story 1 · episode 5
Anak di Rumah Biru
05 menit membaca

Raka pergi ke rumah ibunya.
Bukan karena ia memutuskan. Bukan karena ia berani. Tapi karena setelah foto itu — foto dirinya kecil, memegang tangan ayahnya dan Sari Wulandari, di depan rumah biru itu — tidak ada tempat lain yang bisa ia datangi.
Ia mengendarai motornya ke utara. Keluar dari jalan tanah. Keluar dari desa yang tidak ada di peta. Sampai aspal kembali di bawah rodanya, sampai lampu-lampu kota muncul di kejauhan, oranye pucat, seperti janji yang tidak pernah ditepati.
Tapi ia tidak berhenti di kota.
Ia terus ke pinggiran. Ke sebuah rumah kecil di ujung gang yang ia kenal terlalu baik. Rumah tempat ia tumbuh. Rumah tempat ibunya masih tinggal. Rumah yang ia tinggalkan sebelas tahun lalu dan tidak pernah kembali.
Ia memarkir motornya di depan pagar.
Lampu teras menyala. Jendela ruang tamu menyala. Dan di balik tirai tipis itu, sesosok bayangan bergerak pelan.
Raka mengetuk pintu.
Dua kali. Tiga kali.
Pintu itu terbuka.
Seorang perempuan tua berdiri di ambangnya. Rambutnya sudah memutih semua. Punggungnya bungkuk. Dan di sudut matanya, ada kantung yang dalam — seperti orang yang sudah lama tidak tidur nyenyak.
Ia menatap Raka lama.
Terlalu lama.
"Kamu," katanya akhirnya. Suaranya serak. Pelan. Seperti suara yang keluar dari dalam tanah.
Raka mengangguk.
Ibunya mundur. Pelan. Membuka pintu lebih lebar. Dan tanpa bicara, ia berbalik, berjalan ke dalam rumah, dan duduk di kursi kayu di ruang tamu.
Raka melangkah masuk.
Rumah itu tidak berubah. Dinding putih yang sama. Sofa tua yang sama. Dan di dinding, di tempat yang sama, foto-foto itu masih tergantung — foto keluarga, foto pernikahan, foto seorang lelaki tinggi yang tersenyum tipis.
Ayahnya.
Raka berhenti di depan foto itu.
"Bu."
Suaranya sendiri terdengar asing. Terlalu kecil. Terlalu tipis di tengah ruang tamu yang sunyi.
"Saya mau tanya soal Sari Wulandari."
Sunyi.
Ibunya tidak bergerak. Tidak menoleh. Hanya duduk di kursi kayu itu, kedua tangan terlipat di pangkuan, dan matanya menatap lurus ke dinding di depannya.
"Bu."
Suara itu lagi. Lebih keras. Sedikit.
"Sari Wulandari. Teman Bapak. Sebelas tahun lalu."
Ibunya menutup matanya. Pelan. Lama.
Ketika ia membukanya, ada sesuatu di sana yang tidak bisa Raka namai. Bukan marah. Bukan takut. Sesuatu yang lebih tua dari keduanya.
"Dari mana kamu dengar nama itu?"
"Dari aplikasi," kata Raka. "Dari pesanan. Dari halte."
Ia berhenti.
"Dari foto yang saya temukan di rumah nomor tujuh."
Ibunya membeku.
Bukan pucat seperti orang kaget. Bukan pucat seperti orang takut. Pucat seperti orang yang baru saja melihat sesuatu yang sudah lama ia kubur, dan sekarang berdiri di depannya, menatapnya lurus.
"Kamu ke sana?"
"Saya nganter penumpang ke sana."
Ibunya menggeleng pelan. "Tidak. Tidak mungkin."
"Bu—"
"Aku sudah bilang," potongnya. Suaranya bergetar. "Jangan diungkit lagi. Jangan cari. Jangan tanya."
Ia berdiri. Kursi itu berderit. Dan untuk pertama kalinya, Raka melihat sesuatu di wajah ibunya yang belum pernah ia lihat sebelumnya — sesuatu yang seperti ketakutan, tapi lebih dalam, lebih tua.
"Bu, saya sudah kelewat jauh."
Raka melangkah lebih dekat.
"Saya sudah lihat halte itu. Saya sudah lihat rumah biru itu. Saya sudah lihat foto saya sendiri di depan rumah itu, waktu saya masih kecil, memegang tangan Bapak dan Sari."
Ia berhenti. Menelan ludah.
"Kenapa, Bu?"
Ibunya tidak menjawab.
"Kenapa saya ada di foto itu?"
Sunyi.
Lama.
Lalu ibunya bicara. Pelan. Hampir tidak terdengar. Seperti sesuatu yang sudah lama ia tahan dan akhirnya bocor juga.
"Sari itu teman dekat keluarga kita," katanya. "Sebelum kamu lahir. Sebelum semuanya."
Raka menahan napas.
"Dia sering ke rumah ini. Bawa kue. Main sama kamu waktu kamu masih kecil. Kamu suka dia."
Ibunya menutup matanya lagi.
"Sebelas tahun lalu, malam hujan, dia datang ke rumah ini."
Raka menegakkan punggungnya.
"Dia nangis. Di teras. Dia minta bantuan ayahmu. Dia bilang ada yang harus dia selesaikan. Ada yang harus dia kejar. Ayahmu keluar. Mereka bicara lama."
Ia berhenti.
"Kamu lihat dia dari jendela kamarmu. Kamu lihat dia nangis di teras itu. Kamu tanya, Bu, kenapa Kak Sari nangis? Dan aku bilang, tidak apa-apa, tidur lagi."
Raka membeku.
Ia mengingat sesuatu. Samar. Seperti kabut yang bergerak pelan di ujung mimpi. Sebuah malam hujan. Sebuah perempuan di teras. Dan suara ibunya, pelan, dari balik pintu kamar.
Tidak apa-apa, Nak. Tidur lagi.
"Setelah malam itu," lanjut ibunya, "ayahmu tidak pulang. Dua hari. Tiga hari. Lalu polisi datang. Lalu koran. Lalu semuanya."
Ia menoleh. Matanya merah.
"Dan aku bilang pada diriku sendiri, aku tidak akan pernah menyebut nama itu lagi. Tidak di rumah ini. Tidak di depanmu. Tidak di mana pun."
Raka menelan ludah. Tenggorokannya kering.
"Tapi foto saya, Bu. Di rumah nomor tujuh. Kenapa saya ada di sana?"
Ibunya menatapnya lama.
Terlalu lama.
Lalu ia bicara. Pelan. Sangat pelan. Seperti sesuatu yang ia ucapkan bukan untuk Raka, tapi untuk dirinya sendiri.
"Karena kamu pernah dibawa ke sana."
Raka membeku.
"Tapi kamu tidak seharusnya mengingatnya."
* * *
Raka menatap ibunya tanpa berkedip.
"Dibawa ke sana? Kapan?"
Ibunya tidak menjawab.
"Bu. Kapan?"
"Sebelum."
"Sebelum apa?"
Ibunya menutup matanya. Pelan. Lama.
Dan ia tidak membukanya lagi. Tidak bicara lagi. Ia hanya duduk di kursi kayu itu, kedua tangan terlipat, dan tidak bergerak.
Raka menunggu. Satu detik. Dua. Sepuluh. Satu menit.
Tidak ada jawaban.
Ia menoleh ke sekeliling ruang tamu. Ke foto-foto di dinding. Ke pintu-pintu yang tertutup. Dan di ujung lorong, di sebelah kamar yang dulu kamarnya, ada satu pintu yang ia tidak pernah ingat pernah terbuka.
Pintu itu terkunci.
Raka menatapnya lama.
Terlalu lama.
Lalu ia melangkah pelan ke arah lorong itu. Sepatunya berderit di lantai kayu. Dan di belakangnya, ibunya tidak bicara. Tidak memanggil. Tidak mencegah.
Raka berhenti di depan pintu itu.
Kayunya tua. Catnya mengelupas. Dan di pegangannya, tergantung sebuah gembok yang sudah berkarat — gembok yang sudah lama tidak dibuka.
Ia mengulurkan tangan. Pelan.
Dan sebelum jarinya menyentuh gembok itu, dari balik pintu, ia mendengar sesuatu.
Suara perempuan.
Menyanyi.
Nina bobo.