka menjatuhkan mobil-mobilan itu.
Kayunya membentur lantai kayu. Bunyinya keras. Panjang. Menggema di sepanjang dinding kamar yang kosong.
Dan di luar, perempuan itu menoleh.
Pelan. Sangat pelan.