TAGAR MISTERI

jangan dibaca sendirian

story 2 · episode 2

Penjaga Shift Malam

06 menit membaca

Penjaga Shift Malam

Gedung itu bernama Wisma Graha. Empat lantai, bekas kantor asuransi yang bangkrut sepuluh tahun lalu, sekarang disewa potong-potong jadi gudang arsip dan dua kantor kecil yang jarang buka.

Aku menjaga gedung ini sejak sebelas tahun lalu. Shift malam. Sendirian.

Orang-orang bilang kerjaanku enak. Duduk, minum kopi, keliling tiga kali, tidur sampai subuh. Mereka tidak tahu bahwa di gedung tua, malam itu panjang sekali. Terlalu panjang.

Dan sejak bulan lalu, malam jadi lebih panjang dari biasanya.

* * *

Pertama kali aku melihatnya hari Kamis, tiga minggu lalu.

Aku sedang ronda lantai tiga. Lorong arsip. Lampunya cuma dua, di ujung dan di tengah, dan di antara keduanya ada tujuh meter gelap yang tidak pernah bisa kuhitung dengan benar.

Waktu itu pukul 03.15.

Aku menoleh ke ujung lorong, dan di sana — di depan tembok buntu dekat rak arsip lama — ada seseorang berdiri.

Membelakangi aku. Menghadap tembok. Sangat dekat, hampir menempel, seperti orang yang sedang membaca sesuatu yang tertulis di cat.

Aku mengangkat senter.

"Pak? Ini area terbatas, Pak."

Tidak ada jawaban.

Aku melangkah maju. Sepuluh langkah. Dua puluh.

Dan lorong itu kosong.

Bukan kosong karena dia pergi. Kosong seperti dia tidak pernah ada. Tidak ada pintu yang terbuka, tidak ada langkah, tidak ada bau. Hanya tembok buntu itu, dingin, dengan cat yang mengelupas seperti kulit.

Aku kembali ke pos, menulis di buku jaga: 03.15, lantai 3, tidak ada kejadian.

Bohong. Tapi aku tidak tahu harus menulis apa.

* * *

Malam berikutnya, dia ada lagi.

Pukul 03.15. Tempat yang sama. Posisi yang sama. Menghadap tembok, punggung membungkuk, tangan tergantung lemas di sisi badan.

Malam itu aku tidak memanggil. Aku hanya berdiri di ujung lorong, memegang senter yang tidak kunyalakan, dan menunggu.

Lima menit. Sepuluh menit.

Dia tidak bergerak sedikit pun.

Lalu lampu tengah lorong itu berkedip. Satu kali. Dan saat menyala lagi —

kosong.

Aku menelan ludah. Tenggorokanku kering.

Sejak malam itu aku mulai mencatat. Setiap malam, 03.15, lantai tiga, sosok itu. Setiap malam, saat aku mendekat, dia hilang. Setiap malam, aku kembali ke pos dengan tangan gemetar dan kopi yang sudah dingin.

Aku tidak berani bilang ke Pak Rahmat, koordinator satpam. Aku tidak mau dipindah. Aku tidak mau dikira sudah tua dan halusinasi.

Dan yang paling aneh — aku juga tidak mau berhenti melihatnya.

Seperti ada bagian dari diriku yang menunggu pukul 03.15.

* * *

Malam kesembilan, aku membawa kamera.

Bukan kamera bagus. Kamera ponsel dinas yang kacanya sudah retak di sudut. Aku letakkan di ujung lorong, di atas lemari arsip, menghadap tembok buntu. Aku rekam dari pukul 03.00 sampai 03.30, lalu aku turun ke pos dan menontonnya.

Di layar, lorong itu gelap. Lampu tengah berkedip pelan.

Pukul 03.14. Sunyi.

Pukul 03.15.

Dia muncul.

Bukan berjalan masuk dari pintu. Bukan lewat dari sisi frame. Dia ada. Tiba-tiba. Sudah berdiri di depan tembok, punggung membungkuk, seperti baru saja dipasang di sana oleh seseorang.

Aku memperbesar gambar. Menggeser layar dengan jari yang dingin.

Di rekaman itu, aku bisa melihat seragamnya.

Biru tua. Lengan panjang. Ada tulisan di punggungnya, pudar, tapi bisa dibaca.

WISMA GRAHA.

Seragam satpam. Seragam yang sama dengan yang aku pakai malam itu.

Aku menonton sampai akhir. Pukul 03.21, sosok itu menghilang. Tidak berjalan. Tidak memudar. Hilang, seperti lampu yang dimatikan.

Aku menyimpan rekaman itu. Aku tidak menghapusnya.

Kenapa? Aku juga tidak tahu.

* * *

Malam kesebelas, aku memutuskan memeriksa langsung.

Kalau rekaman bisa menunjukkan dia, mungkin mataku juga bisa. Mungkin kali ini aku bisa melihat wajahnya sebelum dia menghilang.

Aku naik ke lantai tiga pukul 03.10. Aku berdiri di ujung lorong, punggung menempel dinding, senter mati di tangan.

Menit demi menit.

03.13. Napasku terlalu keras. Aku menahannya.

03.14. Lampu tengah berkedip.

03.15.

Dia ada di sana.

Membelakangi aku. Menghadap tembok. Membungkuk.

Aku melangkah. Pelan. Satu kaki, lalu kaki lain. Lantai itu dingin sampai terasa lewat sol sepatu.

Lima meter.

Tiga meter.

Dua.

Aku mengulurkan tangan. Aku hampir menyentuh bahunya.

Lalu lampu itu berkedip —

— dan tanganku menyentuh tembok.

Dingin. Kasar. Kosong.

Aku berdiri di depan tembok buntu itu, satu tangan menempel di cat yang mengelupas, napas memburu, dan di belakangku lorong itu sunyi seperti kuburan.

Aku menurunkan tangan. Menoleh ke kiri. Ke kanan.

Tidak ada apa-apa.

Tapi ada sesuatu yang membuat tengkukku berdiri.

Di tembok itu, tepat di depan wajahku, ada bekas.

Sebuah garis tipis, sepanjang bahu, tergores di cat. Seperti bekas seseorang yang berdiri menempel di situ selama bertahun-tahun, sampai catnya aus oleh bahunya sendiri.

* * *

Aku turun ke pos. Lututku lemas. Aku duduk, menuang kopi, dan membuka layar CCTV.

Delapan kamera. Lobi. Koridor belakang. Tangga. Lantai dua. Lantai tiga. Parkiran. Pos sendiri.

Kamera pos itu yang paling kubenci. Kamera kecil di sudut langit-langit, menghadap meja dan kursiku. Dipasang Pak Rahmat supaya "kalau ada apa-apa, ada bukti".

Aku menonton rekaman malam itu. Aku putar dari pukul 03.05.

Di layar, aku terlihat berdiri dari kursi. Mengambil senter. Berjalan keluar pos, ke arah tangga.

Bagus. Normal.

Aku mempercepat. 03.15. Aku sudah tidak ada di frame.

Tapi kursiku —

kursiku tidak kosong.

Aku mencondongkan badan ke layar. Kopi di tanganku tumpah, aku tidak peduli.

Di kursi itu, di depan meja jaga, ada seseorang duduk.

Punggung membungkuk. Seragam biru tua. Tangan di pangkuan. Menghadap ke depan, ke arah kamera.

Dia duduk di kursiku, di posku, sementara di layar kamera tangga, aku masih terlihat berjalan menaiki anak tangga menuju lantai tiga.

Dua aku.

Satu duduk. Satu berjalan.

Aku menonton layar kamera tangga. Aku menonton diriku menaiki tangga. Langkah demi langkah. Punggung membungkuk. Pelan.

Lalu aku menyadari sesuatu yang membuat darahku berhenti.

Di rekaman itu, aku tidak membawa senter.

Padahal aku ingat betul, malam itu senter itu kugenggam sepanjang jalan.

Aku menoleh ke tanganku.

Senter itu ada di sana. Menyala.

Dan di layar kamera pos, sosok yang duduk di kursiku perlahan mengangkat kepala.

Menatap kamera.

Menatapku.

Wajahnya wajahku.

Lalu bibirnya bergerak. Aku tidak bisa mendengar suaranya, tapi aku bisa membaca gerakan itu, jelas, seperti membaca tulisan di papan tulis kosong.

Satu lagi.

Di layar kamera lobi, pintu kaca depan gedung terbuka sendiri.

Dan dari luar, dari kegelapan jalan yang tidak pernah kulihat berujung, sebuah bus tua berhenti pelan di depan Wisma Graha.

Pintunya terbuka dengan desis.

kembali ke daftar story episode 2