TAGAR MISTERI

jangan dibaca sendirian

story 3 · episode 2

Pemancing yang Tenggelam

05 menit membaca

Pemancing yang Tenggelam

Danau itu tidak punya nama. Orang-orang di Sumberejo hanya menyebutnya "waduk tua" — genangan air yang terbentuk sendiri setelah bendungan kecil di utara jebol puluhan tahun lalu, menelan kebun karet dan beberapa petak sawah di bawahnya.

Aku mulai memancing di sana bulan lalu. Bukan karena aku suka memancing. Karena aku tidak bisa tidur.

Sejak kejadian di bus terakhir, sejak penjaga shift malam itu berkata satu lagi, aku tidak pernah bisa memejamkan mata lebih dari dua jam. Kalau aku tidur, aku bermimpi tentang kursi kosong. Kalau aku bangun, aku mendengar ketukan.

Jadi setiap akhir pekan aku pergi ke waduk. Duduk di dermaga kayu yang lapuk. Memasang umpan. Menunggu.

Di sana, selalu ada dia.

* * *

Pria tua itu duduk di ujung dermaga, tiga meter dariku, sejak sebelum aku datang. Pancing bambu. Topi jerami. Baju koko putih yang sudah menguning. Ember kosong di sampingnya.

Setiap kali aku datang, dia selalu mengucapkan hal yang sama.

"Kamu terlambat lagi."

Aku tertawa kecil pertama kali. Kupikir dia bercanda. Kupikir dia mengira aku ini orang lain.

"Maaf, Pak. Saya baru mulai mancing di sini."

Dia tidak menoleh. Matanya lurus ke air yang gelap seperti kaca hitam.

"Bukan itu," katanya. "Kamu terlambat pulang."

Aku tidak bertanya lagi.

* * *

Selama empat akhir pekan, aku selalu menemukannya di sana. Selalu di tempat yang sama. Selalu pukul dua pagi, saat aku tiba. Selalu dengan kalimat itu.

Kamu terlambat lagi.

Aku mulai terbiasa. Aku bahkan mulai menyapanya duluan. Kadang kami duduk berjam-jam tanpa bicara, hanya mendengar air menampar kayu dermaga dan kodok di kejauhan.

Tapi ada satu hal yang mengganggu.

Embernya selalu kosong. Selama empat minggu, aku tidak pernah melihat dia menarik satu ikan pun. Tidak juga melihat umpan di pancingnya bergerak.

Dan wajahnya — wajahnya terasa familiar. Bukan seperti aku pernah bertemu. Lebih seperti wajah yang pernah aku lihat di tempat yang salah, waktu yang salah.

* * *

Minggu kelima, aku bertanya pada Pak Slamet, penjaga warung di ujung jalan menuju waduk.

"Pak, yang mancing tiap malam di dermaga, yang pakai topi jerami, siapa namanya?"

Pak Slamet berhenti mengelap meja. Tangannya menggantung di udara.

"Topi jerami?"

"Iya. Baju koko putih. Pancing bambu."

Dia menatapku lama. Lalu dia meletakkan kainnya.

"Mas," katanya pelan. "Di dermaga itu sudah tidak ada orang mancing sejak lama. Sejak waduk itu jadi."

Aku mengerutkan dahi.

"Tapi saya—"

"Dulu," potong Pak Slamet, "sebelum bendungan jebol, ada pemancing yang tinggal di situ. Namanya Pak Wiryo. Dia mancing tiap malam di tepi kebun karetnya sendiri. Waktu air naik, dia tidak sempat lari."

Darahku mulai dingin.

"Dia tenggelam?"

"Tenggelam." Pak Slamet mengangguk. "Jasadnya baru ketemu tiga hari kemudian. Di bawah dermaga yang sekarang kamu pijaki."

Aku menelan ludah. Ludahku tidak mau turun.

"Kapan?"

"Tahun tujuh puluh delapan."

* * *

Malam itu aku tidak pergi ke waduk. Aku duduk di kamar kontrakan, memeluk lutut, menunggu subuh.

Tapi pukul 03.17, aku mendengar sesuatu dari luar.

Suara air. Seperti dayung menampar permukaan danau.

Padahal kontrakanku lima kilometer dari waduk.

* * *

Minggu berikutnya aku kembali. Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena aku harus tahu. Mungkin karena aku sudah terlambat pulang, seperti katanya.

Dia ada di sana. Duduk. Punggung membungkuk. Topi jerami.

Ketika aku mendekat, dia akhirnya menoleh.

Dan untuk pertama kalinya, aku melihat matanya dengan jelas.

Matanya kosong. Bukan buta. Kosong — seperti dua lubang yang di baliknya hanya ada air gelap dan pohon-pohon yang tenggelam.

"Kamu terlambat lagi," katanya. Suaranya seperti gelembung yang naik dari dasar danau.

Aku duduk di sampingnya. Kakiku gemetar.

"Pak Wiryo," kataku. "Bapak sudah meninggal."

Dia tidak menjawab. Dia hanya menatap air.

"Kenapa Bapak masih di sini?"

Lama sekali dia diam. Lalu dia mengangkat tangannya yang keriput, menunjuk ke air.

"Karena ada yang belum ketemu," katanya. "Airnya tinggi waktu itu. Banyak yang tenggelam. Bukan cuma saya."

Aku menoleh ke air. Air itu tenang. Terlalu tenang.

"Siapa?"

Dia menoleh ke arahku. Perlahan. Sangat perlahan. Dan di matanya yang kosong itu, aku melihat sesuatu yang bergerak — seperti bayangan seseorang yang berjalan di dasar danau, jauh di bawah, menuju ke arah kami.

"Kamu," katanya.

* * *

Aku pulang pagi itu dengan tangan gemetar dan kepala penuh suara air.

Di rumah, aku membuka laptop. Aku mencari arsip berita lama. Sumberejo punya blog komunitas yang mengunggah koran-koran tua hasil scan, halaman demi halaman, dari tahun enam puluhan sampai sembilan puluhan.

Aku mengetik: waduk, tenggelam, tujuh puluh delapan.

Hasil pertama muncul. Koran daerah, edisi lama, kertasnya sudah kuning di layar.

Judulnya: PEMANCING TEWAS TENGGELAM DI WADUK BARU.

Aku memperbesar gambar. Ada foto di bawah judul. Seorang pria tua, topi jerami, baju koko putih, tersenyum kaku ke arah kamera.

Pak Wiryo.

Aku membaca paragrafnya. Nama, umur, alamat. Saksi mata. Kronologi. Semua sesuai dengan yang diceritakan Pak Slamet.

Tapi ada satu hal di foto itu yang membuat tanganku berhenti di atas keyboard.

Di latar belakang foto, di belakang Pak Wiryo, di tepi danau yang masih berupa kebun karet, ada dua orang berdiri.

Seorang perempuan. Dan seorang anak kecil.

Anak kecil itu memakai kaus oblong abu-abu. Rambutnya berantakan. Ada bekas luka kecil di alis kanan.

Aku mencondongkan badan ke layar. Jantungku berhenti di leher.

Wajah anak itu — wajahku.

Aku memperbesar gambar sampai pecah. Sampai kotak-kotak piksel muncul. Sampai matanya jadi dua titik hitam yang menatapku dari koran tahun tujuh puluh delapan.

Di bawah foto itu, ada keterangan kecil, hurufnya hampir hilang.

Korban selamat: ibu dan anak. Anak dilaporkan hilang dua hari setelah kejadian.

Aku menoleh ke cermin di dinding kamar.

Dan di cermin itu, di belakangku, berdiri seorang pria tua bertopi jerami.

Dia tersenyum.

"Kamu terlambat pulang," katanya. "Dua hari, kan? Ibu kamu sudah menunggu di dasar sana."

Aku menoleh cepat.

Kosong.

Tapi di luar jendela, di kegelapan jalan yang tidak pernah kulihat berujung, air mulai naik. Perlahan. Menelan pagar. Menelan jalan. Menelan rumah-rumah di sepanjang gang.

Dan dari bawah, dari dalam air yang gelap itu, aku mendengar suara seorang perempuan memanggil namaku.

Pelan. Sayang. Seperti ibu memanggil anaknya pulang.

Pukul 03.17.

kembali ke daftar story episode 2